Beberkan Hasil Nekropsi, Kemenhut: Kematian Badak Jawa yang Ditranslokasi Akibat Penyakit Bawaan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan menyampaikan penjelasan resmi terkait kematian Musofa, individu Badak Jawa hasil translokasi dalam Program Operasi Merah Putih di Taman Nasional Ujung Kulon. Pemeriksaan tim ahli memastikan satwa tersebut mati akibat penyakit kronis bawaan yang telah diderita jauh sebelum proses pemindahan dilakukan.

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (28/11/2025), menyampaikan duka cita sekaligus menegaskan bahwa seluruh proses translokasi telah mengikuti standar ilmiah dan etika konservasi satwa liar.

“Pertama-tama kami menyampaikan rasa duka mendalam atas wafatnya Musofa. Proses translokasi telah dilakukan sesuai prosedur dan melibatkan tenaga ahli dari dalam dan luar negeri,” katanya.

Read also:  Tobat Ekologis, 2.649 Sekolah Jalankan Aksi Pengelolaan Sampah hingga Konservasi Energi

Rohmat menjelaskan hasil nekropsi yang dilakukan tim patologi dari SKHB IPB University menunjukkan adanya kerusakan kronis pada hati, paru-paru, dan otak, serta infeksi parasit signifikan pada saluran pencernaan.

“Kami memastikan bahwa seluruh tindakan penanganan telah mengikuti standar internasional. Seluruh proses juga diaudit oleh tenaga ahli independen,” ujarnya.

Kemenhut menegaskan translokasi Musofa merupakan langkah strategis untuk memperkuat populasi Badak Jawa yang berstatus Kritis (Critically Endangered) dengan jumlah sangat terbatas dan hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon.

Read also:  PHE Dorong Asri Basin Jadi Hub Penyimpanan Karbon Regional

Seluruh tahapan Operasi Merah Putih dilakukan secara ketat, termasuk simulasi taktis, analisis etik, dan pengamanan oleh Mabes TNI serta tenaga medis profesional.

Proses pemindahan dimulai pada 3 November 2025 saat Musofa masuk ke pit trap dan dipindahkan ke kandang angkut. Setelah menunggu kondisi cuaca membaik, Musofa dibawa ke Javan Rhino Study and Conservation Area pada 5 November menggunakan KAPA Marinir TNI AL.

Musofa tiba di Paddock dalam kondisi stabil dan dapat makan serta buang air secara normal. Namun pada 7 November satwa tersebut mendadak lemah dan meski telah mendapat tindakan darurat, Musofa dinyatakan tidak dapat diselamatkan pada pukul 16.16 WIB.

Read also:  Kemenhut Ungkap Dua Badak Sumatera di SRS Way Kambas Bunting, Harapan Populasi Bertambah

Rohmat menilai peristiwa ini menjadi pembelajaran penting bagi peningkatan standar kesehatan dan deteksi dini penyakit satwa liar, serta penguatan protokol keselamatan translokasi.

“Translokasi tetap merupakan tonggak penting bagi konservasi Badak Jawa. Kami akan memastikan evaluasi menyeluruh dilakukan agar upaya konservasi ke depan semakin kuat,” ujarnya.

Konferensi pers turut dihadiri perwakilan TNI, Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Yayasan Badak Indonesia, serta tim dokter hewan Operasi Merah Putih. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

Tak Tebang Pilih, Menhut Bekukan Izin Enam Perusahaan di Kalteng terkait Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membekukan izin enam perusahaan yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Dengan penambahan tersebut,...

Kemenhut Tanggapi Kritik Greenpeace Soal Karhutla, Beberkan Operasi Pemadaman hingga Sanksi ke Perusahaan

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menanggapi kritik Greenpeace Indonesia dengan menegaskan bahwa anggapan pemerintah tidak bertindak dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak...

Pusat Data Butuh Tambahan 20 GW, Bahlil Siapkan Energi Bersih untuk Batam–Karimun–Bintan

Ecobiz.asia — Indonesia membutuhkan tambahan pasokan listrik sekitar 20 gigawatt (GW) untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pusat data. Pemerintah menyiapkan Batam, Karimun, dan Bintan sebagai...

Transmisi Jadi Tantangan, PLN Sebut Butuh Investasi Rp3.400 Triliun Untuk Transisi Energi

Ecobiz.asia — Pembangunan jaringan transmisi menjadi salah satu tantangan utama transisi energi Indonesia karena sumber energi dan pusat permintaan listrik tersebar di wilayah berbeda....

TOP STORIES

PHE Andalkan Teknologi Geosains untuk Optimalkan Potensi Migas Nasional

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong pemanfaatan teknologi geosains untuk meningkatkan keberhasilan eksplorasi dan mengoptimalkan produksi lapangan minyak dan...

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

PEP Tanjung Salurkan 1,16 Juta Liter Air Bersih untuk Atasi Kekeringan dan Karhutla di Tabalong

Ecobiz.asia – PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field menyalurkan 1,156 juta liter air bersih untuk membantu masyarakat menghadapi kekeringan sekaligus mendukung penanganan kebakaran hutan...