Kemenhut Rancang KHDTK Tumbang Nusa Jadi Living Laboratory Gambut, Bangun Kolaborasi Pentahelix

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyiapkan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa di Kalimantan Tengah sebagai living laboratory pengelolaan ekosistem gambut sekaligus pusat pembelajaran mitigasi dan adaptasi perubahan iklim berbasis kolaborasi.

Pengembangan kawasan seluas hampir 5.000 hektare tersebut akan melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media melalui pendekatan pentahelix.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Mahfudz mengatakan keberadaan KHDTK Tumbang Nusa akan menjadi pusat pengelolaan ekosistem gambut yang terhubung dengan berbagai inisiatif nasional, termasuk International Tropical Peatland Center (ITPC), sehingga dapat menjadi laboratorium lapangan untuk mendukung upaya restorasi gambut di Indonesia.

“KHDTK ini menjadi contoh penting untuk pengelolaan gambut di Kalimantan. Kalau kita memiliki World Mangrove Center di Bali, maka kawasan ini akan menjadi pusat pengembangan gambut di sektor kehutanan sekaligus laboratorium bagi upaya pemulihan gambut ke depan,” ujar Mahfudz saat membuka kegiatan Pengelolaan Kolaboratif KHDTK Tumbang Nusa Mitigasi dan Adaptasi Bencana, di KHDTK Tumbang Nusa, Sabtu (27/6/2026).

Read also:  Wamen LH: Profit Besar Tambang Harus Diikuti Tanggung Jawab Lingkungan

Menurut Mahfudz, pengelolaan gambut tidak dapat dilakukan secara parsial karena ekosistem tersebut memiliki peran penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi. Kerusakan gambut, katanya, menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sehingga upaya pemulihannya harus dilakukan secara bersama-sama.

Karena itu, Kemenhut akan membangun kolaborasi pentahelix dengan melibatkan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, hingga komunitas di sekitar kawasan.

“Kita membutuhkan sumber daya manusia, dukungan anggaran, dan keterlibatan seluruh pihak. Ini bukan hanya kepentingan Kementerian Kehutanan, tetapi menjadi bagian dari sistem kolaborasi pentahelix,” katanya.

Mahfudz menambahkan, KHDTK Tumbang Nusa juga akan diintegrasikan dengan berbagai unit pengelolaan ekosistem gambut, termasuk kawasan konservasi di Taman Nasional Sebangau. Integrasi tersebut diharapkan memperkuat fungsi kawasan sebagai pusat pembelajaran, penelitian, serta pengembangan teknologi restorasi gambut di tingkat nasional maupun internasional.

Read also:  Bentuk Tim Khusus dan Libatkan Dua Profesor, Kemenhut Dalami Dugaan Pidana Kebakaran Bromo

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan Wening Sri Wulandari menjelaskan KHDTK Tumbang Nusa memiliki luas 4.963,93 hektare sesuai Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 539 Tahun 2025 dan sejak 2025 dikelola oleh Pusat Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan.

Menurutnya, kawasan tersebut selama ini telah menjadi lokasi berbagai kegiatan penelitian, pembelajaran, serta pengembangan teknologi mitigasi dan adaptasi bencana pada ekosistem gambut. Kawasan itu juga kerap dikunjungi peneliti, mahasiswa, maupun mitra internasional yang ingin mempelajari praktik pengelolaan gambut di Indonesia.

Saat ini Kemenhut tengah menata kawasan sekaligus mengembangkan laboratorium lapangan pengelolaan gambut kolaboratif di areal ‘Repeat’ (Rehabilitation of Peatland). Di lokasi tersebut akan dibangun media informasi lapangan, pengembangan berbagai model mitigasi dan adaptasi, revitalisasi kebun benih, serta pengamanan sumber benih yang telah teridentifikasi dan tersertifikasi.

Read also:  Kemenhut Blak-blakan Penegakan Hukum Karhutla, 31 Kasus Libatkan Perorangan hingga Korporasi

Sebagai bagian dari pengembangan kawasan, Kemenhut juga memasang alat pemantau tinggi muka air gambut untuk mendukung pengelolaan hidrologi gambut bekerja sama dengan Universitas Palangka Raya. Selain itu, diresmikan pula persemaian yang dikembangkan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kahayan sebagai pendukung rehabilitasi kawasan.

Wening mengatakan luasnya kawasan membuat keberhasilan pengelolaan KHDTK Tumbang Nusa sangat bergantung pada kolaborasi berbagai pihak. Dalam pelaksanaannya, Kemenhut melibatkan Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai mitra utama dalam menjaga kawasan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan sekaligus mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan restorasi gambut. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Geger! Tengkorak Diduga Orangutan Ditemukan di Areal Bernilai Konservasi Tinggi Kebun Sawit PT KAL

Ecobiz.asia – Tim gabungan lintas instansi mengevakuasi tengkorak yang diduga milik orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari areal bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) perkebunan...

Biaya dan Perizinan Jadi Tantangan Pengadaan Listrik Hijau bagi Industri Indonesia

Ecobiz.asia — Biaya listrik hijau dan kemudahan perizinan menjadi dua faktor utama yang memengaruhi keputusan perusahaan dalam mengakses energi terbarukan di Indonesia. Survei terhadap...

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

TOP STORIES

Geger! Tengkorak Diduga Orangutan Ditemukan di Areal Bernilai Konservasi Tinggi Kebun Sawit PT KAL

Ecobiz.asia – Tim gabungan lintas instansi mengevakuasi tengkorak yang diduga milik orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari areal bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) perkebunan...

PLTA Batang Toru Mulai Penggenangan, Siapkan Tambahan Kapasitas 510 MW

Ecobiz.asia -- Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mulai memasuki tahap penggenangan waduk...

Pertamina Dorong B50 untuk Kurangi Impor Solar dan Perkuat Ketahanan Energi

Ecobiz.asia -- PT Pertamina (Persero) mendorong diversifikasi sumber energi melalui pemanfaatan bahan bakar nabati, termasuk biodiesel B50, untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan...

Gold Standard Luncurkan Metodologi G-RESET, Perluas Akses Pembiayaan Karbon untuk Proyek Energi Terbarukan

Ecobiz.asia – Lembaga standar karbon Gold Standard meluncurkan metodologi Grid-Connected Renewables, Storage and Energy Transition (G-RESET) untuk memperluas akses sertifikasi kredit karbon bagi proyek...

Soroti Perdagangan Karbon, Wamenhut Bicara Soal Transformasi Ekonomi Kehutanan Saat Dies Natalis Fahutan UGM

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan mendorong transformasi ekonomi kehutanan dengan mengoptimalkan potensi biodiversitas dan jasa ekosistem, termasuk perdagangan karbon, untuk meningkatkan nilai ekonomi hutan sekaligus...