Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) meminta pemerintah daerah memperkuat langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul lonjakan signifikan jumlah titik panas pada 2026.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq mengatakan hingga 5 April 2026, jumlah hotspot berdasarkan satelit Terra Aqua mencapai sekitar 700 titik, hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara luas lahan terbakar hingga Februari 2026 tercatat 32.637,48 hektare atau melonjak 20 kali lipat secara tahunan.
“Upaya kita dalam mengendalikan karhutla di tahun 2026 ini menjadi bukti komitmen terhadap kemanusiaan dan keberlanjutan ekosistem,” ujar Hanif dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla 2026 di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Hanif menegaskan pengendalian karhutla harus diperkuat melalui sinergi pusat dan daerah, termasuk percepatan penetapan status siaga darurat, penguatan pencegahan, kesiapan sumber daya, serta pengaktifan satuan tugas terpadu di tingkat daerah.
Ia juga meminta penegakan hukum dilakukan tegas terhadap pelaku pembakaran lahan serta mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Karhutla merupakan salah satu kontributor terbesar emisi gas rumah kaca yang mempercepat pemanasan global. Dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menimbulkan gangguan kesehatan dan kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah,” katanya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan potensi musim kemarau 2026 yang lebih kering dari normal, dengan indikasi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan kondisi ENSO saat ini berada pada fase netral, namun berpotensi berkembang menjadi El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 dengan peluang 50–80 persen.
“Jika kemarau terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” ujarnya.
BMKG mencatat hingga awal April 2026 jumlah hotspot mencapai 1.601 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Potensi karhutla diperkirakan mulai meningkat di Riau pada Juni, meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, serta ke Kalimantan pada Juli–Agustus.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG terus menjalankan operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah prioritas untuk menjaga kelembapan lahan, terutama di kawasan gambut.
“Di Posko Riau, dari 23 sorti penerbangan, kita berhasil menambah curah hujan hingga 33 persen dengan volume air lebih dari 100 juta meter kubik,” kata Faisal. ***



