Indonesia Siap Jual 30 Juta Ton Kredit Karbon FOLU ke Pasar Global Awal Juli 2026

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Indonesia siap melakukan penjualan perdana kredit karbon sektor forest and other land use (FOLU) ke pasar global pada awal Juli 2026 dengan volume lebih dari 30 juta ton penurunan emisi.

Penasihat Utama Menteri Kehutanan, Edo Mahendra, mengatakan kredit karbon yang akan diperdagangkan berasal dari proyek-proyek lama (legacy project) yang telah berjalan sebelumnya.

“Awal Juli akan ada perdagangan pertama. Sektor FOLU akan melakukan perdagangan itu. Nilainya bisa lebih dari 30 juta ton emission reduction dari legacy project yang sudah ada,” kata Edo dalam Ministerial Dialogue on Climate Change pada ajang INVIROTECH 2026 di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Read also:  Pemanasan Global Diprediksi Lampaui 1,5°C, UNEP Peringatkan Bahaya Perubahan Iklim

Menurut Edo, perdagangan karbon lintas negara kini semakin terbuka setelah terbitnya Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK).

Sebagai tindak lanjut regulasi tersebut, Kementerian Kehutanan telah menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026 tentang tata cara perdagangan karbon sektor kehutanan dan Permenhut Nomor 7 Tahun 2026 mengenai perdagangan karbon dari kawasan konservasi.

Selain itu, Kementerian Kehutanan juga tengah menyiapkan regulasi tambahan yang mengatur proses bisnis perdagangan karbon serta perdagangan karbon dari areal perhutanan sosial.

Edo menjelaskan Perpres 110 Tahun 2025 memperkuat sinergi antar sektor sekaligus membuka jalur perdagangan karbon Indonesia ke pasar internasional.

Read also:  Dapat Dukungan Kemenhut, Riau Mantap Masuk Pasar Karbon Yurisdiksi ART-TREES

Menurutnya, pemerintah menyediakan dua jalur perdagangan karbon, yakni melalui Sertifikasi Pengurangan Emisi (SPE) domestik dan jalur non-SPE yang menggunakan standar serta metodologi internasional.

“Jadi kita buka dua-duanya,” ujarnya.

Ia menambahkan seluruh transaksi perdagangan karbon tersebut nantinya akan tercatat dalam Sistem Registry Unit Karbon (SRUK).

Menurut Edo, Indonesia menjadi salah satu negara percontohan dalam implementasi sistem registri karbon yang mengadopsi Common Carbon Credit Data Model yang dikembangkan melalui Sustainable Finance Working Group G20.

Perpres 110 Tahun 2025 juga membuka peluang perdagangan karbon internasional melalui mekanisme transfer penurunan emisi dengan skema corresponding adjustment setelah mendapat rekomendasi dari kementerian sektoral kepada Kementerian Lingkungan Hidup.

Read also:  Susun Biennial Transparency Report, Indonesia Laporkan Capaian Pengurangan Emisi

Edo mengatakan potensi ekonomi karbon Indonesia di sektor kehutanan masih sangat besar. Saat ini terdapat sekitar 12 juta hektare lahan kritis yang berpotensi dikembangkan menjadi proyek offset karbon.

Selain itu, terdapat sekitar 48,7 juta hektare kawasan hutan yang dapat dimanfaatkan untuk proyek carbon reduction melalui pengelolaan hutan lestari.

Potensi lainnya berasal dari kawasan perhutanan sosial seluas 8,3 juta hektare dan kawasan hutan adat sekitar 1,4 juta hektare. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Potensi Kredit Karbon Riau Capai 11,7 Juta Ton CO₂e per Tahun, Nilainya Bisa US$235 Juta

Ecobiz.asia — Provinsi Riau memiliki potensi menghasilkan hingga 11,7 juta ton kredit karbon setara karbon dioksida (CO₂e) per tahun dari perlindungan hutan, pemulihan gambut,...

Verra Dapat Persetujuan ICVCM untuk Metodologi CCS, Empat Modul Dinyatakan Penuhi Standar CCP

Ecobiz.asia – Metodologi carbon capture and storage (CCS) milik Verra mendapat persetujuan dari Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM) berdasarkan Core Carbon...

Pemetaan Digital Ungkap Potensi Karbon Lamun Indonesia, Nilainya Sangat Besar

Ecobiz.asia – Pemodelan berbasis remote sensing mulai memberikan gambaran baru mengenai cadangan karbon ekosistem lamun Indonesia. Peneliti University of Queensland Muhammad Hafizt memperkirakan above-ground...

Isometric Perluas Pasar ke Kredit Karbon Pencegahan Deforestasi, Siapkan Protokol Baru

Ecobiz.asia – Lembaga sertifikasi kredit karbon Isometric memperluas cakupan ke proyek pencegahan deforestasi dengan menyiapkan protokol baru yang ditujukan untuk memperkuat kredibilitas kredit karbon...

JDS dan ITB Bahas Tantangan dan Peluang CCS/CCUS di Indonesia

Ecobiz.asia — Pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) di Indonesia membutuhkan pemahaman lintas disiplin, mulai dari teknologi...

TOP STORIES

BPDLH Partners With JB Cocoa, Rainforest Alliance to Expand Sustainable Microfinance for Forest Communities

Ecobiz.asia – The Indonesian Environment Fund (IEF), or BPDLH, is expanding micro-scale financing for forest communities through a partnership with cocoa trader PT Jebe...

Indonesia, Norway Launch Fifth Small Grant Facility for FOLU Net Sink, Target 300 Groups

Ecobiz.asia – Indonesia and Norway have launched the fifth phase of the FOLU Net Sink 2030 Small Grant Facility, allocating Rp20 billion ($1.2 million)...

Satgas PKH Kuasai Kembali 6,21 Juta Hektare Kawasan Hutan Jadi Sawit, 14.633,79 Hektare Jadi Tambang

Ecobiz.asia — Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) telah menguasai kembali kawasan hutan seluas 6.206.212,14 hektare pada sektor perkebunan sawit dan 14.633,79 hektare...

Salurkan Dana Bergulir Skala Mikro Berkelanjutan, BPDLH Gandeng JB Cocoa dan Rainforest Alliance

Ecobiz.asia — Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) memperluas pembiayaan skala mikro bagi usaha masyarakat sekitar hutan dengan menggandeng PT Jebe Trading Indonesia (JB...

Indonesia-Norwegia Luncurkan Layanan Dana Masyarakat FOLU Net Sink Periode Kelima, Targetkan 300 Kelompok

Ecobiz.asia — Indonesia dan Norwegia kembali memperluas dukungan pendanaan berbasis masyarakat untuk agenda FOLU Net Sink 2030. Pada periode kelima, Layanan Dana Masyarakat FOLU Net...