IESA: Lemahnya Tata Kelola Sumber Daya Alam Picu Rentetan Bencana, Reformasi Struktural Harus Dilakukan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Indonesia Environmental Scientist Association (IESA) menilai rentetan bencana lingkungan yang terjadi sepanjang 2025 mencerminkan lemahnya tata kelola sumber daya alam (SDA) yang telah berlangsung lebih dari dua dekade. Kondisi tersebut dinilai menjadi pekerjaan rumah utama bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 2026.

Demikian keterangan dari IESA yang diterima, Sabtu (3/1/2026). Ketua Umum IESA Yuki Wardhana menegaskan, bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah tidak dapat dilepaskan dari kelalaian pengelolaan SDA, mulai dari deforestasi, lemahnya pengawasan, hingga minimnya anggaran sektor lingkungan.

IESA mencatat setidaknya tiga persoalan utama. Pertama, pembangunan nasional masih bertumpu pada ekstraksi SDA tanpa diimbangi tata kelola dan pendanaan memadai.

Read also:  Karhutla, Kemenhut Kembali Sanksi Administratif Lima Perusahaan PBPH

Yuki mencontohkan minimnya jumlah polisi hutan yang harus mengawasi jutaan hektare kawasan hutan di Aceh, sementara alokasi APBN untuk kementerian pengelola SDA dinilai belum sebanding dengan besarnya risiko ekologis.

Kedua, kerugian akibat bencana tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga korban jiwa. IESA mencatat lebih dari seribu orang meninggal dunia akibat banjir besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ahli pengelolaan hutan IESA, Onrizal, menekankan pentingnya penegakan hukum pidana dan perdata serta pengenaan ganti rugi lingkungan terhadap pihak yang terbukti menyebabkan kerusakan, tanpa menunggu terjadinya bencana.

Read also:  Menteri Energi Bangladesh Apresiasi Inovasi PLN Nusantara Power

Ketiga, IESA menilai manajemen kebencanaan masih lemah. Pemerintah diminta memperkuat kesiapsiagaan melalui pemetaan kerawanan bencana berbasis data biofisik, sosial, ekonomi, dan budaya, yang dilengkapi survei lapangan berstandar tinggi.

Selain catatan kritis, IESA mengajukan sejumlah solusi. Pemerintah diminta memiliki grand design pembangunan yang berorientasi pada penguatan sumber daya manusia agar ketergantungan pada eksploitasi SDA dapat dikurangi.

IESA mengingatkan keterlambatan transisi tersebut berisiko mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah menuju stagnasi ekonomi.

IESA juga mengusulkan rehabilitasi SDA, khususnya daerah aliran sungai, dijadikan indikator kinerja utama (KPI) bagi kementerian terkait.

Menurut ahli IESA Prisca Delima, tanpa komitmen lintas sektor yang kuat, tumpang tindih kewenangan justru memperbesar potensi bencana di masa depan.

Read also:  Kendalikan Karhutla, Kemenhut Dapat Tambahan Anggaran Rp471,239 Miliar

Di luar isu kehutanan, IESA menyoroti krisis pengelolaan sampah akibat banyaknya tempat pembuangan akhir (TPA) yang telah melebihi kapasitas. Pemerintah daerah diminta menerapkan mandatory spending untuk pengelolaan sampah, memperkuat pemilahan dari sumber, serta memastikan teknologi pengolahan sampah berjalan dalam satu sistem hulu-hilir.

Menutup pernyataannya, Yuki menekankan bahwa kegagalan tata kelola SDA dan lingkungan akan terus berujung pada bencana. “Perbaikan tata kelola dan penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci agar risiko ekologis tidak terus berulang,” ujarnya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Wamen LH: Profit Besar Tambang Harus Diikuti Tanggung Jawab Lingkungan

Ecobiz.asia – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono meminta industri pertambangan memperkuat dekarbonisasi seiring besarnya keuntungan yang diperoleh...

Menhut Raja Juli Kembali Cabut Izin Lima PBPH Terkait Karhutla, Sebut Perintah Prabowo

Ecobiz.asia — Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni kembali mencabut izin usaha lima perusahaan yang berada di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah sebagai...

WWF-Indonesia dan CPOPC Jalin Kerja Sama Penguatan Transparansi Rantai Pasok Sawit Berkelanjutan

Ecobiz.asia - WWF-Indonesia dan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) sepakat menjalin kemitraan strategis untuk memperkuat sistem komoditas berkelanjutan sekaligus meningkatkan pengakuannya di...

Prabowo Instruksikan Persiapan BBM E50, Susul Penerapan B50

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pemerintah segera menyiapkan langkah konkret untuk mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) campuran bioetanol 50% atau E50 di Indonesia. Menteri...

Pantauan Karhutla Kemenhut: Hotspot Kalteng dan Kalbar Turun Tajam, Sumsel Malah Naik

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional turun 400 titik menjadi 1.037 titik hingga Selasa (15/9/2026) malam....

TOP STORIES

Dekarbonisasi Jadi Tuntutan Industri Tambang, Wamen LH Minta Emisi Dilaporkan ke SIGN-SMART

Ecobiz.asia – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono mendorong industri pertambangan mempercepat dekarbonisasi dengan menghitung dan melaporkan emisi...

Wamen LH: Profit Besar Tambang Harus Diikuti Tanggung Jawab Lingkungan

Ecobiz.asia – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono meminta industri pertambangan memperkuat dekarbonisasi seiring besarnya keuntungan yang diperoleh...

AFD-Backed Roadmap Seeks to Unlock Investment in Indonesia’s Blue Carbon Ecosystems

Ecobiz.asia – Indonesia has launched a 2026–2045 roadmap for protecting and managing its blue carbon ecosystems, with French development agency Agence Française de Développement...

PHI Raih Tujuh Penghargaan IABC Indonesia Awards 2026

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) meraih tujuh penghargaan dalam ajang International Association of Business Communicators (IABC) Indonesia Awards 2026, sebagai bentuk apresiasi...

Pertamina Drilling Kelola 58 Rig, Bidik National Champion Well Construction

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) tak ingin hanya dikenal sebagai perusahaan yang mengelola armada pengeboran besar. Dengan 58 rig yang...