Ecobiz.asia — Survei terbaru yang dilakukan Petromindo Survey menunjukkan meningkatnya kekhawatiran pelaku industri terhadap lambatnya perkembangan energi terbarukan di Indonesia, meski permintaan dan ekspektasi terhadap perannya dalam bauran energi nasional tetap tinggi.
Survei bertajuk “Renewable Energy Progress in Indonesia: Industry Perspectives” tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan di sektor energi, mulai dari independent power producers (IPP), penyedia EPC dan teknologi, investor, pengguna industri, hingga konsultan.
Peneliti Petromindo Survey, Muna Suhailah, mengatakan sebanyak 56,8% responden menilai pengembangan energi terbarukan di Indonesia memang mengalami kemajuan, namun cenderung stagnan.
“Temuan ini menunjukkan bahwa momentum yang ada belum mampu diterjemahkan menjadi implementasi proyek dalam skala besar,” ujar Muna dikutip Senin (27/4/2026).

Survei dilakukan pada 11 Februari hingga 26 Maret 2026, dengan mayoritas responden merupakan profesional berusia 26–35 tahun, terutama dari segmen EPC dan penyedia teknologi, serta memiliki keterlibatan tidak langsung dalam proyek energi terbarukan.
Hasil survei juga menunjukkan adanya kesenjangan antara ekspektasi industri dan kondisi aktual. Energi terbarukan dinilai sangat penting bagi masa depan bauran energi Indonesia dengan skor 4,74 dari 5. Namun, kerangka regulasi hanya memperoleh skor 3,33, mencerminkan rendahnya daya tarik bagi investasi.
Tantangan utama yang dihadapi sektor ini adalah aspek regulasi dan birokrasi. Responden menilai ketidakpastian kebijakan serta proses perizinan yang panjang menjadi hambatan terbesar dalam pengembangan proyek.
Selain itu, kendala pembiayaan juga menjadi isu krusial. Tingginya risiko proyek serta ketidakpastian terkait perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dinilai memengaruhi kelayakan proyek secara finansial.
Meski demikian, pelaku industri memiliki pandangan yang relatif seragam terkait solusi yang dibutuhkan. Kejelasan regulasi, konsistensi kebijakan, serta penyederhanaan perizinan dinilai sebagai langkah paling penting untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan.
Dari sisi teknologi, tenaga surya fotovoltaik (PLTS) dan panas bumi (geothermal) dinilai sebagai sumber energi paling potensial untuk dikembangkan secara masif. PLTS unggul dari sisi skalabilitas, biaya yang lebih rendah, serta waktu pembangunan yang lebih cepat, sementara panas bumi dinilai mampu menjadi sumber listrik baseload yang andal untuk jangka panjang.
Secara keseluruhan, sentimen industri masih menunjukkan optimisme yang hati-hati. Responden menyatakan keyakinan bahwa Indonesia mampu mencapai target net zero emission pada 2060, meski survei tidak merinci skor tingkat kepercayaan tersebut.
Temuan ini menegaskan bahwa ambisi pengembangan energi terbarukan Indonesia telah diakui luas, namun membutuhkan penguatan implementasi kebijakan dan reformasi regulasi untuk mendorong investasi skala besar serta mempercepat transisi energi. ***



