IESR Mulai Susun Pre-FS PLTS Offshore Kolaka untuk Dukung Dekarbonisasi Industri Nikel

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Institute for Essential Services Reform (IESR) mulai menyusun studi pra-kelayakan (pre-feasibility study/Pre-FS) pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung offshore di perairan Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Proyek ini diproyeksikan menjadi salah satu solusi dekarbonisasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive yang memasok kawasan industri nikel di Indonesia.

Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa, mengatakan inisiatif tersebut merupakan bagian dari kajian “Indonesia Captive Power Decarbonisation” yang telah disusun sejak tahun lalu.

Kajian itu menyoroti belum adanya peta jalan yang jelas untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dari pembangkit captive, di tengah target net zero emission Indonesia pada 2060.

“Saat ini kami sedang mencoba menyusun Pre-FS PLTS terapung offshore di sekitar Kolaka untuk menguji skema bisnis power wheeling ke IMIP guna mendukung dekarbonisasi captive power. Indikasi awal menunjukkan proyek ini cukup layak dengan LCOE di bawah 10 sen dolar AS per kWh untuk kapasitas 100 hingga 360 MW,” ujar Fabby dalam Peluncuran Laporan & Ringkasan Kebijakan Dekarbonisasi Pembangkit Listrik Captive di Indonesia, Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, ekspansi PLTU captive dalam beberapa tahun terakhir berlangsung sangat pesat, terutama untuk mendukung agenda hilirisasi mineral. Sejak 2019, kapasitas PLTU captive meningkat tiga kali lipat dari 5,5 GW menjadi 16,6 GW pada 2024.

Read also:  Survei: Publik Asia Tenggara Desak Bank Hentikan Pendanaan PLTU Batu Bara Industri

Saat ini terdapat sekitar 130 unit PLTU captive berkapasitas di atas 30 MW yang beroperasi, serta 21 unit lainnya dalam tahap konstruksi.

Berdasarkan proyeksi Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), tambahan kapasitas batu bara dalam tujuh tahun ke depan diperkirakan mencapai 26,7 GW, dengan sekitar 75% di antaranya berasal dari PLTU captive.

Industri nikel menjadi kontributor terbesar, menyumbang sekitar 76% kapasitas PLTU captive. Kawasan industri seperti Morowali dan Weda Bay berkembang menjadi pusat smelter berbasis listrik batu bara.

Pada 2023, sektor nikel tercatat sebagai penyumbang emisi karbon industri terbesar di Indonesia, dengan kontribusi sekitar 22% emisi nasional dari sektor energi dan proses industri.

Fabby menilai kondisi ini menciptakan paradoks dalam transisi energi. Di satu sisi, Indonesia mendorong produksi mineral kritis seperti nikel untuk mendukung revolusi kendaraan listrik global. Namun di sisi lain, proses produksinya masih sangat intensif karbon, dengan intensitas emisi 7–10 kali lebih tinggi per ton nikel dibandingkan rata-rata global.

Regulasi PLTU captive juga dinilai masih lemah. Pembangkit ini tidak sepenuhnya tercakup dalam moratorium batu bara sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden No. 112/2022 dan belum terikat skema perdagangan emisi yang mulai diterapkan pada PLTU on-grid sejak 2023.

Read also:  KLH Kebut Target 2 Miliar Pohon, Menteri Jumhur Jadikan Bali Barometer Restorasi Ekosistem

Selain itu, listrik yang dihasilkan tidak masuk ke jaringan nasional PLN, sehingga berada di “titik buta” pengawasan emisi.

Tantangan Dekarbonisasi

Fabby mengakui, dekarbonisasi PLTU captive bukan perkara sederhana. Banyak smelter berlokasi di wilayah terpencil di Sulawesi dan Maluku Utara yang belum terhubung jaringan listrik nasional dan memiliki keterbatasan potensi energi terbarukan skala besar.

Selain faktor geografis, aspek keekonomian juga menjadi pertimbangan. PLTU batu bara selama ini dipilih karena mampu menyediakan pasokan listrik stabil dengan harga relatif murah.

Operator smelter telah menginvestasikan miliaran dolar AS pada infrastruktur batu bara, sehingga peralihan mendadak berpotensi memunculkan risiko stranded asset dan menurunkan daya saing.

Di sisi lain, IESR memperkirakan tanpa upaya penurunan emisi, polusi udara dari PLTU captive dapat menyebabkan hingga 5.000 kematian prematur pada 2030 dengan beban ekonomi mencapai US$3,4 miliar. Jika berlanjut hingga 2040, angka kematian prematur berpotensi meningkat menjadi 27.000 jiwa.

Empat Jalur Transisi

Dalam kajiannya, IESR mengidentifikasi empat jalur utama dekarbonisasi PLTU captive. Pertama, integrasi energi terbarukan melalui PLTS yang dikombinasikan dengan sistem penyimpanan baterai (BESS), termasuk opsi PLTS offshore untuk wilayah dengan keterbatasan lahan.

