Capaian Contingent Resource Tembus 151 Persen, SKK Migas Sebut Potensi Nasional Masih Besar

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat capaian signifikan dalam penambahan contingent resource migas.

Hingga Juni 2025, volume sumber daya migas potensial yang berhasil diidentifikasi mencapai 919 juta barel setara minyak (MMBOE), atau 151,9 persen dari target tahunan sebesar 650 MMBOE.

Capaian tersebut menunjukkan optimisme terhadap kelanjutan eksplorasi migas di Indonesia, sekaligus memperkuat basis produksi energi nasional di masa depan.

SKK Migas memperkirakan hingga akhir tahun angka tersebut akan meningkat menjadi 1.143 MMBOE atau 189 persen dari target jika semua rencana berjalan sesuai proyeksi.

Read also:  Kemenhut Ungkap Dua Badak Sumatera di SRS Way Kambas Bunting, Harapan Populasi Bertambah

“Capaian ini menunjukkan bahwa potensi sumber daya migas nasional masih besar dan menjanjikan,” kata Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, Jumat (25/7/2025).

Pemerintah telah menetapkan contingent resource sebagai salah satu indikator kinerja utama sektor hulu migas sejak 2024, untuk melengkapi indikator reserve replacement ratio (RRR). Ketika sumber daya tersebut masuk tahap Plan of Development (POD), maka statusnya berubah menjadi cadangan migas yang dapat diproduksi.

SKK Migas mencatat dari total 279 struktur penemuan migas yang belum dikembangkan (undeveloped discovery), sebanyak 83 struktur telah memperoleh status Penetapan Status Eksplorasi (PSE) dengan potensi 216 juta barel minyak dan 3,8 triliun kaki kubik (TCF) gas.

Read also:  Potensi Jadi Andalan Listrik Bersih Industri, Pengembangan Hidro dan Geotermal Hadapi Banyak Tantangan

Sementara itu, 196 struktur lainnya masih menunggu proses PSE dengan potensi yang jauh lebih besar: 1,125 miliar barel minyak dan 8,3 TCF gas.

Tantangan utama dalam peningkatan status contingent resource menjadi cadangan adalah aspek keekonomian, terutama pada lapangan marginal dan area terpencil yang belum memiliki infrastruktur pendukung.

“Kami mendorong skema komersialisasi melalui pengangkutan trucking, pembangunan mini LNG/LPG, dan pemanfaatan aset yang sudah ada,” ujar Rikky.

Read also:  Tak Hanya Proteksi dan Restorasi, BP-GMN Akan Sentuh Aspek Ekonomi Gambut dan Mangrove

Ia menambahkan, pemerintah juga memberikan dukungan berupa insentif fiskal dan non-fiskal agar lapangan-lapangan kurang ekonomis bisa dikembangkan. Hal ini menjadi penting mengingat proyeksi kebutuhan energi nasional terus meningkat.

Mengacu pada Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pada tahun 2050 kebutuhan minyak Indonesia diperkirakan naik 139 persen dan kebutuhan gas melonjak hingga 298 persen dibanding saat ini.

“Semua potensi sumber daya harus bisa dikembangkan untuk mendukung ketahanan energi nasional,” tutup Rikky. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Ambisi 100 GWp Terancam Jadi Narasi Panggung, COP31 Jadi Momentum Pembuktian Prabowo

Ecobiz.asia — Ambisi pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) hingga 2029 berisiko berhenti sebagai komitmen di panggung internasional...

Indonesia Dorong Pendanaan Konkret untuk Transisi Energi Berkeadilan di COP31

Ecobiz.asia — Indonesia akan mendorong realisasi dukungan pendanaan, penguatan kapasitas, dan bantuan teknis bagi negara berkembang dalam pelaksanaan transisi energi berkeadilan pada Konferensi Perubahan...

MADANI Desak Penguatan Hukum IBSAP, Perkuat Perlindungan Keanekaragaman Hayati Indonesia

Ecobiz.asia — Sebanyak 14,84 juta hektare areal bernilai keanekaragaman hayati tinggi (ABKT) di Indonesia berada di luar sistem perlindungan kawasan hutan formal, sementara 5,91...

RUU Pengendalian Perubahan Iklim Berkeadilan Dibawa ke COP31

Ecobiz.asia — Indonesia menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengendalian Perubahan Iklim Berkeadilan sebagai salah satu inisiatif yang akan dibawa ke Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-31...

Tobat Ekologis, 2.649 Sekolah Jalankan Aksi Pengelolaan Sampah hingga Konservasi Energi

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggerakkan 2.649 sekolah di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota untuk menjalankan aksi lingkungan terukur selama...

TOP STORIES

Ambisi 100 GWp Terancam Jadi Narasi Panggung, COP31 Jadi Momentum Pembuktian Prabowo

Ecobiz.asia — Ambisi pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) hingga 2029 berisiko berhenti sebagai komitmen di panggung internasional...

Indonesia Dorong Pendanaan Konkret untuk Transisi Energi Berkeadilan di COP31

Ecobiz.asia — Indonesia akan mendorong realisasi dukungan pendanaan, penguatan kapasitas, dan bantuan teknis bagi negara berkembang dalam pelaksanaan transisi energi berkeadilan pada Konferensi Perubahan...

Pertamina Explores Sustainable Aviation Fuel From Urban Waste, Partners With PAL Jaya

Ecobiz.asia – Indonesia’s state-owned energy company PT Pertamina (Persero) is exploring the use of urban fat, oil and grease (FOG) waste as an alternative...

ICAO Joins Alliance to Boost Carbon Credit Supply for Aviation

Ecobiz.asia – The International Civil Aviation Organization (ICAO) has joined an alliance of more than 80 stakeholders working to accelerate the supply of eligible...

Kemenhut: GANISPH Dibutuhkan untuk Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menilai tenaga teknis pengelolaan hutan (GANISPH) akan memegang peran penting dalam ekosistem perdagangan karbon, seiring berkembangnya pemanfaatan hutan yang...