Hari Primata Indonesia, Belantara Foundation Ingatkan Risiko Kepunahan Spesies Endemik

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kolaborasi multipihak yang lebih kuat untuk mencegah kepunahan primata Indonesia diperlukan, menyusul meningkatnya tekanan terhadap habitat akibat deforestasi, konversi lahan, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal.

Demikian ditegaskan Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna menyambut peringatan Hari Primata Indonesia 2026 yang jatuh pada 30 Januari.

Menurut Dolly, primata memiliki peran kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan hujan tropis, terutama sebagai penyebar biji alami dan indikator kesehatan ekosistem.

“Keberadaan primata di Indonesia saat ini menghadapi ancaman serius yang mengarah pada kepunahan. Fragmentasi hutan mengisolasi populasi, sementara konflik manusia dan primata terus meningkat akibat menyempitnya ruang hidup,” ujar Dolly, Jumat (30/1/2026).

Read also:  Kebijakan Kehutanan Masih Bertumpu pada Interpretasi Tunggal, Sederhanakan Keragaman Sejarah, Sosial, Budaya

Berdasarkan data Mammal Diversity Database 2025, Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman primata tertinggi di dunia, dengan 66 jenis atau sekitar 12,8 persen dari total primata global. Namun, mayoritas jenis tersebut berada dalam kondisi terancam.

Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat 12 jenis primata Indonesia berstatus kritis (Critically Endangered), 25 jenis terancam (Endangered), dan 26 jenis rentan (Vulnerable).

Selain itu, sebagian besar primata Indonesia masuk dalam Appendix I dan II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), yang mengatur ketat perdagangan internasional satwa liar.

Read also:  Rancang Peta Arahan, Kemenhut Siapkan 5,67 Juta Hektare Kawasan Hutan untuk Perizinan Berusaha

Laporan Primates in Peril periode 2023–2025 yang diterbitkan IUCN SSC Primate Specialist Group, International Primatological Society, dan Re:wild juga menempatkan empat primata Indonesia dalam daftar spesies paling terancam di dunia, yakni orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), owa simakobu (Simias concolor), lutung sentarum (Presbytis chrysomelas), dan tarsius sangihe (Tarsius sangirensis).

Belantara Foundation menilai upaya konservasi tidak dapat hanya bertumpu pada pemerintah. Dolly mendorong penerapan pendekatan pentahelix yang melibatkan akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintah, dan media untuk memperkuat perlindungan primata beserta habitatnya.

Read also:  Kemenhut Perkuat Diplomasi Publik, Siapkan SDM Hadapi Negosiasi Kehutanan Global

“Momentum Hari Primata Indonesia harus dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama lintas sektor agar konservasi tidak berhenti pada wacana, tetapi menghasilkan aksi nyata yang berkelanjutan,” kata Dolly.

Hari Primata Indonesia diperingati setiap 30 Januari dan diinisiasi oleh ProFauna sebagai respons atas meningkatnya perburuan dan perdagangan primata. Peringatan ini menjadi bagian dari upaya penyadartahuan publik untuk menekan laju kepunahan primata akibat perusakan habitat dan eksploitasi ilegal. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Investasi Rp3 Triliun Masuk, PSEL Piyungan Ditargetkan Hasilkan Listrik 20 MW

Ecobiz.asia – Investasi sekitar Rp3 triliun akan digelontorkan untuk membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Piyungan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)....

Rancang Peta Arahan, Kemenhut Siapkan 5,67 Juta Hektare Kawasan Hutan untuk Perizinan Berusaha

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyiapkan alokasi sekitar 5,67 juta hektare kawasan hutan dalam Peta Arahan Pemanfaatan Hutan (PAPH) Tahun 2026 sebagai acuan penerbitan...

ClientEarth-CPI Indonesia Teken MoU, Percepat Transisi Energi Berkeadilan

Ecobiz.asia – ClientEarth dan Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mempercepat implementasi energi terbarukan dan transisi energi berkeadilan di Indonesia. Kerja...

Menteri Jumhur Ajak Akademisi Wujudkan Kedaulatan Ekologis Jelang 81 Tahun Indonesia Merdeka

Ecobiz.asia – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat mengajak kalangan akademisi menjadikan kedaulatan ekologis sebagai fondasi baru pembangunan Indonesia...

Kemenhut Perkuat Diplomasi Publik, Siapkan SDM Hadapi Negosiasi Kehutanan Global

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang diplomasi publik dan negosiasi internasional guna mendukung kepemimpinan Indonesia dalam tata kelola...

TOP STORIES

VCarboN Eyes Compliance Carbon Markets, Seeks to Expand Indonesian Projects into South Korea

Ecobiz.asia – Indonesian carbon project developer VCarboN is looking beyond the voluntary carbon market (VCM) to tap compliance carbon markets, seeking to expand international...

Indonesia Expands GCF Results-Based Carbon Finance to 34 Provinces

Ecobiz.asia - Indonesia has expanded its Results-Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund (GCF) program to 34 provinces after adding 10 new provincial governments,...

RBP dan Voluntary Carbon Market Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan Indonesia

Ecobiz.asia – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan mekanisme Results-Based Payment (RBP) dan pasar karbon sukarela (voluntary carbon market) menjadi instrumen yang saling melengkapi...

Sepuluh Provinsi Baru Terima Dana Karbon GCF, Total Komitmen Capai Rp761 Miliar

Ecobiz.asia – Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) menambah 10 provinsi penerima pendanaan Results-Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund (GCF). Dengan penambahan tersebut,...

Investasi Rp3 Triliun Masuk, PSEL Piyungan Ditargetkan Hasilkan Listrik 20 MW

Ecobiz.asia – Investasi sekitar Rp3 triliun akan digelontorkan untuk membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Piyungan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)....