Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, Kamis (15/10/2026). Dua personel lainnya mengalami luka bakar berat dan dirujuk ke rumah sakit di Surabaya untuk mendapatkan penanganan medis.
Kementerian Kehutanan menyatakan, enam personel terjebak api saat melakukan penyekatan kebakaran di kawasan Mentigen, Kabupaten Probolinggo. Angin kencang yang bertiup sekitar pukul 13.00 WIB membuat api menyala dan menjalar hingga mengepung sebagian petugas.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Ristianto Pribadi menyatakan Kemenhut berduka cita atas meninggalnya para petugas tersebut. “Kemenhut juga akan mengevaluasi kronologi kejadian dan pelaksanaan operasi pemadaman bersama pihak terkait untuk memperkuat keselamatan petugas di lapangan,” kata dia dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Kebakaran bermula pada Selasa (13/10), setelah petugas TNBTS menerima laporan mengenai kebakaran ladang warga di sekitar Blok Pusung Dawa, yang berbatasan dengan kawasan taman nasional di wilayah Desa Ngadirejo, Kabupaten Probolinggo. Petugas bersama warga dan perangkat desa melakukan pemadaman secara manual menggunakan alat gebyok karena lokasi sulit dijangkau dan jauh dari sumber air.
Api kemudian merambat masuk ke kawasan TNBTS dengan medan terjal. Petugas berhasil memadamkan kebakaran pada Rabu (14/10) pukul 11.45 WIB dan melanjutkan pemantauan hingga malam hari. Saat itu, petugas memastikan tidak ada lagi api maupun asap di lokasi.
Namun, pada Kamis (15/10) sekitar pukul 09.20 WIB, petugas di Posko Karhutla Cemoro Lawang kembali melihat asap tebal dari lokasi kebakaran sebelumnya. Empat petugas jaga segera menuju lokasi dan meminta bantuan tambahan personel, termasuk dari pemegang Perizinan Berusaha Sarana Wisata Alam PT Mitra Indo Permai (MIP) dan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Tim dibagi menjadi dua regu untuk menyekat api dari sisi kiri dan kanan agar tidak meluas. Ketika angin kencang membuat api menjalar, enam personel terjebak di tengah kebakaran. Lima personel lainnya berhasil menyelamatkan diri karena berada di sisi berlawanan dari arah penjalaran api.
Sekitar pukul 13.30 WIB, tim pencarian menemukan tiga personel meninggal dunia di lokasi, yakni Sukaris, PNS Operator Layanan Operasional pada Balai Besar TNBTS; Wisnu Yuda Pratama, staf PT MIP; dan Sefriel Ardiansyah, staf PT MIP.
Seorang personel lainnya, Hendra Rony Wagiyanata, anggota Manggala Agni TNBTS Kementerian Kehutanan, sempat dievakuasi ke RSUD Tongas untuk menjalani perawatan intensif. Namun, ia dinyatakan meninggal dunia setelah sekitar tiga jam mendapat penanganan medis.
Dua korban luka bakar berat lainnya adalah Munawi, anggota Masyarakat Peduli Api, dan Suraji, petugas keamanan PT MIP. Keduanya dirujuk ke Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Ristianto mengatakan evaluasi akan dilakukan untuk memperkuat perlindungan keselamatan petugas dan relawan, terutama dalam operasi pemadaman di kawasan dengan medan terjal, vegetasi kering, dan kondisi angin yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Kementerian Kehutanan juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran di sekitar kawasan hutan, termasuk dengan memperhatikan potensi penjalaran api saat cuaca kering dan angin bertiup kencang. ***




