COP30 Belém: Indonesia Dorong Penyederhanaan Indikator GGA dan Penguatan Dukungan Adaptasi

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Delegasi Indonesia menegaskan komitmen memperkuat implementasi Global Goal on Adaptation (GGA) dalam perundingan COP30 di Belém, Brasil, sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan iklim nasional.

Pembahasan GGA pada konferensi tahun ini berfokus pada finalisasi indikator, Belem Adaptation Roadmap (BAR), serta mekanisme Means of Implementation (MoI) yang mencakup pendanaan, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas.

“Indonesia menuntut indikator GGA yang sederhana, terukur, dan bisa diterapkan sesuai kondisi nasional. Tanpa dukungan pendanaan, teknologi, dan peningkatan kapasitas, target adaptasi hanya akan menjadi dokumen tanpa aksi nyata,” kata Direktur Adaptasi Perubahan Iklim sekaligus Lead Negotiator Indonesia, Franky Zamani, dalam sesi konsultasi informal GGA di COP30, Kamis (20/11/2025).

Read also:  Gakkum Kehutanan Kejar Jaringan Pembunuhan Gajah di Riau, Identifikasi Pelaku Lapangan Hingga Pemodal

Proses penyusunan GGA telah berlangsung sejak Glasgow–Sharm el Sheikh Work Programme (COP26), pengembangan kerangka pada CMA4 (COP27), hingga adopsi UAE Framework dan penetapan UAE Belem Work Programme pada CMA5 (COP28).

Laporan teknis terbaru yang dirilis 8 September 2025 memuat 100 indikator potensial yang dikelompokkan dalam 11 target, mencakup tujuh target substansi—air dan sanitasi, pangan, kesehatan, ekosistem, infrastruktur, pengentasan kemiskinan, serta dampak/kerentanan—dan empat target pendukung, seperti perencanaan, implementasi, monitoring-evaluasi-pembelajaran, dan penilaian risiko.

Read also:  Indonesia–Norwegia Luncurkan Layanan Dana Masyarakat Periode Keempat, Perkuat Partisipasi Publik dalam Aksi Iklim

Indonesia menyambut penyederhanaan indikator menjadi 100 butir yang dianggap memudahkan proses pelaporan. Namun, delegasi RI menekankan pentingnya relevansi indikator bagi negara berkembang dan perlunya fleksibilitas penerapan melalui prinsip Common but Differentiated Responsibilities and Respective Capabilities (CBDR-RC).

Pembahasan juga menyoroti kaitan antara indikator GGA dan dukungan MoI. Indonesia menegaskan bahwa tanpa jaminan pendanaan, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas, indikator adaptasi berisiko menjadi beban administrasi tanpa implementasi nyata.

Terkait istilah Transformational Adaptation (TA), Indonesia meminta agar fokus pembahasan tetap pada finalisasi indikator yang aplikatif sebelum memperluas diskusi ke terminologi yang dapat menambah kompleksitas.

Read also:  KLH Segel Dua Perusahaan Batu Bara Pencemar Sungai, Penyebab Matinya Pesut Mahakam

Indonesia mendorong agar keputusan GGA di COP30 mengakomodasi kebutuhan negara-negara berkembang melalui kejelasan mekanisme MoI serta membuka ruang evaluasi dan penyesuaian indikator dalam fase implementasi awal.

“Keberhasilan GGA diukur dari kemampuan negara, termasuk Indonesia, menerjemahkan indikator menjadi aksi nyata. KLH/BPLH siap bekerja sama dengan mitra internasional untuk memastikan indikator ini benar-benar mendorong adaptasi yang adil dan efektif,” ujar Franky. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Jangan Terus Bebani TPA, Menteri LH: Pengelolaan Sampah Kota Harus Dimulai Dari Rumah

Ecobiz.asia — Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak boleh lagi bertumpu pada Tempat Pemrosesan Akhir...

Kementerian Kehutanan Tegaskan Legalitas Kayu yang Diangkut di Sungai Kapuas

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyampaikan klarifikasi atas unggahan viral mengenai aktivitas pengangkutan rakit kayu gelondongan di Sungai Kapuas, Kalimantan Tengah, dan memastikan bahwa...

IESR Mulai Susun Pre-FS PLTS Offshore Kolaka untuk Dukung Dekarbonisasi Industri Nikel

Ecobiz.asia - Institute for Essential Services Reform (IESR) mulai menyusun studi pra-kelayakan (pre-feasibility study/Pre-FS) pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung offshore di perairan...

KLH Dorong Pengelolaan Sampah Naik, Pelanggaran Turun

Ecobiz.asia – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, menegaskan bahwa capaian pengelolaan sampah nasional yang saat ini masih...

Perusahaan Batubara dan Nikel yang Dibekukan KLH Capai 80 Unit, Masih akan Bertambah

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) membekukan izin lingkungan 80 unit usaha pertambangan batu bara dan nikel setelah menemukan pelanggaran serius...

TOP STORIES

Gakkum Kehutanan Ungkap Perdagangan Sisik Trenggiling di Sintang, Barang Bukti 1,38 Kg Diamankan

Ecobiz.asia – Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Kalimantan berhasil mengungkap kasus perdagangan ilegal bagian satwa dilindungi berupa sisik Trenggiling di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Dalam operasi...

Jangan Terus Bebani TPA, Menteri LH: Pengelolaan Sampah Kota Harus Dimulai Dari Rumah

Ecobiz.asia — Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak boleh lagi bertumpu pada Tempat Pemrosesan Akhir...

Terdaftar di IDX Carbon, NBE Tawarkan Kredit Karbon dari Proyek Biogas Limbah Sawit

Ecobiz.asia — PT Nagata Bio Energi (NBE), anak usaha PT ABM Investama Tbk, resmi bergabung dengan IDX Carbon, menawarkan kredit karbon yang dihasilkan dari...

Pertamina Targets Europe, Asia-Pacific with Globally Certified Sustainable Aviation Fuel

Ecobiz.asia — PT Pertamina is accelerating its entry into the international market by developing a globally certified sustainable aviation fuel (SAF) ecosystem, positioning Indonesia...

Bangun Ekosistem SAF Tersertifikasi Global, Pertamina Siap Tembus Pasar Internasional

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) mempercepat langkah masuk ke pasar internasional melalui pembangunan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang terverifikasi secara global. Inisiatif ini diarahkan...