Indonesia Perkuat Komitmen Energi Bersih di EESA Summit 2025, Gandeng Kolaborasi Strategis dengan China

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan. 

Dalam pembukaan Energy Storage System Alliance (EESA) Summit Indonesia 2025 yang digelar di Jakarta, Selasa (29/4/2025), Direktur Energi Baru Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Andriah Feby Misna, menekankan pentingnya pengembangan teknologi penyimpanan energi sebagai bagian integral dari ekosistem energi masa depan.

“Pemerintah terus mendorong pengembangan energi terbarukan melalui kebijakan, regulasi, standar nasional, pembinaan dan pengawasan, serta fasilitator. Kami juga sangat menyambut baik kolaborasi dengan China di masa depan untuk mendukung penyimpanan energi di Indonesia karena kami memahami bahwa China sudah maju dalam sistem penyimpanan energi,” ujar Feby yang hadir mewakili Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani Dewi.

Baca juga: MedcoEnergi Paparkan Kontribusi untuk Transisi Energi Berkelanjutan  di Advantage Oman Forum 2025

Indonesia saat ini berada dalam fase transisi energi dari dominasi energi fosil ke sumber-sumber energi terbarukan. 

Data menunjukkan, pada tahun 2023, sekitar 60 persen pasokan energi nasional masih berasal dari batu bara, sedangkan kontribusi energi terbarukan baru mencapai sekitar 15 persen. 

Read also:  Panas Bumi, SAF hingga CCS Masuk Agenda Percepatan Kerja Sama Energi Indonesia-Jepang

Pemerintah menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 23 persen pada 2025 dan 30 persen pada 2030, sebagai bagian dari upaya nasional menuju net-zero emission pada 2060.

Dengan lebih dari 17.000 pulau dan populasi sekitar 280 juta jiwa, Indonesia memiliki potensi besar dalam sumber daya energi terbarukan, mulai dari tenaga surya, angin, hingga panas bumi. Potensi tenaga surya Indonesia ditaksir mencapai 3.294 gigawatt (GW), sedangkan potensi tenaga angin mencapai 155 GW.

Namun, pengembangan energi terbarukan menghadapi tantangan besar, terutama karena sifatnya yang tidak stabil (intermiten). Di sinilah peran teknologi penyimpanan energi atau energy storage system (ESS) menjadi krusial, karena dapat membantu menjaga kestabilan jaringan listrik dan meningkatkan fleksibilitas sistem kelistrikan.

EESA Summit Indonesia 2025 menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok dalam bidang penyimpanan energi. Acara ini diprakarsai oleh EESA China dan Seven Event, serta mendapat dukungan penuh dari Kementerian ESDM. 

Baca juga: Pemerintah tengah Merumuskan PERPRES Tentang Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik di Seluruh Kabupaten Kota

Read also:  Indonesia Usulkan Hasil Hutan Bukan Kayu Masuk Agenda Strategis APEC EGILAT

Sejumlah perusahaan teknologi energi dari Tiongkok seperti Suzhou Inovance Technology Co., Ltd., Guangzhou Sanjing Electric Co., Ltd., Sungrow Power Supply Co., Ltd., Zhejiang Hangtai Shuzhi Energy Development Co., Ltd., dan Sienergys Co., Ltd. turut hadir sebagai peserta dan pemapar teknologi.

CEO Seven Event, Andy Wismarsyah, menyatakan bahwa EESA Summit menjadi momentum penting untuk mempertemukan pemangku kepentingan dari kedua negara dalam mendukung agenda transisi energi nasional. “Kami percaya kerja sama lintas negara seperti ini akan mempercepat adopsi teknologi baru dan memperkuat ekosistem energi bersih di Indonesia,” ujarnya.

Secretary-General EESA, Rene Duan, menyebut Indonesia sebagai salah satu negara paling menjanjikan di dunia dalam hal pengembangan energi bersih. 

“Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan energi terbarukan. Melalui EESA Summit, kami ingin menjadi jembatan kolaborasi yang lebih erat antara pelaku industri di China dan Indonesia,” kata Rene.

