Ada Perpres 110/2025, Pasar Karbon Diproyeksikan Jadi Penggerak Utama Ekonomi Rendah Emisi Indonesia

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Pasar karbon diproyeksikan menjadi instrumen ekonomi utama dalam mempercepat transisi Indonesia menuju ekonomi rendah emisi dan mencapai target Net Zero Emission 2060.

Potensi besar ini muncul seiring diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 yang memperkuat tata kelola nilai ekonomi karbon dan membuka peluang perdagangan kredit karbon lintas sektor.

Peneliti Ahli Utama BRIN Dr. I Wayan Susi Dharmawan menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi hingga 70% dari total transaksi unit karbon global, setara sekitar Rp8.000 triliun.

Read also:  KLH Dorong Pemda Siapkan Proyek Karbon, Bisa Jadi Sumber Pendapatan Daerah

“Dengan tata kelola yang transparan dan akuntabel, Indonesia berpeluang menjadi pemasok utama kredit karbon dunia,” ujarnya dalam webinar “Mengenal Ekosistem Pasar Karbon” yang diselenggarakan oleh Penabulu Upacaya Semesta, Jumat (17/10/2025).

Wayan menjelaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) yang akan beroperasi secara real-time untuk memantau penerbitan, perpindahan, dan penghapusan unit karbon. Sistem ini memastikan setiap kredit karbon yang diperdagangkan bebas dari praktik double counting dan sesuai dengan standar internasional.

Read also:  ANTAM Catat Efisiensi Energi, Andalkan PLTS untuk Tekan Pemakaian BBM

Menurut Wayan, mekanisme crediting menjadi pilihan paling siap diterapkan di Indonesia karena sudah dikenal luas oleh pelaku usaha dan tidak membutuhkan struktur regulasi yang kompleks.

Skema ini memungkinkan pelaku di sektor kehutanan, energi, dan pertanian untuk menghasilkan dan memperdagangkan kredit karbon di pasar domestik maupun internasional.

Sementara itu, peneliti senior kehutanan Dr. Dadan Mulyana menilai sektor Forestry and Other Land Use (FOLU) akan menjadi pilar penting dalam pencapaian target FOLU Net Sink 2030.

Read also:  Pasar Karbon dan Pelestarian Hutan Jadi Agenda Indonesia di COP31, Hashim: Dukungan Investor Luar Biasa

Namun, ia mengingatkan bahwa pengelolaan pasar karbon harus memastikan keadilan dan manfaat nyata bagi masyarakat lokal. “Perdagangan karbon tidak boleh menjadi ajang carbon grabbing, tapi harus menjadi insentif untuk pengelolaan hutan lestari,” katanya.

Dadan menambahkan, kebutuhan pendanaan sektor FOLU untuk mencapai target penurunan emisi diperkirakan mencapai 24,6 miliar dolar AS hingga 2030. Karena itu, integritas data, mekanisme pembagian manfaat, dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pasar karbon nasional. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

Mentan Terbitkan Permentan 18/2026, Atur Perdagangan Karbon Sektor Pertanian

Ecobiz.asia – Kementerian Pertanian mengatur tata cara perdagangan karbon melalui mekanisme offset emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor pertanian, mencakup subsektor persawahan, peternakan,...

Kemenhut: GANISPH Dibutuhkan untuk Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menilai tenaga teknis pengelolaan hutan (GANISPH) akan memegang peran penting dalam ekosistem perdagangan karbon, seiring berkembangnya pemanfaatan hutan yang...

Perkuat Tata Kelola Bursa Karbon, OJK Kedepankan Integritas Pasar dan Perlindungan Konsumen

Ecobiz.asia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat regulasi perdagangan karbon melalui Bursa Karbon Indonesia dengan menerbitkan Peraturan OJK (POJK) Nomor 10 Tahun 2026 dan...

KLH Dorong Pemda Siapkan Proyek Karbon, Bisa Jadi Sumber Pendapatan Daerah

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) mendorong pemerintah daerah mulai mengidentifikasi dan menyiapkan proyek-proyek karbon agar dapat memanfaatkan peluang perdagangan...

TOP STORIES

Sukses Ubah Emisi Karbon Jadi Soda Ash Bernilai Ekonomi, Kemenperin Dorong Teknologi CCU

Ecobiz.asia – Kementerian Perindustrian mendorong perluasan penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) untuk menekan emisi sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi dari pemanfaatan kembali...

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

NHM-Perhapi Maluku Utara Perkuat Link and Match Pendidikan dan Industri Tambang

Ecobiz.asia – PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) menggandeng Student Chapter Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Provinsi Maluku Utara untuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan tinggi...

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...

Pertamina Uji Teknologi PertaPURE, Bidik Pemanfaatan Kembali Air Terproduksi pada Operasi Migas

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menguji teknologi PertaPURE untuk mengolah air terproduksi (produced water) dari kegiatan produksi...