Bangun Ekosistem SAF Tersertifikasi Global, Pertamina Siap Tembus Pasar Internasional

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) mempercepat langkah masuk ke pasar internasional melalui pembangunan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang terverifikasi secara global.

Inisiatif ini diarahkan untuk mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus memposisikan Indonesia sebagai produsen SAF berbasis limbah yang siap bersaing di pasar Eropa dan Asia-Pasifik.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, dalam panel internasional Behind the Blend: The Producers Making Net-Zero Aviation Possible pada ISCC Global Sustainability Conference 2026 di Brussel, Belgia.

Dalam forum tersebut, Pertamina tampil sejajar dengan produsen SAF global seperti Neste, EcoCeres, dan Montana Renewables.

Agung menegaskan kehadiran Pertamina di forum global tersebut menandai kesiapan Indonesia tidak hanya sebagai pasar, tetapi sebagai bagian dari solusi dekarbonisasi penerbangan dunia.

Read also:  SESMO Garap PLTS 262 MWp Rp3,5 T di IMIP, Masuk Tahap Konstruksi

“Pertamina hadir sebagai representasi Indonesia untuk menekan emisi penerbangan global melalui pengembangan SAF berbasis limbah. Kami menyiapkan SAF agar siap ekspor dan mampu bersaing, baik dari sisi spesifikasi teknis, keberlanjutan, maupun standar global,” ujar Agung, Jumat (27/2/2026)

Menurutnya, seluruh rantai nilai SAF Pertamina telah tersertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC), mulai dari pengumpulan bahan baku, proses pengolahan di kilang, hingga penyimpanan dan distribusi.

Sertifikasi ini menjamin ketelusuran penuh, mencegah penghitungan ganda, serta memenuhi standar keberlanjutan dan akuntansi karbon internasional.

“Fokus kami bukan sekadar memproduksi SAF, tetapi membangun ekosistem yang kredibel, terukur, dan diakui secara global, dengan menghubungkan pengumpulan bahan baku di tingkat komunitas Indonesia ke pasar penerbangan internasional,” tegasnya.

Read also:  BPDLH Gandeng Perusahaan Global, Perkuat Pembiayaan Petani Agroforestri

Saat ini Pertamina memproduksi SAF melalui teknologi co-processing berbahan baku minyak jelantah (used cooking oil/UCO) di Green Refinery Cilacap, dengan tingkat campuran sekitar 2,4 persen.

Pengembangan bioavtur tersebut telah dimulai sejak 2015, termasuk riset katalis domestik dan uji teknis pada pesawat Airbus A320-200 milik Pelita Air Services.

Pertamina juga telah membangun rantai pasok terintegrasi, mulai dari pengumpulan UCO rumah tangga dan sektor komersial, pengolahan di kilang, hingga distribusi ke maskapai. Seluruh proses tersebut telah memenuhi standar ISCC sebagai prasyarat masuk pasar global.

“Kami telah menyelesaikan validasi teknis di berbagai jenis pesawat. Pelita Air bahkan telah menggunakan SAF untuk penerbangan domestik dan internasional, menunjukkan kesiapan operasional end-to-end dalam ekosistem kami sendiri,” jelas Agung.

Read also:  NHM Pulihkan 232,69 Hektare Lahan Bekas Tambang, Tingkat Keberhasilan 100%

Ke depan, Pertamina akan meningkatkan skala produksi melalui proyek Biorefinery Cilacap Fase 2 yang ditargetkan beroperasi pada 2029. Ekspansi ini diarahkan untuk mendukung kebijakan mandatori campuran SAF 1 persen untuk penerbangan internasional dari Indonesia mulai 2027, sekaligus membuka peluang ekspor ke Asia-Pasifik dan Eropa.

Agung menilai tantangan utama pengembangan SAF global kini bukan pada teknologi, melainkan ketersediaan bahan baku berkelanjutan. Indonesia, menurutnya, memiliki keunggulan dari limbah seperti UCO dan residu POME yang dapat dikembangkan tanpa bersaing dengan pangan, selama dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan sertifikasi ketat. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Dapat Pendanaan Rendah Karbon, Venambak Eksekusi Proyek Tambak Udang Ramah Lingkungan di Sumbawa

Ecobiz.asia – PT Venambak Kail Dipantara mulai mengeksekusi proyek budidaya udang ramah lingkungan di Kabupaten Sumbawa setelah memperoleh pendanaan dari skema Low Carbon Development...

PIS–PGN Siapkan Ekosistem Maritim Energi Rendah Karbon, Dari LNG hingga Hidrogen

Ecobiz.asia — PT Pertamina International Shipping (PIS) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) menjalin kerja sama untuk memperkuat sinergi dalam pengembangan ekosistem...

Telkom–PGN Kerja Sama Pengembangan Green Data Center, Ada Lima Wilayah Potensial

Ecobiz.asia — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) menjalin kerja sama strategis untuk mengintegrasikan infrastruktur digital dengan...

PLN Nusantara Power Andalkan Energi Domestik dan Digitalisasi Jaga Keandalan Listrik

Ecobiz.asia — PT PLN Nusantara Power menegaskan komitmennya menjaga keandalan pasokan listrik nasional di tengah tekanan geopolitik global dengan mengoptimalkan energi domestik dan mempercepat...

PLN Suplai Listrik 250 MVA ke IKPP Karawang, Dukung Ekspansi Industri

Ecobiz.asia — PT PLN (Persero) memasok listrik tegangan tinggi berkapasitas 250 megavolt ampere (MVA) ke fasilitas PT Indah Kiat Pulp & Paper di Karawang,...

TOP STORIES

Indonesia to Launch Carbon Registry System in July, Invites Developers for Trial Phase

Ecobiz.asia — Indonesia is set to launch its Carbon Unit Registry System (SRUK) in July 2026 as a key infrastructure to support the country’s...

Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) Segera Diluncurkan, KLH Ajak Pengembang Proyek Ikut Uji Coba

Ecobiz.asia – Pemerintah segera meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) sebagai infrastruktur utama perdagangan karbon di Indonesia. Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan...

Dapat Pendanaan Rendah Karbon, Venambak Eksekusi Proyek Tambak Udang Ramah Lingkungan di Sumbawa

Ecobiz.asia – PT Venambak Kail Dipantara mulai mengeksekusi proyek budidaya udang ramah lingkungan di Kabupaten Sumbawa setelah memperoleh pendanaan dari skema Low Carbon Development...

PIS–PGN Siapkan Ekosistem Maritim Energi Rendah Karbon, Dari LNG hingga Hidrogen

Ecobiz.asia — PT Pertamina International Shipping (PIS) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) menjalin kerja sama untuk memperkuat sinergi dalam pengembangan ekosistem...

Siapkan Investasi Awal Rp420 M, Eco Power Nusantara Kembangkan Proyek Biochar hingga Kredit Karbon Kehutanan

Ecobiz.asia — PT Eco Power Nusantara menyiapkan investasi awal sekitar US$25 juta atau setara Rp420 miliar untuk pengembangan proyek biochar dan kredit karbon berbasis...