Sejumlah tokoh dan perwakilan asosiasi energi nasional juga turut hadir dan menyampaikan pandangan mereka. Zainal Arifin dari Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) menyoroti peran penting ESS dalam menghadapi tantangan integrasi energi terbarukan ke dalam jaringan. 

Read also:  Indonesia Serukan Penguatan Perdagangan Hasil Hutan Lestari di Forum Kehutanan APEC

“Sumber seperti surya dan angin sangat bergantung pada kondisi alam, sehingga ESS menjadi kunci untuk memastikan keandalan sistem,” ujarnya.

Dalam kapasitasnya sebagai perwakilan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Zainal juga menekankan pentingnya battery energy storage system (BESS) untuk meningkatkan penetrasi energi terbarukan. 

Sementara itu, Ketua Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI), Dr. Andhika Prastawa, menyampaikan bahwa BESS juga berperan dalam konservasi energi dan efisiensi pemanfaatan sumber daya.

Baca juga: PLN dan Masdar Tandatangani MoU Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung di Indonesia

Wakil Ketua Bidang Riset dan Teknologi Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), I Made Aditya S, mengapresiasi penyelenggaraan EESA Summit dan mendorong kolaborasi nyata antara perusahaan energi di Indonesia dengan mitra dari Tiongkok. 

“Saya berharap banyak kemitraan baru lahir dari forum ini, khususnya dalam sektor energi terbarukan,” ungkapnya.

***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Investasi Rp3 Triliun Masuk, PSEL Piyungan Ditargetkan Hasilkan Listrik 20 MW

Ecobiz.asia – Investasi sekitar Rp3 triliun akan digelontorkan untuk membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Piyungan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)....

Rancang Peta Arahan, Kemenhut Siapkan 5,67 Juta Hektare Kawasan Hutan untuk Perizinan Berusaha

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyiapkan alokasi sekitar 5,67 juta hektare kawasan hutan dalam Peta Arahan Pemanfaatan Hutan (PAPH) Tahun 2026 sebagai acuan penerbitan...

ClientEarth-CPI Indonesia Teken MoU, Percepat Transisi Energi Berkeadilan

Ecobiz.asia – ClientEarth dan Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mempercepat implementasi energi terbarukan dan transisi energi berkeadilan di Indonesia. Kerja...

Menteri Jumhur Ajak Akademisi Wujudkan Kedaulatan Ekologis Jelang 81 Tahun Indonesia Merdeka

Ecobiz.asia – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat mengajak kalangan akademisi menjadikan kedaulatan ekologis sebagai fondasi baru pembangunan Indonesia...

Kemenhut Perkuat Diplomasi Publik, Siapkan SDM Hadapi Negosiasi Kehutanan Global

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang diplomasi publik dan negosiasi internasional guna mendukung kepemimpinan Indonesia dalam tata kelola...

TOP STORIES

Elnusa Perkuat Kapabilitas Geoscience untuk Dukung Eksplorasi Energi

Ecobiz.asia -- PT Elnusa Tbk (Elnusa), perusahaan jasa energi terintegrasi yang merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina, memperkuat kapabilitas Geoscience & Reservoir Services (GRS)...

ADUPI, IDCTA dan ESGIN Bangun Infrastruktur Digital untuk Perkuat Industri Daur Ulang

Ecobiz.asia -- Transformasi industri daur ulang Indonesia memasuki tahap baru dengan semakin pentingnya infrastruktur data, ketertelusuran material dan verifikasi dampak lingkungan. Untuk mendukung agenda...

Penyempurnaan PGN Mobile, Catat Meter Mandiri Kini Lebih Akurat

Ecobiz.asia — PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, terus memperkuat transformasi digital untuk meningkatkan kualitas layanan dan kenyamanan pelanggan GasKita melalui...

VCarboN Eyes Compliance Carbon Markets, Seeks to Expand Indonesian Projects into South Korea

Ecobiz.asia – Indonesian carbon project developer VCarboN is looking beyond the voluntary carbon market (VCM) to tap compliance carbon markets, seeking to expand international...

Indonesia Expands GCF Results-Based Carbon Finance to 34 Provinces

Ecobiz.asia - Indonesia has expanded its Results-Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund (GCF) program to 34 provinces after adding 10 new provincial governments,...