Persetujuan Menhut Terbit, Verra Proses Penerbitan Kredit Karbon Tiga Proyek Kehutanan Indonesia

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Lembaga standar karbon internasional Verra tengah menyiapkan penerbitan kredit karbon pertama di bawah kerangka regulasi baru perdagangan karbon Indonesia, setelah tiga proyek karbon kehutanan memperoleh persetujuan pemerintah untuk memperdagangkan kredit karbon ke pasar internasional.

Ketiga proyek tersebut adalah Katingan Peatland Restoration and Conservation Project di Kalimantan Tengah, Sumatra Merang Peatland Project (SMPP) di Sumatera Selatan, dan The Mayas Project di Kalimantan Barat. Ketiganya diperkirakan akan menghasilkan sedikitnya 20 juta ton setara karbon dioksida (CO₂e) berupa pengurangan emisi yang telah terverifikasi selama periode verifikasi masing-masing proyek.

Di Indonesia, tata kelola perdagangan karbon diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon, sedangkan khusus sektor kehutanan diatur lebih lanjut melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon Melalui Offset Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Kehutanan.

Read also:  Pemanasan Global Diprediksi Lampaui 1,5°C, UNEP Peringatkan Bahaya Perubahan Iklim

Regulasi tersebut mewajibkan setiap proyek karbon kehutanan yang akan memperdagangkan kredit karbon ke pasar internasional memperoleh persetujuan dari Menteri Kehutanan. Pengembang proyek juga wajib melakukan registrasi dan memperoleh otorisasi pemerintah agar selaras dengan sistem pencatatan emisi nasional serta komitmen iklim Indonesia.

Setelah persetujuan diberikan, Verra dapat menerbitkan kredit karbon berdasarkan hasil pengurangan emisi yang telah diverifikasi.

Ketiga proyek tersebut telah memperoleh persetujuan Menteri Kehutanan pada Senin (6/7/2026), bersamaan dengan peluncuran Indonesia Forestry Carbon Hub.

Chief Executive Officer Verra, Mandy Rambharos, menyampaikan apresiasi atas langkah Indonesia membangun kerangka perdagangan karbon yang mengedepankan integritas sekaligus memperkuat pengawasan nasional.

Ia menilai model yang dikembangkan Indonesia mampu menggabungkan standar internasional Verra dengan sistem registri domestik sehingga meningkatkan transparansi dan kepercayaan pasar.

Read also:  Menteri LH Teken Aturan Perdagangan Karbon Sektor Limbah, Link Download PermenLH No 11 Tahun 2026

“Dengan menggabungkan ketatnya standar dan jangkauan global program sertifikasi independen Verra dengan transparansi sistem registri domestik Indonesia, pengembang proyek maupun pembeli akan memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi terhadap pasar karbon. Pada akhirnya, hal ini akan membantu meningkatkan pengurangan emisi sekaligus menyalurkan pembiayaan iklim kepada masyarakat di Indonesia,” ujar Rambharos dalam keterangan tertulis yang dikutip Selasa (7/7/2026).

Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Kehutanan, Laksmi Wijayanti, mengatakan penerbitan kredit karbon tersebut menjadi tonggak penting implementasi reformasi pasar karbon nasional.

Menurutnya, penerbitan kredit karbon kehutanan pertama di bawah regulasi baru menunjukkan bahwa Indonesia mampu mengintegrasikan praktik terbaik internasional dengan tata kelola nasional yang kuat sehingga menghasilkan pengurangan emisi yang terukur sekaligus tetap berada dalam akuntabilitas pemerintah.

Read also:  ESGIN dan ASPEBINDO Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Indonesia

Laksmi menambahkan pemerintah akan terus memperluas pengembangan solusi iklim berbasis alam (Nature-based Solutions/NbS) bersama Verra, sekaligus memastikan manfaat ekonomi dari perdagangan karbon dapat dirasakan masyarakat lokal serta mendukung konservasi hutan dan lahan gambut.

Untuk memperkuat transparansi dan mencegah penghitungan ganda (double counting), seluruh kredit karbon yang diterbitkan akan dicatat dalam Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) sebagai registri nasional.

Kementerian Kehutanan bersama Verra dan kementerian/lembaga terkait juga tengah mengembangkan konektivitas data melalui Application Programming Interface (API) antara Verra Registry, SRUK, dan Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon). Integrasi tersebut akan memungkinkan pertukaran data secara otomatis dan ketertelusuran (traceability) kredit karbon secara menyeluruh, termasuk dengan dukungan teknologi blockchain. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Menteri LH: Pasar Karbon Harus Berbasis Aksi Nyata, Bukan Sekadar Transaksi

Ecobiz.asia – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat menegaskan pasar karbon Indonesia harus dibangun berdasarkan aksi iklim yang terukur,...

TÜV SÜD Bangun Pusat Dekarbonisasi di Singapura, Siap Investasi US$24 Juta

Ecobiz.asia — Perusahaan pengujian, inspeksi, dan sertifikasi global TÜV SÜD menginvestasikan lebih dari US$24 juta untuk membangun Global Decarbonisation Centre of Excellence (CoE) di...

Wamen LH: Perdagangan Karbon Bisa Jadi Insentif Dekarbonisasi Industri Nikel

Ecobiz.asia — Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono mengatakan mekanisme perdagangan karbon dapat menjadi insentif bagi industri nikel...

Dapat Dukungan Kemenhut, Riau Mantap Masuk Pasar Karbon Yurisdiksi ART-TREES

Ecobiz.asia - Provinsi Riau mulai memasuki tahap baru pengembangan kredit karbon hutan berbasis yurisdiksi setelah menyelesaikan konsep Green for Riau dan memperoleh dukungan pemerintah...

Pasar Karbon Indonesia Mulai Cari Talenta Baru, IDCTA Youth Gelar Carbon Youth Week 2026

Ecobiz.asia — Perkembangan pasar karbon Indonesia mulai menciptakan kebutuhan baru terhadap sumber daya manusia yang memahami tidak hanya isu perubahan iklim, tetapi juga mekanisme...

TOP STORIES

INALUM Raih Rating BBB- dari S&P, Perkuat Akses Pendanaan Hilirisasi

Ecobiz.asia — PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM memperoleh peringkat kredit internasional BBB- dengan outlook stabil dari S&P Global Ratings. Peringkat investment grade tersebut...

Karhutla Dekati Sumur ML-12, Pertamina EP Lirik Kerahkan Fire Brigade

Ecobiz.asia — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Pasir Sialang Jaya, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, mendekati fasilitas operasi Sumur ML-12 milik...

BRI Kucurkan Pembiayaan Sosial dan Lingkungan Rp842,1 Triliun, 58% dari Total Kredit

Ecobiz.asia – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatat portofolio pembiayaan yang terkait aspek sosial dan lingkungan mencapai Rp842,1 triliun hingga akhir triwulan...

Hotspot Kalbar Turun Tajam hingga 71%, Kemenhut Terus Perkuat Pengendalian Karhutla

Ecobiz.asia – Hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat turun tajam dalam sehari, dari 134 menjadi 39 titik high confidence. Meski demikian,...

Kemenhut Upayakan Pemulangan Lima Bayi Orangutan dari India, Lakukan Cek DNA

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berkoordinasi dengan otoritas India untuk memastikan penanganan dan mengupayakan pemulangan lima bayi orangutan yang ditemukan di kawasan hutan Distrik...