Kedua, pemanfaatan dan perluasan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) serta pembangunan infrastruktur transmisi untuk menghubungkan smelter dengan sumber energi bersih. Ketiga, pengembangan hidrogen hijau untuk lokasi terpencil. Keempat, peningkatan efisiensi proses industri, termasuk pemanfaatan panas buang (waste heat recovery) dan substitusi sebagian batu bara dengan biomassa.

Read also:  PGE Kantongi Pendanaan Global US$477 Juta untuk Tiga Proyek Panas Bumi

Sebagai contoh, Fabby menyoroti praktik di fasilitas pengolahan nikel milik PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Sulawesi Selatan, yang memanfaatkan PLTA berkapasitas 365 MW. Skema tersebut diklaim mampu menurunkan biaya produksi hingga 40% per ton nikel dan mengurangi emisi CO₂ sekitar 2,3 juta ton per tahun.

Dorongan Regulasi dan Pembiayaan

IESR mendorong pemerintah memperketat standar emisi PLTU captive dan menghentikan penerbitan izin baru setelah 2030, sejalan dengan target peningkatan ambisi Nationally Determined Contribution (NDC) kedua Indonesia yang menargetkan puncak emisi sebelum atau pada 2035.

Selain itu, reformasi kebijakan harga batu bara domestik (DMO) dan penyesuaian pajak karbon dinilai penting untuk menciptakan level playing field bagi energi terbarukan.

Saat ini, pajak karbon ditetapkan sekitar US$2 per ton CO₂, yang dianggap terlalu rendah untuk mendorong perubahan perilaku industri.

“Solusi teknis tidak akan berjalan tanpa dukungan regulasi dan pembiayaan. Kita membutuhkan blended finance yang menggabungkan insentif pemerintah, modal internasional, dan investasi swasta untuk mempercepat transisi captive power,” pungkas Fabby. ****

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Indonesia Susun Instrumen Biodiversity Credit Sesuai Karakteristik Keanekaragaman Hayati Nasional

Ecobiz.asia - Pemerintah mulai menyusun instrumen biodiversity credit yang disesuaikan dengan karakteristik keanekaragaman hayati Indonesia sebagai negara megabiodiversitas, guna memperkuat perlindungan dan pemanfaatan sumber...

P3HKI Dorong Sertifikat Kepatuhan Ketenagakerjaan Jadi Syarat Merger dan Akuisisi

Ecobiz.asia – Penguatan kepatuhan ketenagakerjaan dinilai menjadi agenda penting dalam menciptakan iklim investasi yang berkelanjutan di Indonesia. Salah satu langkah yang diusulkan adalah menjadikan...

AgResults Berikan Rp23 Miliar Kepada Pemenang Kompetisi Budidaya Perikanan Berkelanjutan

Ecobiz.asia - Sebanyak 17 pelaku usaha dan koperasi sektor perikanan menerima total insentif senilai Rp23 miliar melalui proyek AgResults Indonesia Aquaculture Challenge yang mendorong...

Budidayakan Gaharu di Hutan Adat, KTH Sadar Sendiri Papua Raih Penghargaan Kalpataru 2026

Ecobiz.asia - Dari hutan adat di Papua, Kelompok Tani Hutan (KTH) Sadar Sendiri membuktikan bahwa kearifan lokal mampu menjadi benteng pertahanan lingkungan sekaligus sumber...

Andalkan Elektrifikasi, KAI Targetkan Emisi Karbon Turun Hingga 100%

Ecobiz.asia – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menargetkan penurunan emisi karbon hingga 100 persen pada 2060 melalui strategi dekarbonisasi berbasis elektrifikasi jalur kereta dan...

TOP STORIES

Pertamina dan BRIN Luncurkan Alat Pengubah Sampah Plastik Jadi Solar di Bantul

Ecobiz.asia – Pertamina melalui Pertamina Foundation bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pemerintah Kabupaten Bantul meluncurkan alat pirolisis multikondensor Gen 5.0 (Faspol...

CBG Jadi Solusi Transisi dari LNG, Manfaatkan 130 Juta M3 Limbah Sawit

Ecobiz.asia - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendorong pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) berbasis limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill...

Tobat Ekologis, Suatu Pendekatan Ekoteologi

Oleh: Saiful Latief, M.Si (Pranata Humas Ahli Muda, Direktorat Inventarisasi GRK dan MPV, Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan TKNEK, Kementerian Lingkungan Hidup) Ecobiz.asia -...

Indonesia Launches SIGN SMART Robust to Strengthen Transparency of National Carbon Emissions Data

Ecobiz.asia — Indonesia’s Ministry of Environment/Environmental Control Agency (KLH/BPLH) has launched a new national greenhouse gas inventory platform called SIGN SMART Robust to improve...

KLH Luncurkan SIGN SMART Robust, Perkuat Transparansi Data Emisi Karbon Nasional

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) meluncurkan Sistem Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional (SIGN SMART Robust) untuk memperkuat kualitas, transparansi, dan...