Transisi Energi Perlu Realistis, DMO Batubara Tetap Krusial bagi Ketahanan Energi

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) batubara dinilai berada di persimpangan antara menjaga ketahanan energi nasional, melindungi tarif listrik, dan menciptakan kepastian bagi industri pertambangan. Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Energy Hub Talkshow 2026 bertajuk “Menjaga Pasokan Batubara untuk Kebutuhan Nasional” yang menghadirkan pemerintah, asosiasi, akademisi, dan pelaku industri.

Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO), Anggawira, mengatakan penyesuaian harga DMO perlu dilakukan secara hati-hati. Saat ini harga DMO untuk pembangkit listrik ditetapkan sebesar US$70 per ton, sedangkan untuk industri seperti smelter, semen, dan pupuk sebesar US$90 per ton.

Menurutnya, kenaikan harga DMO berpotensi meningkatkan biaya pokok penyediaan listrik, sementara pemerintah telah menegaskan tidak akan menaikkan tarif listrik kepada masyarakat. “Kalau harga DMO dinaikkan, tentu harga jual listrik juga akan terdampak. Apalagi pemerintah sudah menyampaikan tidak akan melakukan penyesuaian tarif listrik,” ujarnya.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, mengatakan pemerintah terus menyelaraskan tata kelola energi dengan kebutuhan industri sekaligus target transisi energi. Menurutnya, implementasi PP Nomor 40 Tahun 2025 perlu mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan industri dan ketahanan energi nasional.

Ia menambahkan, dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN), pemanfaatan batubara diperkirakan masih bertahan hingga sekitar 2035 seiring masih beroperasinya sejumlah PLTU skala besar sebelum porsinya menurun secara bertahap.

“Kami memilih dekarbonisasi dengan tetap menjaga energy security dan ketersediaan pasokan batubara agar tidak terjadi krisis energi,” kata Satya.

Sementara itu, pengamat pertambangan Rizal Kasli menilai Indonesia belum dapat meninggalkan batubara secara drastis. Menurutnya, pendekatan yang lebih realistis adalah phase down, bukan phase out, mengingat batubara masih menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional.

Rizal juga mengingatkan adanya potensi penurunan produksi batubara nasional dari sekitar 790 juta ton pada 2025 menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026. Di sisi lain, kebutuhan DMO diperkirakan mencapai sekitar 230 juta ton. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi pasokan batubara bagi PLN sekaligus menekan penerimaan negara dari sektor batubara.

Ketua Indonesian Mining & Energy Forum (IMEF), Singgih Widagdo, menambahkan tantangan lain berasal dari kualitas cadangan batubara Indonesia yang didominasi batubara berkalori rendah.

Ia menyebut dari total cadangan sekitar 31,9 miliar ton, sekitar 24,5 miliar ton merupakan batubara berkualitas di bawah 4.200 kcal. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi industri sekaligus memperkuat pentingnya kebijakan DMO untuk menjamin pasokan listrik nasional.

Di sisi lain, Pakar Hukum Tata Negara STIH IBLAM, Radian Syam, menekankan bahwa ketahanan energi juga membutuhkan kepastian hukum. Menurutnya, pengelolaan sumber daya alam sebagaimana diamanatkan Pasal 33 UUD 1945 harus dibarengi dengan regulasi yang memberikan kepastian bagi investor.

“Tantangan Indonesia bukan hanya soal cadangan batubara, tetapi juga kepastian hukum karena hal itu menjadi pertimbangan penting bagi investor,” ujarnya.

Para pembicara sepakat bahwa batubara masih akan memegang peran strategis dalam menjaga ketahanan energi selama masa transisi menuju sistem energi yang lebih rendah emisi. Karena itu, kebijakan DMO dinilai perlu mampu menjaga keseimbangan antara keamanan pasokan dalam negeri, keberlanjutan investasi, dan agenda dekarbonisasi.***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

TruCarbon dan AEI Gelar Webinar PSPK 1 & 2, Siapkan Emiten Hadapi Sustainability Disclosure 2027

Ecobiz.asia – Penerapan standar pengungkapan keberlanjutan PSPK 1 dan PSPK 2 mulai periode pelaporan tahunan 1 Januari 2027 mendorong emiten memperkuat kesiapan data, sistem...

Pertamina Perluas Akses Pasar Global 7 UMK di CAEXPO 2026

Ecobiz.asia -- PT Pertamina (Persero) memperluas peluang produk lokal tujuh Usaha Mikro dan Kecil (UMK) mitra binaan untuk menjangkau pasar internasional dalam The 23rd...

PHI Raih Tujuh Penghargaan IABC Indonesia Awards 2026

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) meraih tujuh penghargaan dalam ajang International Association of Business Communicators (IABC) Indonesia Awards 2026, sebagai bentuk apresiasi...

PERHAPI: Industri Tambang Tak Cukup Hanya Kejar Produksi, Harus Beri Manfaat Berkelanjutan

Ecobiz.asia -- Industri pertambangan Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari tekanan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas hingga perubahan regulasi, pertambangan ilegal, serta...

Agincourt Resources Buka OlympiAR 2026, Dorong Talenta Geosains dan Praktik Tambang Berkelanjutan

Ecobiz.asia -- PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe, bersama Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) kembali menggelar Olympiad Agincourt Resources (OlympiAR) 2026, kompetisi geosains...

TOP STORIES

AIIB, KfW Coordinate $850 Million in Climate Resilience Financing for Indonesia

Ecobiz.asia – The Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) and Germany’s KfW Development Bank are coordinating up to US$850 million in financing to support Indonesia’s...

Riau Seeks Faster ART-TREES Registration as International Carbon Buyers Await

Ecobiz.asia – Indonesia’s Riau provincial government is urging the central government to accelerate registration of its GREEN for Riau forest carbon program under the...

Potensi Dana Karbon Riau Besar, Konservasi Gambut dan Satwa Jadi Kunci

Ecobiz.asia – Potensi pendanaan dari pasar karbon berbasis hutan dan gambut di Riau perlu diiringi perlindungan ekosistem, termasuk pemulihan gambut dan konservasi satwa liar....

Agrinas Palma dan Pertamina Bidik Fasilitas FAME 600.000 Ton di Riau, Dukung Program Biodiesel B50

Ecobiz.asia – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) dan PT Pertamina Power Indonesia menjajaki pengelolaan dan pemanfaatan fasilitas produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) milik...

AIIB dan KfW Kolaborasi Dukung Ketahanan Iklim Indonesia, Siapkan Pembiayaan Hingga Total US$850 Juta

Ecobiz.asia – Bank Pembangunan Infrastruktur Asia (Asian Infrastructure Investment Bank/AIIB) dan bank pembangunan Jerman, KfW, menjalin kerja sama untuk mendukung program adaptasi perubahan iklim...