MNK Rokan Jadi Pijakan Awal Pertamina Kembangkan Ekosistem Migas Non-Konvensional

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menjadikan pengembangan Migas Non Konvensional (MNK) di Wilayah Kerja Rokan sebagai pijakan awal untuk membangun kapabilitas dan ekosistem MNK di Indonesia.

Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Kontrak Bagi Hasil (KBH) MNK Rokan melalui anak usaha PHR, PT PHE Rokan Nonkonvensional. Proyek ini menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya membuka sumber daya migas baru di tengah semakin matangnya lapangan-lapangan migas konvensional.

Pengembangan MNK Rokan berawal dari pengeboran Gulamo DET-1 pada 2023, yang kemudian dilanjutkan dengan Kelok DET-1 pada 2024 untuk mengkaji potensi MNK di struktur North Aman.

Hasil pemboran dan pengujian kedua sumur tersebut memperkuat keyakinan PHR terhadap potensi pengembangan MNK di North Aman. Struktur tersebut diperkirakan memiliki recoverable resources sekitar 724 juta barel setara minyak (MMBOE).

PHR selanjutnya akan melakukan tahapan appraisal untuk mengonfirmasi besaran sumber daya serta potensi pengembangannya. North Aman juga menjadi fondasi awal bagi pengembangan MNK di struktur lain di Wilayah Kerja Rokan, termasuk South Aman, Rangau, dan Balam.

Menurut PHR, pengembangan MNK Rokan memiliki keunggulan karena didukung ekosistem operasi yang telah berkembang di Zona Rokan, mulai dari infrastruktur produksi dan fasilitas pendukung hingga akses operasional dan rantai pasok.

Read also:  BRI Kucurkan Pembiayaan Sosial dan Lingkungan Rp842,1 Triliun, 58% dari Total Kredit

Namun, pengembangan MNK membutuhkan teknologi dan kapabilitas yang berbeda dibandingkan migas konvensional. Karena itu, keberhasilan proyek Rokan dinilai akan menjadi bagian penting dalam membangun learning curve industri MNK Indonesia.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mengatakan Pertamina tidak hanya membangun sumur melalui proyek tersebut, tetapi juga menyiapkan ekosistem MNK secara lebih luas.

“Yang kita bangun bukan hanya sumurnya, tetapi ekosistemnya. MNK membutuhkan integrasi kemampuan subsurface, drilling dan completion, stimulasi, teknologi, supply chain, serta sumber daya manusia yang berbeda dari pengembangan migas konvensional. Rokan menjadi starting point bagi Pertamina dan Indonesia untuk membangun learning curve tersebut,” ujar Oki.

Menurut dia, apabila ekosistem MNK dan keekonomiannya semakin kompetitif, model yang dikembangkan di Rokan dapat direplikasi ke wilayah lain yang memiliki potensi MNK.

“Inilah langkah awal menuju pengembangan MNK Indonesia dalam skala yang lebih besar,” tambahnya.

Dukungan terhadap pengembangan MNK juga diperkuat dengan diterbitkannya Keputusan Menteri ESDM Nomor 246.K/MG.04/MEM.M/2026 tentang Percepatan Pelaksanaan Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi Non Konvensional Wilayah Kerja Rokan.

Read also:  Pangkas Penggunaan BBM, PLN EPI Siapkan Gasifikasi Pembangkit 477 MW di Nusa Tenggara

Regulasi tersebut memberikan kepastian dari sisi regulasi dan fiskal bagi kontraktor, termasuk kemudahan komersialisasi produksi MNK, skema cost recovery dengan split adaptif, serta insentif investasi.

Skema tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara daya tarik investasi dan penerimaan negara sekaligus mendukung keberlanjutan pengembangan proyek.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan MNK Rokan penting untuk membuka sumber pertumbuhan produksi baru di tengah semakin matangnya lapangan migas konvensional.

“Rokan kita dorong menjadi pionir sekaligus pembuktian bahwa Migas Non Konvensional dapat dikembangkan secara komersial di Indonesia,” kata Djoko.

Dia mengatakan potensi sumber daya yang besar perlu segera dikonversi menjadi cadangan dan produksi melalui percepatan appraisal, penerapan teknologi yang tepat, serta dukungan keekonomian dan regulasi yang kompetitif.

“Potensinya sudah kita lihat, regulasi dan insentif juga telah disiapkan. Sekarang yang paling penting adalah bagaimana seluruh tahapan dapat berjalan lebih cepat sampai menghasilkan produksi,” ujarnya.

