TFCCA Salurkan Hibah 35 Juta Dolar AS, Dorong Konservasi Terumbu Karang Berbasis Masyarakat

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Program Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) Siklus Pertama resmi digulirkan secara nasional, menandai dimulainya pelaksanaan hibah konservasi terumbu karang berbasis masyarakat terbesar di Indonesia.

Sebanyak 58 organisasi dan inisiatif lokal dinyatakan lolos seleksi dan akan mengimplementasikan program konservasi di tiga bentang laut prioritas, yakni Kepala Burung, Sunda Kecil, dan Banda.

Peluncuran program ditandai dengan penandatanganan perjanjian hibah oleh tujuh perwakilan penerima hibah yang mewakili seluruh pelaksana TFCCA Siklus Pertama, dalam kegiatan yang digelar di Jakarta, Senin (26/1/2026).

Program ini merupakan bagian dari keseluruhan hibah TFCCA Pemerintah Amerika Serikat senilai sekitar 35 juta dolar AS.

TFCCA merupakan skema pendanaan inovatif pertama di dunia yang secara khusus mengaitkan konservasi ekosistem terumbu karang dengan pemberdayaan masyarakat lokal. Program ini juga diperkuat oleh kontribusi Conservation International dan Konservasi Indonesia sebesar US$3 juta, serta The Nature Conservancy (TNC) bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) sebesar 1,5 juta dolar AS.

Pendanaan TFCCA diarahkan untuk mendukung perlindungan, restorasi, dan pengelolaan terumbu karang di kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia, yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati laut tertinggi sekaligus menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat pesisir.

Read also:  Kemenperin Siapkan SDM Bersertifikat untuk Optimalkan Potensi Bambu Nasional

Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Peter M. Haymond, menegaskan bahwa TFCCA menghubungkan tujuan konservasi dengan kesejahteraan masyarakat.

“Program TFCCA mengalihkan kewajiban pembayaran utang negara menjadi hibah yang mendanai upaya konservasi yang dipimpin masyarakat. Ini bukan hanya tentang melindungi terumbu karang, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan, mata pencaharian, dan kemakmuran jangka panjang,” ujar Haymond.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyatakan peluncuran TFCCA sejalan dengan kebijakan Ekonomi Biru Indonesia. Menurutnya, konservasi terumbu karang menjadi agenda strategis nasional di tengah ancaman perubahan iklim, pencemaran laut, dan praktik penangkapan ikan destruktif.

“Program TFCCA juga merupakan bentuk diplomasi biru yang menghubungkan sinergi global hingga tingkat lokal untuk konservasi laut yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Trenggono.

Sebagai Administrator Program TFCCA, Konservasi Indonesia bertanggung jawab memastikan hibah dikelola secara transparan dan terukur.

Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia, Meizani Irmadhiany, mengatakan peran administrator adalah menjembatani arah strategis kebijakan dengan implementasi lapangan agar target konservasi tercapai.

Dari sisi global, Senior Vice President and Acting Head of Conservation Programs Conservation International, Kelvin Alie, menilai TFCCA sebagai respons strategis terhadap krisis keanekaragaman hayati laut. Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains untuk meningkatkan efektivitas konservasi dan ketahanan sosial-ekologis wilayah pesisir.

Read also:  Bappenas–CSES Perkuat Kerja Sama Industri Sawit Rendah Emisi dan Berkelanjutan

Managing Director TNC Asia Pacific, William McGoldrick, menyebut TFCCA sebagai contoh kolaborasi lintas negara dan organisasi yang mampu menghadirkan pembiayaan konservasi jangka panjang berbasis komunitas.

Senada, Direktur Eksekutif YKAN Herlina Hartanto menekankan bahwa keterlibatan aktif masyarakat merupakan kunci keberlanjutan pengelolaan kawasan perairan.

Sebelumnya, program ini melalui proses seleksi hibah yang kompetitif dan transparan. Dari 323 proposal yang diajukan oleh LSM, kelompok masyarakat, dan praktisi konservasi lokal, 58 proposal dinyatakan lolos penilaian teknis dan safeguards oleh tim independen. Penandatanganan hibah tahap berikutnya dijadwalkan pada 28 Februari 2026.

Tujuh perwakilan penerima hibah pada tahap pertama berasal dari berbagai wilayah, antara lain Masyarakat Hukum Adat Wooti Kook Malaumkarta Raya (Papua Barat Daya), Nusa Biodiversitas Indonesia (NTB), LPPM Universitas Pattimura (Maluku), LSM Kunti Bhakti (Bali), Yayasan Nusa Bahari Lestari (Maluku), Bengkel APPeK (NTT), dan Kelompok PAAP Bahari Sejahtera (Sulawesi Tenggara). ***

Sebelumnya, Program TFCCA telah melalui proses seleksi hibah yang kompetitif dan transparan. Dari 323 proposal yang diajukan oleh LSM, Kelompok Masyarakat dan praktisi konservasi lokal, 58 proposal dinyatakan lolos penilaian teknis dan safeguards oleh tim independen. Penandatanganan hari ini merupakan tahap pertama, dengan penandatanganan hibah kelompok berikutnya dijadwalkan pada 28 Februari 2026.

