Reklamasi Tambang Jadi Ujian ESG, ESDM Minta Hasilnya Bisa Diukur

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menekankan bahwa kepatuhan terhadap prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) di sektor pertambangan harus dibuktikan melalui kinerja nyata di lapangan. Reklamasi dan pascatambang menjadi salah satu aspek yang mendapat sorotan karena hasil pemulihan lahan perlu dapat diukur dan diverifikasi.

Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Ditjen Minerba Kementerian ESDM Ahmad Syauqi mengatakan, penerapan kaidah pertambangan yang baik harus menjangkau seluruh perusahaan, baik skala besar maupun kecil.

“Sehingga yang kita tekankan adalah bagaimana ini bisa dilakukan dengan baik dan bisa diukur,” ujar Syauqi dalam Executive Dialogue bertema “Memperkuat Praktik ESG Menuju Industri Pertambangan yang Berdaya Saing Global” pada Minerba Convex 2026 di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Menurut Syauqi, Indonesia telah memiliki berbagai ketentuan terkait pengelolaan lingkungan, reklamasi dan pascatambang, keselamatan pekerja, serta pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Tantangannya adalah memastikan seluruh ketentuan tersebut benar-benar dilaksanakan oleh perusahaan dengan kondisi dan kemampuan yang berbeda.

Read also:  Transmisi Jadi Tantangan, PLN Sebut Butuh Investasi Rp3.400 Triliun Untuk Transisi Energi

Ia mengatakan pembinaan dan pengawasan tidak dapat hanya berfokus pada perusahaan besar. Pemenuhan persyaratan pasar juga perlu diperhatikan sejak kegiatan pertambangan di bagian hulu agar tanggung jawab tidak seluruhnya dibebankan kepada industri pengolahan.

Syauqi turut menyoroti perlunya integrasi data antarkementerian. Perbedaan kewenangan dan indikator pengukuran di setiap instansi membuat informasi perlu dihubungkan agar dapat mendukung penilaian dan pengawasan.

Hasil penilaian pemerintah terhadap pemenuhan suatu kriteria, menurut dia, diharapkan dapat diperhitungkan dalam penilaian lain yang setara. Dengan demikian, perusahaan tidak perlu berulang kali menjalani proses pemeriksaan untuk aspek yang sama.

Read also:  ESDM Bongkar Dugaan Tambang di Kebun Sawit, Sejumlah Perusahaan Asing Didalami

Dari sisi pelaku usaha, Komisaris Utama PT Multi Harapan Utama (MHU) Setyo Sardjono mengatakan reklamasi dan pascatambang menjadi salah satu bukti kinerja lingkungan yang diperhatikan investor, pembeli, dan masyarakat.

Menurut Setyo, penilaian ESG tidak lagi berhenti pada kepatuhan perusahaan terhadap izin. Pihak eksternal juga ingin mengetahui dampak kegiatan pertambangan di setiap lokasi dan bukti pemulihan lahan yang dilakukan.

“Tetapi, bisakah dampaknya dibuktikan per lokasi dengan data?” kata Setyo.

Ia menekankan perlunya keterbukaan informasi mengenai rencana pemanfaatan lahan, perkembangan reklamasi, dan kondisi yang ingin dicapai setelah pemulihan selesai. Data tersebut perlu didukung verifikasi independen agar hasilnya dapat diperiksa oleh pihak lain.

Setyo juga mendorong keterhubungan data produk dengan kinerja ESG di lokasi asal tambang. Dengan sistem ketertelusuran tersebut, pembeli diharapkan dapat mengetahui asal suatu pengapalan sekaligus menilai kinerja reklamasi di wilayah pertambangannya.

Read also:  Pakar Hukum Dorong Evaluasi Aturan Pembakaran Lahan untuk Cegah Karhutla

Persoalan pembiayaan juga menjadi perhatian. Menurut Setyo, biaya reklamasi harus diperhitungkan sejak awal kegiatan tambang dan disiapkan secara bertahap, termasuk melalui pengelolaan jaminan reklamasi.