Menurut Djoko, keberhasilan MNK Rokan akan membuka peluang pengembangan sumber daya MNK di wilayah lain sekaligus mendukung peningkatan produksi dan ketahanan energi nasional.

Read also:  Jaga Ekosistem Bahari, Pertamina Trans Kontinental Tanam 512 Fragmen Terumbu Karang di Sulut

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Sunaryanto mengatakan PHE optimistis pengembangan MNK dapat memberikan kontribusi terhadap produksi minyak nasional pada masa mendatang.

“Pengembangan MNK memiliki potensi besar untuk mendukung peningkatan produksi minyak di dalam negeri,” ujarnya.

Direktur Utama PHR Muhamad Arifin mengatakan penandatanganan KBH MNK Rokan merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus membangun kompetensi baru di sektor hulu migas.

“MNK bukan hanya proyek eksplorasi, melainkan fondasi baru yang akan menjadi investasi strategis untuk meningkatkan ketahanan energi nasional dan membangun kompetensi baru di hulu migas di Indonesia,” ungkapnya.

Menurut Arifin, dukungan regulasi, ekosistem operasional yang telah tersedia, serta roadmap menuju komersialisasi menjadi modal penting bagi pengembangan MNK Rokan.

Keberhasilan proyek tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan sumber daya dan produksi migas, tetapi juga menciptakan kapabilitas dan model pengembangan yang dapat diterapkan pada sumber daya MNK lainnya di Indonesia.

Dengan demikian, MNK Rokan diposisikan sebagai proyek awal untuk membangun industri MNK nasional sekaligus membuka sumber pertumbuhan baru bagi sektor hulu migas dan perekonomian Indonesia.***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Pangkas Penggunaan BBM, PLN EPI Siapkan Gasifikasi Pembangkit 477 MW di Nusa Tenggara

Ecobiz.asia — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyiapkan jaringan logistik Liquefied Natural Gas (LNG) untuk memasok gas ke pembangkit berkapasitas total 477...

Pertamina NRE Bangun Pusat Pengembangan Bioetanol di Lampung, Bidik Produksi 1 Juta KL

Ecobiz.asia — PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) meluncurkan Bioethanol Development Center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung, sebagai fasilitas percontohan untuk mengembangkan...

ANTAM Lepas 50 Tukik dan Restorasi 55 Terumbu Karang di Lombok, Perkuat Aksi Konservasi Laut

Ecobiz.asia – PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) bersama peserta Women On The Move 2026 melakukan aksi konservasi laut di Medana Bay, Lombok, dengan melepasliarkan...

PGN Perluas Pasar Gas Bumi, Andalkan CNG hingga Pasokan Baru

Ecobiz.asia — PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) memperluas pasar gas bumi dengan mengandalkan pengembangan infrastruktur, konektivitas pasokan, serta skema beyond pipeline seperti...

Magnifina Bawa PHR Berjaya di ENSIA 2026, Pemberdayaan Pembudidaya Ikan Hasilkan Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Ecobiz.asia – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) meraih penghargaan Platinum pada ajang Environment and Social Innovation Award (ENSIA) 2026 kategori Inovasi Sosial melalui program...

TOP STORIES

Kemenhut Siapkan Biodiversity Credits untuk Pembiayaan Konservasi, Seperti Apa?

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyiapkan biodiversity credits sebagai salah satu instrumen pembiayaan inovatif untuk mendukung konservasi dan pengelolaan taman nasional. Instrumen tersebut akan dibangun...

Pangkas Penggunaan BBM, PLN EPI Siapkan Gasifikasi Pembangkit 477 MW di Nusa Tenggara

Ecobiz.asia — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyiapkan jaringan logistik Liquefied Natural Gas (LNG) untuk memasok gas ke pembangkit berkapasitas total 477...

Pertamina NRE Launches Multi-Feedstock Bioethanol Centre in Lampung, Puts Sorghum to the Test

Ecobiz.asia — PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) has launched a Bioethanol Development Centre in Tegineneng, Pesawaran, Lampung, as a pilot facility...

PERHAPI: Industri Tambang Tak Cukup Hanya Kejar Produksi, Harus Beri Manfaat Berkelanjutan

Ecobiz.asia -- Industri pertambangan Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari tekanan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas hingga perubahan regulasi, pertambangan ilegal, serta...

Indonesia Starts New Climate Transparency Reports, Updates Emissions Data

Ecobiz.asia – Indonesia has begun preparing its second and third Biennial Transparency Reports (BTR2 and BTR3) to report progress on climate action, including greenhouse...