Empat Tantangan Proyek Karbon Kehutanan, Fairatmos Siap Dampingi PBPH

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Pengembangan proyek karbon di sektor kehutanan menghadapi sedikitnya empat tantangan utama, mulai dari persoalan status lahan, keterbatasan data karbon, tingginya biaya pengembangan proyek, hingga ketidakpastian pasar dan harga kredit karbon.

“Tantangan tersebut perlu diatasi perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) sejak tahap awal agar proyek karbon dapat berjalan secara berkelanjutan dan layak secara ekonomi,” kata Chief Commercial and Operating Officer (CCOO) Fairatmos, Aruna Pradipta pada Diskusi Perdagangan Karbon yang diselenggarakan bersama Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) secara daring, Senin (22/6/2026).

Menurut Aruna, tantangan pertama berkaitan dengan kepastian status kawasan dan kondisi tutupan lahan. Pengembang proyek harus memastikan areal yang akan dikembangkan benar-benar bersih dari konflik tenurial maupun tumpang tindih perizinan agar tidak menimbulkan sengketa maupun risiko penghitungan ganda (double counting) kredit karbon.

Read also:  Jadi Offtaker dan Transporter, PGN Siapkan Infrastruktur Gas Biomethane dari Limbah Sawit

Tantangan berikutnya adalah ketersediaan data baseline yang menjadi dasar perhitungan potensi karbon dan pengurangan emisi. Pemegang PBPH harus memiliki data yang akurat mengenai cadangan karbon, kondisi hutan, hingga ancaman deforestasi sebagai syarat utama pengembangan proyek karbon.

Selain itu, aspek keekonomian juga menjadi tantangan karena biaya pengembangan proyek sangat bergantung pada karakteristik kawasan, jenis intervensi yang dilakukan, potensi risiko, serta ketersediaan sumber daya di lapangan.

Di sisi pasar, pemilik proyek juga masih menghadapi ketidakpastian mengenai harga jual kredit karbon. Minimnya data transaksi dan masih berkembangnya pasar karbon membuat banyak perusahaan kesulitan memperkirakan potensi pendapatan proyek sejak tahap awal.

Aruna mengatakan peran pengembang proyek (project developer) menjadi penting untuk membantu pemilik izin kehutanan mengatasi berbagai tantangan tersebut.

Read also:  PDC Perluas Penerapan CMS ISO 37301, Kepatuhan Jadi Bagian dari Proses Bisnis

Sebagai pengembang proyek karbon, Fairatmos mendampingi perusahaan mulai dari penilaian kelayakan proyek, penyusunan studi kelayakan, penghitungan potensi kredit karbon, penyusunan Project Design Document (PDD), hingga proses validasi dan verifikasi sesuai standar sertifikasi karbon.

Selain itu, pengembang proyek juga bertanggung jawab melakukan berbagai survei lapangan, seperti survei stok karbon, keanekaragaman hayati, bentang alam, dan kondisi sosial masyarakat yang menjadi dasar penyusunan dokumen proyek karbon.

Fairatmos juga membantu merancang program pemberdayaan masyarakat dan perlindungan keanekaragaman hayati sebagai bagian dari manfaat sosial dan lingkungan (co-benefits) yang menjadi salah satu syarat penting dalam pengembangan proyek karbon berintegritas tinggi.

Dalam aspek komersial, pengembang proyek berperan menjembatani pemilik proyek dengan calon pembeli kredit karbon serta membantu negosiasi harga agar proyek memiliki kelayakan finansial.

Read also:  PLN Nusantara Power Dorong Ekonomi Warga melalui Pengelolaan Sungai Maron Berkelanjutan

Aruna menegaskan pengembang proyek bukan merupakan pemilik kawasan hutan maupun penyedia pendanaan penuh proyek, melainkan mitra teknis yang mendampingi pemegang PBPH dalam seluruh tahapan pengembangan hingga pemasaran kredit karbon.

Ia menambahkan prospek pasar karbon kehutanan masih sangat besar. Indonesia diperkirakan memiliki potensi hingga 1 gigaton kredit karbon sektor kehutanan dan penggunaan lahan (AFOLU) hingga 2030 dengan nilai ekonomi mencapai sekitar US$12 miliar.

Sementara itu, pasar karbon sukarela (voluntary carbon market) global pada 2026 diperkirakan bernilai sekitar US$1,7 miliar dan diproyeksikan tumbuh menjadi US$47,5 miliar dalam 10 tahun mendatang. Sektor kehutanan dan penggunaan lahan diperkirakan menyumbang lebih dari 30 persen dari total permintaan kredit karbon global, membuka peluang besar bagi perusahaan kehutanan Indonesia untuk memasuki pasar tersebut. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

KLH Dorong Pemda Beralih ke Ekonomi Restoratif, Karbon Bisa Jadi Sumber Pembiayaan

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendorong pemerintah daerah menggeser pendekatan pembangunan dari model ekstraktif menuju ekonomi restoratif yang tidak hanya...

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

Mentan Terbitkan Permentan 18/2026, Atur Perdagangan Karbon Sektor Pertanian

Ecobiz.asia – Kementerian Pertanian mengatur tata cara perdagangan karbon melalui mekanisme offset emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor pertanian, mencakup subsektor persawahan, peternakan,...

Kemenhut: GANISPH Dibutuhkan untuk Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menilai tenaga teknis pengelolaan hutan (GANISPH) akan memegang peran penting dalam ekosistem perdagangan karbon, seiring berkembangnya pemanfaatan hutan yang...

TOP STORIES

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

PEP Tanjung Salurkan 1,16 Juta Liter Air Bersih untuk Atasi Kekeringan dan Karhutla di Tabalong

Ecobiz.asia – PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field menyalurkan 1,156 juta liter air bersih untuk membantu masyarakat menghadapi kekeringan sekaligus mendukung penanganan kebakaran hutan...

Tak Tebang Pilih, Menhut Bekukan Izin Enam Perusahaan di Kalteng terkait Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membekukan izin enam perusahaan yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Dengan penambahan tersebut,...