Read also:  Bayi Panda Pertama Lahir di Indonesia, Jadi Bukti Kolaborasi Konservasi Indonesia–Tiongkok

Melalui Program TFCCA, Indonesia dan Amerika Serikat menegaskan pendekatan konservasi yang menempatkan ekosistem terumbu karang sebagai fondasi ekologi dan ekonomi. Sejalan dengan semangat program, “Terumbu karang terjaga, masyarakat berdaya, ekonomi sejahtera,” hibah ini diharapkan mampu memperkuat masa depan ekosistem laut dan komunitas pesisir Indonesia.

Adapun, ketujuh perwakilan penerima hibah yang hadir dalam tahap ini di antaranya, Masyarakat Hukum Adat (MHA) Wooti Kook Malaumkarta Raya dari Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya; Nusa Biodiversitas Indonesia dari Lombok Barat, NTB; Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pattimura, Maluku; Perkumpulan Kelompok Perempuan Lembaga Swadaya Masyarakat Kunti Bhakti dari Kabupaten Tabanan, Bali; Yayasan Nusa Bahari Lestari (SAHARI) dari Seram Bagian Barat, Maluku; LSM Bengkel Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung (Bengkel APPeK), Kupang, NTT; dan Kelompok PAAP Bahari Sejahtera dari Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Bappenas–CSES Perkuat Kerja Sama Industri Sawit Rendah Emisi dan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Kementerian PPN/Bappenas dan Chinese Society of Environmental Sciences (CSES) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama pengembangan industri kelapa sawit rendah emisi dan...

Kemenhut Dorong Perhutanan Sosial Berbasis Agroforestri untuk Swasembada Pangan

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan mendorong optimalisasi perhutanan sosial berbasis agroforestri sebagai salah satu instrumen utama mendukung swasembada pangan nasional, dengan tetap menjaga kelestarian hutan...

Bayi Panda Pertama Lahir di Indonesia, Jadi Bukti Kolaborasi Konservasi Indonesia–Tiongkok

Ecobiz.asia — Kelahiran bayi panda raksasa pertama di Indonesia menjadi penanda keberhasilan kerja sama konservasi dan diplomasi lingkungan antara Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok...

Kemenperin Siapkan SDM Bersertifikat untuk Optimalkan Potensi Bambu Nasional

Ecobiz.asia — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat pengembangan ekosistem industri bambu nasional dari hulu hingga hilir untuk meningkatkan nilai tambah, daya saing industri, sekaligus mendukung...

Menhut Terbitkan Permenhut 27/2025, Atur Pemanfaatan Energi hingga Karbon di Kawasan Konservasi

Ecobiz.asia — Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menetapkan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 27 Tahun 2025 tentang Pemanfaatan Jasa Lingkungan pada Kawasan Suaka Alam,...

TOP STORIES

PGN Mulai Pasok Gas ke Pabrik Baterai EV CATL, Dukung Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik

Ecobiz.asia — PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, mulai menyalurkan gas bumi ke fasilitas produksi PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery...

Terralogiq Dorong “Hyper-Local AI”, Redefinisi Efisiensi Enterprise Indonesia di 2026

Ecobiz.asia — Memasuki 2026, arah transformasi digital di Indonesia kian bergeser. Perusahaan tidak lagi sekadar mengejar adopsi cloud atau kecerdasan buatan (AI), melainkan menuntut...

ICCSC Luncurkan The 4th International & Indonesia Carbon Capture and Storage (IICCS) Forum 2026

Ecobiz.asia — Indonesian Carbon Capture and Storage Center (ICCSC) menggelar soft launching The 4th International & Indonesia Carbon Capture and Storage (IICCS) Forum 2026...

ACGF Himpun Lebih dari 11 Miliar Dolar AS untuk Infrastruktur Berkelanjutan di Asia Tenggara

Ecobiz.asia — ASEAN Catalytic Green Finance Facility (ACGF) telah memobilisasi pembiayaan lebih dari US$11 miliar untuk proyek infrastruktur berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara. Fasilitas ini...

Kemenhut Perkuat Mitigasi Karhutla 2026, Fokus Peringatan Dini dan Penegakan Hukum

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat mitigasi dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026 melalui penguatan sistem peringatan dini, peningkatan kesiapsiagaan lapangan,...