PGE Siapkan Listrik Baseload Panas Bumi untuk Green Data Center

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menyiapkan pasokan listrik baseload dari energi panas bumi untuk mendukung pengembangan green data center dan ekosistem kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan kebutuhan listrik pusat data dan AI factory memiliki karakter khusus karena membutuhkan pasokan yang stabil selama 24 jam sekaligus rendah emisi. Karakter tersebut membuat panas bumi berpotensi menjadi salah satu sumber listrik untuk menopang kebutuhan pusat data.

“Pusat data membutuhkan listrik yang andal dan hijau sekaligus. Panas bumi adalah energi domestik yang bersih dan mampu beroperasi sebagai baseload sepanjang waktu, sehingga sangat cocok menjadi tulang punggung green data center di Indonesia,” ujar Ahmad Yani dalam diskusi pada The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Read also:  PHR Raih Upstream Energy Transformation Award, Perkuat Operasi Migas dengan Digital Twin dan AI

Menurut Ahmad Yani, PGE telah mengkaji pengembangan elektrifikasi green data center berbasis panas bumi di Area Kamojang, Jawa Barat. Proyek tersebut disiapkan sebagai pilot project dan proof of concept untuk menguji model bisnis, menjajaki kebutuhan calon pengguna, serta membangun pasar.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi Beyond Electricity PGE. Selain untuk pusat data, strategi tersebut mencakup pemanfaatan panas bumi untuk green hydrogen, pemanfaatan langsung uap panas bumi, serta layanan teknologi dan laboratorium.

Read also:  PAG Kembangkan Bisnis Gassing Up-Cooling Down di Terminal LNG Arun

Ahmad Yani mengatakan pengembangan listrik panas bumi untuk pusat data membutuhkan dukungan kebijakan, terutama dari sisi tarif dan pembiayaan.

“Pertama, menyempurnakan regulasi tarif agar lebih kompetitif, transparan, dan predictable. Kedua, memperluas pemanfaatan insentif fiskal dan green financing,” katanya.

Selain itu, menurut dia, pemerintah perlu menyinkronkan wilayah kerja panas bumi (WKP), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), jaringan listrik, perjanjian jual beli listrik (PPA), dan target commercial operation date (COD).

“Diperlukan penyesuaian strategi dengan kebijakan pemerintah dalam blueprint pengembangan data center sekaligus panas bumi nasional,” ujar Ahmad Yani.

Dari sisi kapasitas, PGE menargetkan kapasitas terpasang sekitar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan meningkat menjadi sekitar 1,8 GW pada 2034. Pengembangan tersebut akan ditopang portofolio sumber daya panas bumi sekitar 3 GW.

Read also:  Jababeka-Pertamina Kerja Sama Pengembangan Energi Hijau, Siapkan Biometana hingga Hidrogen

Pengembangan panas bumi juga sejalan dengan RUPTL 2025-2034 yang mengalokasikan tambahan kapasitas panas bumi sebesar 5,2 GW. PGE menilai pengembangan tersebut dapat mendukung target Indonesia menjadi produsen panas bumi terbesar dunia pada 2030.

“Ini momentum yang tidak datang dua kali, sehingga harus kita manfaatkan sebaik mungkin untuk mengakselerasi pengembangan kapasitas dan mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai produsen panas bumi terbesar dunia,” kata Ahmad Yani. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

APP Group Gabung Inisiatif RE100, Bidik 100% Listrik Terbarukan

Ecobiz.asia — APP Group menjadi perusahaan Indonesia pertama yang bergabung dengan RE100, inisiatif global yang mendorong perusahaan menggunakan 100% listrik terbarukan dalam kegiatan operasionalnya...

PHR Raih Upstream Energy Transformation Award, Perkuat Operasi Migas dengan Digital Twin dan AI

Ecobiz.asia – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) meraih Upstream Energy Transformation Award dalam Dataiku Summit 2026 atas penerapan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI)...

Salurkan Dana Bergulir Skala Mikro Berkelanjutan, BPDLH Gandeng JB Cocoa dan Rainforest Alliance

Ecobiz.asia — Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) memperluas pembiayaan skala mikro bagi usaha masyarakat sekitar hutan dengan menggandeng PT Jebe Trading Indonesia (JB...

Jadi Offtaker dan Transporter, PGN Siapkan Infrastruktur Gas Biomethane dari Limbah Sawit

Ecobiz.asia — PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menyiapkan infrastruktur gas untuk menyalurkan biomethane yang diproduksi dari limbah pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan...

Manfaatkan Energi Air Dunia, Low Carbon Aluminium INALUM Bidik Pasar Global

Ecobiz.asia — PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM memperkuat pemasaran aluminium rendah karbon dengan meluncurkan Sertifikasi Low Carbon Aluminium (Green Aluminium) kepada pelanggan...

TOP STORIES

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

Ecobiz.asia – Parlemen mulai menyiapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Iklim Berkeadilan untuk memberikan kepastian dan menjaga konsistensi regulasi bagi proyek-proyek karbon yang...

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Ecobiz.asia – Tiga perusahaan start up teknologi iklim mendapat suntikan dana Rp15 miliar untuk menguji solusi mereka di Indonesia, menandai meningkatnya aliran modal ke...