Ecobiz.asia – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membidik bisnis baru dari hilirisasi batu bara, mulai dari dimetil eter (DME), gas alam sintetis (SNG), hingga bahan anoda baterai. Namun, pengembangan produk turunan tersebut masih menghadapi tantangan investasi teknologi, pengendalian emisi, serta penilaian lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Sustainability Division Head PTBA Dedy Saptaria Rosa mengatakan perusahaan tengah mengkaji pengolahan batu bara menjadi DME, SNG, bahan bakar cair, serta grafit sintetis dan lembaran anoda untuk baterai kendaraan listrik.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah batu bara, termasuk jenis berkalori rendah, sekaligus memperluas sumber pendapatan perusahaan di luar bisnis batu bara konvensional.
Khusus pengembangan DME, Dedy menilai dukungan kebijakan nasional diperlukan karena proyek tersebut membutuhkan teknologi dan investasi besar. Keterlibatan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan menjadi salah satu faktor penting dalam merealisasikan rencana tersebut.
Sejauh ini, pengolahan batu bara menjadi DME, SNG, dan bahan bakar cair masih dalam tahap kajian. Sementara itu, pengembangan grafit sintetis dan lembaran anoda diarahkan untuk membuka peluang PTBA memasuki rantai pasok bahan baterai kendaraan listrik.
PTBA juga mengembangkan kalium humat sebagai pembenah tanah untuk mendukung sektor pertanian dan perkebunan serta meningkatkan efisiensi pemupukan.
Di sisi lingkungan, pengembangan hilirisasi batu bara dinilai perlu diikuti teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon atau carbon capture, utilization, and storage (CCUS). Teknologi tersebut membutuhkan investasi dan kemampuan teknis yang tidak kecil.
“Tapi tentunya upaya ini harus terintegrasi dengan kegiatan CCUS, dan ini membutuhkan investasi dan teknologi yang cukup tinggi,” ujar Dedy dalam Executive Dialogue bertema “Memperkuat Praktik ESG Menuju Industri Pertambangan yang Berdaya Saing Global” di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Di kegiatan operasional, PTBA menjalankan efisiensi energi, optimalisasi kegiatan tambang, dan elektrifikasi peralatan. Perusahaan juga menerapkan konsep bangunan hijau di lingkungan kantor untuk menekan emisi.
Namun, tantangan lain muncul dalam penilaian ESG oleh pihak eksternal. Dedy mengatakan, kebutuhan perusahaan untuk terus bertumbuh dan meningkatkan produksi batu bara terkadang tidak sejalan dengan perspektif penilaian keberlanjutan.
“Karena sebagai perusahaan batu bara kita tetap harus growth dan kita harus menambah jumlah produksi kita. Jadi terkadang persepsi ini cara pandang luar dan di dalam kita berbeda,” ujarnya.
Aspek lain yang menjadi perhatian dalam penilaian tersebut adalah mekanisme penunjukan direksi dan komisaris, terutama terkait independensi tata kelola perusahaan.
PTBA saat ini juga menjalankan penilaian mandiri terhadap standar International Council on Mining and Metals (ICMM). Proses tersebut mencakup sejumlah prinsip, antara lain etika bisnis dan masyarakat adat.
Selain penilaian ESG, Dedy menekankan pentingnya penerimaan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Perusahaan menjalankan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat serta menyediakan saluran untuk menyampaikan informasi dan pengaduan.
Layanan tersebut mencakup akses Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) melalui situs perusahaan serta jalur pengaduan langsung bagi masyarakat yang tidak menggunakan layanan daring. Setiap keluhan, menurut Dedy, perlu diidentifikasi dan dimitigasi sebelum dibahas lebih lanjut oleh perusahaan.
Pengembangan bisnis hilirisasi juga menuntut penyesuaian kompetensi tenaga kerja. PTBA menjalankan pelatihan bagi pekerja yang sebelumnya berfokus pada kegiatan pertambangan agar memiliki keterampilan untuk mendukung pengolahan batu bara menjadi produk turunan.
Dedy berharap proses peningkatan kompetensi tersebut dapat menyiapkan tenaga kerja untuk menghadapi arah pengembangan bisnis perusahaan setelah 2030. ***




