Riset BRIN Ungkap Faktor Emisi Karbon Lamun Indonesia, Jawa–Sumatra Tertinggi

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa faktor emisi karbon dari ekosistem padang lamun di Indonesia bervariasi secara regional, dengan wilayah Jawa dan sebagian Sumatra mencatat nilai tertinggi dibandingkan kawasan pesisir lainnya.

Temuan tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanologi BRIN, A’an Johan Wahyudi, melalui publikasi ilmiah yang mengkaji emisi karbon yang dilepaskan saat ekosistem lamun mengalami degradasi atau gangguan.

A’an menjelaskan bahwa selama ini kajian karbon biru lebih banyak menitikberatkan pada kemampuan lamun menyerap dan menyimpan karbon, sementara potensi emisi akibat kerusakan ekosistem masih jarang diperhitungkan dalam penghitungan emisi nasional.

“Dalam carbon accounting, yang dihitung bukan hanya karbon yang diserap, tetapi juga yang dilepaskan ketika ekosistem mengalami gangguan,” kata A’an, dikutip Sabtu (17/1/2026).

Read also:  Soroti Stagnansi Pasar Karbon Nasional, DPR Dorong Pembentukan Kementerian Perubahan Iklim

Menurutnya, aktivitas manusia di wilayah pesisir seperti reklamasi, pengerukan, dan peningkatan sedimentasi dapat merusak padang lamun dan memicu pelepasan karbon ke atmosfer melalui proses dekomposisi biomassa lamun.

Dalam riset tersebut, A’an memperkenalkan pendekatan perhitungan faktor emisi karbon lamun, yakni angka yang menunjukkan besaran karbon yang dilepaskan ke atmosfer per satuan luas per tahun akibat degradasi ekosistem.

Hasil analisis menunjukkan faktor emisi karbon lamun di Indonesia berada pada kisaran 0,53 hingga 3,25 ton karbon per hektare per tahun. Nilai tertinggi ditemukan di wilayah dengan tekanan antropogenik tinggi, terutama Jawa dan sebagian Sumatra, sementara wilayah seperti Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku menunjukkan nilai yang lebih rendah.

Read also:  Indonesia Gabung Coalition to Grow Carbon Markets, Bawa Pengalaman Kelola Proyek Karbon Hutan

A’an menyebut tingginya tekanan aktivitas manusia di wilayah padat penduduk menjadi faktor utama meningkatnya potensi emisi karbon lamun. Kerusakan satu hektare padang lamun di wilayah barat Indonesia, kata dia, berpotensi melepaskan karbon jauh lebih besar dibandingkan wilayah timur.

Selama ini, Indonesia masih menggunakan faktor emisi global Tier-1 dari IPCC dalam penghitungan emisi karbon lamun. A’an menilai pendekatan tersebut kurang merepresentasikan kondisi nasional yang sangat beragam.

“Karakteristik lamun Indonesia tidak bisa diwakili oleh angka rata-rata global,” ujarnya.

Untuk mengatasi keterbatasan data historis, penelitian ini menggunakan pendekatan chronosequence modeling dengan membandingkan kondisi padang lamun yang masih relatif baik dan yang telah terdegradasi sebagai proksi perubahan dari waktu ke waktu.

Read also:  Taman Nasional Way Kambas Jadi Lokasi Proyek Karbon Offset Pertama di Kawasan Konservasi

A’an menegaskan bahwa faktor emisi yang dihitung dalam riset ini masih bersifat awal karena baru mencakup karbon biomassa lamun, sementara cadangan karbon terbesar justru tersimpan di sedimen.

Ke depan, ia mendorong pengembangan faktor emisi spesifik nasional (Tier-2) dengan menggabungkan data biomassa dan sedimen guna mendukung kebutuhan pelaporan penurunan emisi Indonesia, termasuk dalam kerangka Nationally Determined Contribution (NDC).

Riset ini juga menyoroti pentingnya penguatan regulasi, konsistensi implementasi, keterlibatan masyarakat pesisir, serta pengembangan sistem pemantauan laut jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan ekosistem lamun di Indonesia. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Taman Nasional Way Kambas Jadi Lokasi Proyek Karbon Offset Pertama di Kawasan Konservasi

Ecobiz.asia — Pemerintah mulai menyiapkan proyek percontohan karbon offset pertama di dalam sistem taman nasional Indonesia, dengan Taman Nasional Way Kambas di Provinsi Lampung...

Indonesia Gabung Coalition to Grow Carbon Markets, Bawa Pengalaman Kelola Proyek Karbon Hutan

Ecobiz.asia — Indonesia resmi bergabung dengan The Coalition to Grow Carbon Markets, sebuah inisiatif internasional yang bertujuan memperkuat pasar karbon berintegritas tinggi dan memperluas...

Mahasiswa UGM Bikin Alat Penyerap Karbon dari Limbah Plastik, Berbiaya Rendah

Ecobiz.asia — Inovasi pemanfaatan limbah plastik untuk penangkapan emisi karbon mengantarkan tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meraih Gold Medal dalam ajang 6th Indonesia...

Soroti Stagnansi Pasar Karbon Nasional, DPR Dorong Pembentukan Kementerian Perubahan Iklim

Ecobiz.asia — Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ateng Sutisna, mendorong pembentukan kementerian atau lembaga khusus perubahan iklim untuk...

Kemenhut Buka Peluang Pendanaan Karbon REDD+ Berbasis Kinerja Skema ART-TREES bagi Daerah

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membuka peluang pendanaan internasional bagi pemerintah daerah melalui skema REDD+ berbasis kinerja menggunakan standar ART-TREES, sebagai insentif atas keberhasilan...

TOP STORIES

ASEAN Smart Energy & Energy Storage Expo 2026

Ecobiz.asia - Supported by the Ministry of Energy of Thailand, the Electricity Generating Authority of Thailand (EGAT), and the Thailand Convention and Exhibition Bureau...

Indonesia to Unveil Transport Decarbonisation Roadmap by May 2026

Ecobiz.asia — Indonesia is preparing a national roadmap to decarbonise its transport sector as part of efforts to cut carbon emissions and meet its...

PLTU Captive Melonjak ke 19,3 GW, CREA: Risiko Emisi dan Beban Ekonomi Kian Membesar

Ecobiz.asia — Pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive di Indonesia terus melesat dan mencapai kapasitas 19,3 gigawatt (GW) pada 2025, memicu kekhawatiran meningkatnya...

Pemerintah Susun Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi, Target Terbit Mei 2026

Ecobiz.asia — Pemerintah mulai menyusun peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon nasional dan memenuhi target net zero emission...

Sumatra Mulai Memanas, Kemenhut Kerahkan Manggala Agni Padamkan Karhutla

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menurunkan pasukan Manggala Agni untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatra seiring meningkatnya titik...