Indonesia Resmi Serahkan Second NDC ke UNFCCC, Pertegas Komitmen Aksi Iklim

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia secara resmi menyampaikan dokumen Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) kepada Sekretariat UNFCCC sebagai wujud kelanjutan komitmen nasional dalam pengendalian perubahan iklim.

Dokumen ini menandai pergeseran penting dari pendekatan berbasis business as usual (BAU) menuju target absolut emisi gas rumah kaca (GRK) dengan tahun acuan 2019.

Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup yang juga National Focal Point Indonesia untuk UNFCCC Ary Sudijanto dalam surat penyerahan kepada Sekretaris Eksekutif UNFCCC Simon Stiell tertanggal 23 Oktober 2025, menyatakan dokumen Second NDC mencerminkan peningkatan ambisi dan komitmen berkelanjutan Indonesia terhadap upaya global dalam menghadapi perubahan iklim.

Read also:  Pertamina Evakuasi 19 Pekerja dari Irak dan Dubai, Perjalanan Pulang Capai 14 Hari

“Dokumen ini memuat informasi terukur mengenai titik acuan, kerangka waktu, dan pendekatan implementasi, serta langkah-langkah yang diperkuat untuk memastikan transparansi, inklusivitas, dan keadilan dengan mempertimbangkan kondisi nasional,” demikian tulis Ary dalam suratnya seperti dibaca ecobiz.asia, Senin (27/10/2025).

Dalam target pengurangan emisi Second NDC kini disusun dengan metodologi baru yang lebih transparan dan terukur.

Pemerintah menargetkan puncak emisi terjadi pada 2030 dengan kisaran 1,34–1,49 miliar ton CO₂e, sebelum menurun secara bertahap untuk mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat.

Dokumen ini disusun selaras dengan visi pembangunan jangka panjang Indonesia—RPJPN 2025–2045 dan Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR 2050)—serta menjadi bagian dari implementasi Asta Cita dalam RPJMN 2025–2029.

Read also:  LPEM UI: Kontribusi Ekonomi AMMAN Capai Rp173,4 Triliun Selama 2018–2024

Beberapa regulasi kunci turut memperkuat pelaksanaannya, antara lain Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2023 tentang konservasi energi, Perpres No. 112 Tahun 2022 tentang percepatan energi terbarukan, serta Perpres No. 110 Tahun 2025 tentang nilai ekonomi karbon.

Sektor kehutanan dan lahan (FOLU) tetap menjadi tulang punggung mitigasi melalui target FOLU Net Sink 2030, restorasi gambut seluas 2 juta hektare, dan rehabilitasi lahan 8,3 juta hektare.

Sementara itu, sektor energi diarahkan pada bauran energi baru terbarukan 19–23 persen pada 2030 dan 70 persen pada 2060.

Read also:  Presiden Siapkan Inpres Penyelamatan Gajah, Intervensi Penyusutan Kantong Habitat

Second NDC juga menyoroti integrasi antara mitigasi dan adaptasi, termasuk melalui Program Kampung Iklim (ProKlim), penguatan sistem registri nasional (SRN) yang terhubung dengan Bursa Efek Indonesia untuk perdagangan karbon, serta penerapan prinsip just transition guna memastikan transisi energi yang adil dan inklusif.

Diperkirakan kebutuhan investasi mencapai sekitar 472,6 miliar dolar AS hingga 2035 untuk mendukung implementasi Second NDC, dengan sebagian pembiayaan berasal dari anggaran nasional dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kemenhut dan Satgas PKH Garuda Tertibkan Sawit Ilegal, Pulihkan Mangrove di SM Karang Gading

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) Garuda memulai penertiban kawasan hutan di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur...

Titik Panas Meningkat, Kemenhut Aktifkan Posko Pengendalian Karhutla di Kalbar

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengaktifkan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) di Kalimantan Barat menyusul lonjakan titik panas dan meningkatnya kejadian kebakaran...

IEEFA: Konversi PLTD ke PLTS Bisa Hemat Hingga US$4 Miliar per Tahun

Ecobiz.asia — Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menilai percepatan konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS)...

Sempat Buron, WNA Rusia Penyelundup 202 Reptil ke Dubai Kini Dilimpahkan ke Jaksa

Ecobiz.asia — Warga negara Rusia berinisial OS (46) yang sempat buron dalam kasus penyelundupan 202 reptil ke Dubai resmi dilimpahkan ke jaksa untuk proses...

RI–Korea Sepakati Kerja Sama Energi Bersih hingga CCS, Antisipasi Risiko Krisis Energi Global

Ecobiz.asia — Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan menandatangani tiga kesepakatan strategis di sektor energi dan mineral, termasuk pengembangan penangkapan karbon (CCS) dan mineral kritis,...

TOP STORIES

Kemenhut dan Satgas PKH Garuda Tertibkan Sawit Ilegal, Pulihkan Mangrove di SM Karang Gading

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) Garuda memulai penertiban kawasan hutan di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur...

Pertamina NRE dan US Grains & BioProducts Council Perkuat Kolaborasi Knowledge Exchange Pengembangan Bioetanol

Ecobiz.asia -- Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan US Grains & BioProducts Council (USGBC) pada Jumat,...

Titik Panas Meningkat, Kemenhut Aktifkan Posko Pengendalian Karhutla di Kalbar

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengaktifkan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) di Kalimantan Barat menyusul lonjakan titik panas dan meningkatnya kejadian kebakaran...

Pertamina–POSCO Perkuat Akselerasi Teknologi Rendah Karbon, Jajaki CCS hingga Hidrogen Biru

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) menjajaki kerja sama pengembangan teknologi rendah karbon dengan POSCO International Corporation, mencakup carbon capture hingga hidrogen biru sebagai bagian...

Pertamina NRE, US Grains Council Partner on Bioethanol Development Through Knowledge Exchange

Ecobiz.asia — PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) has signed a memorandum of understanding (MoU) with the US Grains & BioProducts Council...