Kagama Soroti Perluasan Bioethanol, Pemerintah Diminta Jamin Ketersediaan Bahan Baku

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kagama Leaders Forum menilai percepatan program substitusi bahan bakar minyak (BBM) ke bioethanol tidak akan tercapai tanpa integrasi hulu–hilir yang kuat. Langkah ini disebut krusial mengingat impor BBM Indonesia pada 2024 mencapai Rp 654 triliun, salah satu angka tertinggi dalam sejarah.

Dalam diskusi KLF #4 di Griya Arifin Panigoro, Jakarta, Senin (8/12/2025), Presiden Direktur Medco Papua Budi Basuki mengatakan persoalan terbesar pengembangan bioethanol berada pada sisi bahan baku. Ia menyebut sejumlah pabrik bioethanol saat ini tidak dapat beroperasi optimal karena pasokan tebu, singkong, dan jagung tidak stabil.

Read also:  KLH Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular, Jombang Jadi Contoh

“Salah satu masalah kunci adalah feedstock. Kita bisa mulai dari pabrik yang sudah ada, namun pemerintah perlu mengeluarkan regulasi untuk menjamin suplai bahan baku,” kata Budi Basuki.

Ketidakpastian pasokan bahan baku, kata dia, memicu fluktuasi produksi, persaingan dengan kebutuhan pangan, hingga menghambat kepastian kapasitas industri. Tanpa koordinasi petani, pabrik pengolah, dan produsen bioethanol, risiko kelangkaan dan mahalnya harga produksi akan terus berulang.

Read also:  Prabowo Resmikan Biodiesel B50, Klaim Indonesia Tak Lagi Impor Solar

Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada menegaskan pentingnya pendekatan lintas pemangku kepentingan. Prof. Irham menyebut petani harus ditempatkan sebagai bagian integral dari rantai pasok bioethanol. “Namanya sinergi hulu–hilir, kita tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Semua stakeholders harus dilibatkan,” kata Irham.

Diskusi KLF #4 digelar bekerja sama dengan Medco Foundation dan menghadirkan perwakilan industri seperti Pertamina RNE, Medco Energy, Pertamina Patra Niaga, PTPN, serta Toyota Manufacturing Indonesia.

Read also:  IESR Minta Pemerintah Evaluasi Mandatori B50, Nilai Elektrifikasi Lebih Efektif untuk Transisi Energi

Ketua Harian PP Kagama Budi Karya Sumadi mengatakan Indonesia harus bergerak cepat untuk mengurangi ketergantungan pada impor BBM dengan mengembangkan produksi bioethanol domestik. “Kita harus bahu-membahu menghimpun seluruh stakeholders untuk mewujudkan kemandirian energi,” ujarnya.

Forum menekankan perlunya harmonisasi regulasi, mulai dari standar blending (E10 atau E20), kepastian harga, jaminan pasokan bahan baku, hingga insentif industri. Kebijakan yang jelas dinilai akan memberikan kepastian investasi dan mempercepat adopsi bioethanol nasional menuju target implementasi pada 2027. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

KLH Rekomendasikan Penataan Ulang Tata Ruang Sumatra, Cegah Bencana Banjir Berulang

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menemukan jutaan hektare kawasan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memerlukan penataan ulang tata...

Indonesia Luncurkan Empat Dokumen Status Keanekaragaman Hayati, Basis Data Pembangunan Berkelanjutan Makin Kuat

Ecobiz.asia – Pemerintah meluncurkan empat Dokumen Status Keanekaragaman Hayati Indonesia untuk wilayah Bali–Nusa Tenggara, Jawa, Maluku, dan Papua sebagai landasan penyusunan kebijakan pembangunan dan...

Indonesia Siapkan 93 Proyek Hidrogen Senilai Rp32 Triliun untuk Dekarbonisasi Industri dan Transportasi

Ecobiz.asia – Pemerintah mempercepat pengembangan ekosistem hidrogen nasional melalui 93 proyek dengan nilai investasi sekitar Rp32 triliun untuk mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan...

Survei Terbaru Kemenhut Ungkap Populasi Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli, Kondisi Rentan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkap hasil survei populasi terbaru yang menunjukkan populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) diperkirakan mencapai 11.694 individu, sedangkan Orangutan Tapanuli...

Indonesia Undang China Investasi Proyek PLTS 100 GW

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia mengundang perusahaan-perusahaan asal China untuk berinvestasi dalam pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) sebagai bagian...

TOP STORIES

Dairi Prima Mineral Targetkan Konstruksi Tambang Bawah Tanah Dimulai Kuartal I-2027

Ecobiz.asia -- PT Dairi Prima Mineral (DPM) menargetkan memulai konstruksi proyek tambang bawah tanah timah hitam (Pb) dan seng (Zn) di Kabupaten Dairi, Sumatera...

Agincourt Resources Pertahankan Investasi Pendidikan Rp5,29 Miliar di Tengah Pemulihan Operasi

Ecobiz.asia -- PT Agincourt Resources (PTAR) tetap mempertahankan komitmennya dalam pengembangan sumber daya manusia melalui Program Beasiswa Martabe Prestasi 2026, meski perusahaan masih berada...

PLN pilots calliandra-sorghum biomass project with ITERA to support hydrogen production

Ecobiz.asia -- State electricity firm PT PLN (Persero) has launched a pilot project to develop an integrated biomass and green hydrogen ecosystem by cultivating...

Gerak Hijau 2026 Dorong Kolaborasi Pemerintah, Dunia Usaha dan Masyarakat, ANTAM Pamerkan Capaian Dekarbonisasi

Ecobiz.asia -- Upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa. Pesan tersebut mengemuka dalam penyelenggaraan Gerak Hijau 2026 di kawasan Car Free Day...

Pertamina Perkuat Budaya HSSE untuk Jaga Keandalan Operasi dan Ketahanan Energi

Ecobiz.asia – PT Pertamina (Persero) memperkuat implementasi Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) sebagai fondasi menjaga keandalan operasional di tengah pertumbuhan bisnis dan meningkatnya...