ESG Risk Rating Kian Tentukan Arah Investasi dan Daya Saing Perusahaan di Indonesia

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – ESG Risk Rating dinilai semakin berpengaruh terhadap masa depan bisnis di Indonesia seiring meningkatnya tuntutan investor global dan regulator terhadap transparansi keberlanjutan.

Pemerhati ESG Lastyo Lukito menjelaskan ESG Risk Rating mengukur tingkat eksposur perusahaan terhadap risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola, sekaligus menilai kemampuan perusahaan mengelola risiko tersebut. “Tujuannya untuk pelaporan dan perbaikan,” kata Lastyo di Jakarta dikutip Senin (2/2/2026).

Ia menegaskan pengelolaan ESG tidak berhenti pada kepatuhan. “Perusahaan yang mampu mengelola risiko ESG dengan baik akan lebih tahan terhadap disrupsi industri, krisis lingkungan, dan perubahan sosial yang dinamis,” ujarnya.

Menurut Lastyo, skor ESG juga semakin mempengaruhi reputasi dan akses pendanaan, terutama bagi perusahaan di sektor energi, manufaktur, dan keuangan.

Lastyo mencontohkan Pertamina sebagai salah satu perusahaan yang mencatat peningkatan signifikan dalam peringkat ESG per 31 Desember 2025.

Read also:  Indonesia Luncurkan SOIFO 2026 di Markas FAO Roma: 95,5 Juta Hektare Hutan Jadi Modal Ketahanan Pangan dan Iklim

Pertamina meraih skor 23,1 atau Medium Risk menurut Sustainalytics dan naik ke peringkat BBB dari MSCI, sementara Pertamina Patra Niaga memperoleh rating A untuk kategori emisi karbon.

“Ini menandakan bahwa Pertamina memiliki komitmen kuat terhadap keberlanjutan dan transisi energi di tengah tantangan industri,” ujarnya.

Penasihat senior Social Investment Indonesia Sonny Sukada mengatakan ESG muncul pada 2004–2005 sebagai kerangka penilaian bagi investor untuk mengukur kinerja keberlanjutan dalam konteks finansial.

“Pelaporan keberlanjutan merupakan bagian penting dari keuangan keberlanjutan,” kata Sonny yang juga anggota Dewan Pengawas Komunitas Profesional Keberlanjutan (IS2P).

Sonny menjelaskan tiga pendekatan utama dalam penilaian ESG Risk Rating. Pertama, impact materiality yang menilai dampak perusahaan terhadap masyarakat dan planet, seperti polusi udara dan gas rumah kaca.

Read also:  Ekonomi Hijau Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Indonesia, Potensi Serap 5,3 Juta Lapangan Kerja

Kedua, double materiality yang mencakup perspektif inside-out dan outside-in. Inside-out menilai bagaimana perusahaan mengelola dampak operasionalnya terhadap lingkungan dan masyarakat, sedangkan outside-in menilai bagaimana faktor eksternal memengaruhi bisnis.

“Dalam konteks ini perusahaan harus proaktif dalam mengatasi risiko sosial dan lingkungan dari dalam organisasi guna menciptakan nilai jangka panjang dan reputasi,” ujarnya.

Pendekatan ketiga adalah financial materiality, yaitu bagaimana faktor seperti perubahan iklim atau cuaca ekstrem mempengaruhi performa keuangan perusahaan. Namun Sonny menegaskan rating ESG tidak akan bermakna apabila perusahaan tidak memahami prinsip inside-out dan outside-in.

“Apa yang dilakukan perusahaan secara inside-out dan outside-in itulah yang dinilai oleh lembaga pemeringkat,” katanya.

Ia menambahkan setiap lembaga pemeringkat memiliki cakupan penilaian berbeda, sehingga perusahaan perlu menyesuaikan dengan kebutuhan investor. Lembaga global seperti Sustainalytics, MSCI ESG Ratings, FTSE Russell, dan S&P Global ESG Scores kini menjadi acuan utama investor dalam menilai keberlanjutan perusahaan.

Read also:  Elektrifikasi Industri Didorong untuk Pangkas Emisi dan Biaya Energi

Sonny menyebut investor semakin menjadikan ESG sebagai faktor utama keputusan investasi, dan perusahaan dengan peringkat baik memiliki akses lebih luas ke dana berkelanjutan maupun obligasi hijau.

Ia mengatakan 2026 akan menjadi masa persiapan terakhir bagi perusahaan sebelum Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK) yang disusun Kementerian Keuangan, OJK, dan Bank Indonesia berlaku efektif pada 1 Januari 2027.

“Tahun 2026 merupakan tahun persiapan terakhir bagi perusahaan untuk comply atau patuh terhadap regulasi,” ujarnya.

Menurut Sonny, peringkat ESG akan berperan semakin besar dalam membentuk daya saing dan lanskap bisnis nasional pada tahun-tahun mendatang. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

Kepatuhan Produsen Rendah, KLH Rancang Ulang Permen Peta Jalan Pengelolaan Sampah

Ecobiz.asia — Rendahnya kepatuhan produsen dalam menjalankan tanggung jawab pengurangan sampah mendorong Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) merancang ulang regulasi tentang pengurangan...

Satgas PKH Kuasai Kembali 6,21 Juta Hektare Kawasan Hutan Jadi Sawit, 14.633,79 Hektare Jadi Tambang

Ecobiz.asia — Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) telah menguasai kembali kawasan hutan seluas 6.206.212,14 hektare pada sektor perkebunan sawit dan 14.633,79 hektare...

TOP STORIES

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

Ecobiz.asia – Parlemen mulai menyiapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Iklim Berkeadilan untuk memberikan kepastian dan menjaga konsistensi regulasi bagi proyek-proyek karbon yang...

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Ecobiz.asia – Tiga perusahaan start up teknologi iklim mendapat suntikan dana Rp15 miliar untuk menguji solusi mereka di Indonesia, menandai meningkatnya aliran modal ke...