Blackout Bukti Ketergantungan Indonesia Pada Batubara, IEEFA Desak Percepatan PLTS Atap

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kasus pemadaman listrik (blackout) yang terjadi di Sumatera dan sistem Jawa-Madura-Bali menjadi alarm bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap dan sistem penyimpanan energi berbasis baterai.

Ketergantungan yang tinggi terhadap pembangkit berbahan bakar batu bara dan bahan bakar fosil lainnya dinilai membuat sistem kelistrikan nasional rentan terhadap gangguan pasokan energi.

Lembaga riset Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menilai investasi pada PLTS atap dan Battery Energy Storage System (BESS) perlu dipandang sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional, bukan sekadar upaya transisi menuju energi bersih.

Research & Engagement Lead Indonesia Energy Transition IEEFA, Mutya Yustika, mengatakan kerugian ekonomi akibat pemadaman listrik diperkirakan mencapai triliunan rupiah dan berdampak terhadap sektor industri, rumah tangga, hingga layanan publik.

Read also:  KPH Berperan Penting Mitigasi Karhutla, Pengembangan Bioekonomi Jadi Strategi

“Investasi PLTS atap dan baterai seharusnya dilihat sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat ketahanan energi. Teknologi ini dapat mengurangi risiko gangguan pasokan bahan bakar, meningkatkan keandalan pasokan listrik, dan membantu memitigasi dampak gangguan jaringan di masa mendatang,” kata Mutya dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).

Menurut IEEFA, Indonesia memiliki keunggulan sumber daya surya yang melimpah sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang rentan terhadap fluktuasi harga global maupun gangguan distribusi bahan bakar. Untuk negara kepulauan seperti Indonesia, pemanfaatan PLTS yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi dinilai mampu menjaga pasokan listrik ketika jaringan utama mengalami gangguan.

Namun, pengembangan PLTS atap di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Hingga 2025, kapasitas terpasang PLTS atap baru mencapai sekitar 853 megawatt (MW), jauh di bawah Vietnam yang telah mencapai sekitar 6,9 gigawatt (GW), Thailand 3,6 GW, dan Malaysia 1,8 GW.

Read also:  Optimalkan Potensi Bioekonomi untuk Kelestarian Hutan, Kemenhut Dorong Penguatan KPH

Energy Finance Specialist IEEFA, Randi Bachtiar, menilai lambatnya pertumbuhan PLTS atap dipengaruhi sejumlah hambatan regulasi, termasuk penghapusan skema net-metering melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024. Kebijakan tersebut membuat kelebihan listrik yang disalurkan pelanggan ke jaringan PLN tidak lagi diperhitungkan sebagai pengurang tagihan listrik sehingga menurunkan daya tarik investasi rumah tangga.

Selain itu, sistem kuota pemasangan PLTS atap yang diterapkan PLN juga dinilai membatasi pertumbuhan pasar. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, kapasitas PLTS atap hanya dialokasikan sebesar 3.037 MW. Di sisi lain, biaya investasi yang masih berkisar Rp20 juta hingga Rp30 juta per kilowatt, ditambah tarif listrik bersubsidi, membuat periode pengembalian investasi mencapai sekitar tujuh hingga 12 tahun.

Read also:  Didukung APP Group, Persemaian Sriwijaya Kemampo Siap Dukung Gerakan ASRI Presiden Prabowo

Untuk mempercepat adopsi PLTS atap, IEEFA merekomendasikan pemerintah mengembalikan skema net-metering, merevisi sistem kuota pemasangan, memperluas model pembiayaan melalui Energy Service Company (ESCO), serta menyusun regulasi yang mendukung integrasi sistem penyimpanan energi berbasis baterai. Langkah tersebut dinilai akan membuat PLTS atap lebih terjangkau bagi rumah tangga, pelaku usaha, maupun pemerintah daerah.

Mutya menambahkan, pengembangan PLTS juga harus diiringi investasi pada jaringan listrik yang lebih modern dan andal agar mampu mengintegrasikan energi terbarukan secara optimal serta meningkatkan ketahanan sistem kelistrikan nasional. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Resmi! Pemerintah Serahkan Dua Izin Panas Bumi, Siapkan Lima WKP dan Tujuh WPSE

Ecobiz.asia — Pemerintah menyiapkan lima Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dan tujuh Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (WPSPE) untuk ditawarkan pada 2026 guna...

Dorong Pemanfaatan Panas Bumi 23,2 GW, Pemerintah Minta Pemegang Konsesi Segera Realisasikan Proyek

Ecobiz.asia — Pemerintah mendorong percepatan pengembangan panas bumi nasional dengan meminta pemegang konsesi segera merealisasikan proyek yang telah memperoleh izin. Langkah tersebut diperlukan untuk...

Perkuat Penjagaan Kawasan Hutan, Prabowo Setujui Penambahan 21.000 Polhut

Ecobiz.asia – Presiden Prabowo Subianto menyetujui penambahan 21.000 personel Polisi Kehutanan (Polhut) yang akan direkrut secara bertahap untuk memperkuat pengamanan kawasan hutan Indonesia. Wakil Menteri...

Indonesia Dorong UE Perkuat Pengakuan Lisensi FLEGT dalam Penerapan EUDR

Ecobiz.asia – Indonesia mendorong Uni Eropa memperkuat pengakuan terhadap lisensi FLEGT dalam penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR) untuk menjaga akses pasar produk hasil...

Gempa M7,7 di Timur Laut Nagekeo, Badan Geologi Ingatkan Warga Patuhi Jalur Evakuasi

Ecobiz.asia – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta masyarakat di Nusa Tenggara Timur dan wilayah terdampak gempa untuk tetap waspada...

TOP STORIES

Indonesia Calls for Greater Global South Role in Environmental Governance at BRICS Meeting

Ecobiz.asia – Indonesia has called for a stronger role for the BRICS grouping in global environmental governance, arguing that developing countries need greater representation...

Jaga Ekosistem Bahari, Pertamina Trans Kontinental Tanam 512 Fragmen Terumbu Karang di Sulut

Ecobiz.asia – PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) menanam 512 fragmen terumbu karang di perairan Sulawesi Utara sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem laut dan...

Resmi! Pemerintah Serahkan Dua Izin Panas Bumi, Siapkan Lima WKP dan Tujuh WPSE

Ecobiz.asia — Pemerintah menyiapkan lima Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dan tujuh Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (WPSPE) untuk ditawarkan pada 2026 guna...

Dorong Pemanfaatan Panas Bumi 23,2 GW, Pemerintah Minta Pemegang Konsesi Segera Realisasikan Proyek

Ecobiz.asia — Pemerintah mendorong percepatan pengembangan panas bumi nasional dengan meminta pemegang konsesi segera merealisasikan proyek yang telah memperoleh izin. Langkah tersebut diperlukan untuk...

Perkuat Penjagaan Kawasan Hutan, Prabowo Setujui Penambahan 21.000 Polhut

Ecobiz.asia – Presiden Prabowo Subianto menyetujui penambahan 21.000 personel Polisi Kehutanan (Polhut) yang akan direkrut secara bertahap untuk memperkuat pengamanan kawasan hutan Indonesia. Wakil Menteri...