Perusahaan, kata dia, tidak seharusnya baru memikirkan ketersediaan dana ketika tambang mendekati masa penutupan. Pelaksanaan reklamasi perlu menjadi bagian dari perencanaan usaha dan pengelolaan risiko perusahaan.

Setyo menyebut agroforestri, yang menggabungkan pepohonan dengan kegiatan pertanian, serta pengembangan hutan energi sebagai sejumlah pilihan pemanfaatan lahan setelah reklamasi. Namun, pemilihan model tersebut perlu mempertimbangkan kesesuaian lahan, status kawasan, dan kepastian pembeli hasilnya.

Ia juga menempatkan potensi manfaat karbon sebagai nilai tambah, bukan satu-satunya dasar pengembangan bisnis pascatambang. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kelahiran Baru di Ujung Kulon dan Jejak Perburuan Sepuluh Badak Jawa

Ecobiz.asia - Seekor anak Badak Jawa kembali lahir di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten. Kehadirannya terekam kamera jebak pada 10 Oktober 2026, ketika...

WWF-Indonesia Dorong Pembiayaan Berbasis Lanskap untuk Perkebunan Berkelanjutan, Butuh Kolaborasi

Ecobiz.asia – WWF-Indonesia mendorong pembiayaan berbasis lanskap (Landscape Finance Approach) untuk meningkatkan produktivitas perkebunan sekaligus melindungi hutan, sumber air, dan keanekaragaman hayati. Pendekatan ini dinilai...

Masyarakat Sipil Desak Pemerintah Perkuat Aksi Perlindungan Keanekaragaman Hayati Pasca COP17

Ecobiz.asia – Sejumlah organisasi masyarakat sipil mendesak pemerintah Indonesia menerjemahkan kesepakatan Konferensi Para Pihak ke-17 Konvensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP17 CBD) menjadi aksi nyata...

Pertambangan Ramah Lingkungan, WRI: Patuh Aturan Nasional Belum Cukup

Ecobiz.asia – Perusahaan tambang yang telah memenuhi regulasi nasional masih berpotensi diminta melakukan perbaikan saat mengikuti penilaian lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) internasional....

BIM Dorong Ekstraksi Logam Tanah Jarang dari Limbah Tambang dan Sampah Elektronik

Ecobiz.asia - Badan Industri Mineral (BIM) mendorong pengembangan teknologi untuk mengambil logam tanah jarang dari limbah pengolahan tambang dan sampah elektronik. Pengembangan ini dinilai...

TOP STORIES

Pertamina, Toyota Extend Strategic Partnership Through 2030 to Develop Low-Carbon Fuels

Ecobiz.asia – Indonesia's state-owned energy company Pertamina and Japan's Toyota Group have extended their strategic partnership for another five years through 2030, with cooperation...

Kelahiran Baru di Ujung Kulon dan Jejak Perburuan Sepuluh Badak Jawa

Ecobiz.asia - Seekor anak Badak Jawa kembali lahir di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten. Kehadirannya terekam kamera jebak pada 10 Oktober 2026, ketika...

WWF-Indonesia Dorong Pembiayaan Berbasis Lanskap untuk Perkebunan Berkelanjutan, Butuh Kolaborasi

Ecobiz.asia – WWF-Indonesia mendorong pembiayaan berbasis lanskap (Landscape Finance Approach) untuk meningkatkan produktivitas perkebunan sekaligus melindungi hutan, sumber air, dan keanekaragaman hayati. Pendekatan ini dinilai...

Masyarakat Sipil Desak Pemerintah Perkuat Aksi Perlindungan Keanekaragaman Hayati Pasca COP17

Ecobiz.asia – Sejumlah organisasi masyarakat sipil mendesak pemerintah Indonesia menerjemahkan kesepakatan Konferensi Para Pihak ke-17 Konvensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP17 CBD) menjadi aksi nyata...

Pertambangan Ramah Lingkungan, WRI: Patuh Aturan Nasional Belum Cukup

Ecobiz.asia – Perusahaan tambang yang telah memenuhi regulasi nasional masih berpotensi diminta melakukan perbaikan saat mengikuti penilaian lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) internasional....