Ecobiz.asia – Program pengembangan energi terbarukan di Provinsi Maluku memasuki fase kedua melalui kemitraan Pemerintah Selandia Baru dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Program ini ditujukan untuk memperluas akses listrik dari energi terbarukan yang terjangkau sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Peluncuran fase kedua program New Zealand-Maluku Access to Renewable Energy Support (NZMATES) ditandai dengan penandatanganan perjanjian kemitraan antara Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru (MFAT) dan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE).
Peluncuran berlangsung di Ambon pada 14 September 2026, dengan dihadiri Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Phillip Taula, perwakilan GHD dan Prosper Global Indonesia, EBTKE, PT PLN (Persero), Pemerintah Provinsi Maluku, serta sejumlah perguruan tinggi dan lembaga pendidikan vokasi.
Program ini dijalankan oleh perusahaan jasa profesional GHD bersama mitra lokalnya, Prosper Global Indonesia, yang sebelumnya bernama Yayasan Mercy Corps Indonesia. Pada fase kedua, keduanya akan memberikan pendampingan teknis energi terbarukan, mengoordinasikan keterlibatan pemangku kepentingan, serta meningkatkan kapasitas pemerintah dan mitra lokal dalam perencanaan, pembangunan, dan pengoperasian infrastruktur energi terbarukan.
Program tersebut juga akan membantu menghubungkan peluang pengembangan energi terbarukan dengan sumber pendanaan dan investasi potensial.
Maluku menghadapi tantangan penyediaan energi karena kondisi geografisnya yang terdiri atas ratusan pulau. Sistem kelistrikan di wilayah tersebut masih menghadapi kompleksitas dan biaya tinggi, sehingga pengembangan energi terbarukan dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik sekaligus menekan biaya energi bagi masyarakat.
Sejumlah proyek energi terbarukan dan sistem jaringan listrik skala kecil (mini-grid) tengah dikembangkan di komunitas terpencil di Maluku. Pada fase kedua, EBTKE, GHD, Prosper Global Indonesia, dan mitra lokal akan mengidentifikasi serta menyiapkan proyek-proyek tambahan untuk dikembangkan dalam beberapa tahun mendatang.
Pengalaman Pulau Tiga
Fase kedua NZMATES melanjutkan hasil proyek percontohan pada fase sebelumnya. Di Pulau Tiga, salah satu proyek peningkatan sistem energi terbarukan telah memperpanjang ketersediaan listrik dari sekitar 12 jam menjadi 24 jam per hari. Proyek tersebut juga mengurangi konsumsi solar dan biaya yang terkait dengan penggunaannya.
Selain meningkatkan akses listrik, program percontohan itu memperkuat kemampuan operasional di tingkat daerah. Operator PLN setempat mendapatkan pelatihan untuk mengoperasikan dan memelihara sistem pembangkit listrik tenaga surya.
Manajer Proyek NZMATES dari GHD, Grant Deeney, mengatakan fase kedua mencerminkan penguatan kerja sama Selandia Baru dan Indonesia serta kemitraan para pemangku kepentingan di Maluku dan Jakarta.
“Energi yang andal dan terjangkau dapat membantu memperkuat masyarakat, mendukung mata pencaharian lokal, dan menciptakan peluang baru di berbagai pulau di Maluku. Bersama pemerintah, mitra pendidikan, dan industri, NZMATES membantu membangun kapasitas, kemitraan, serta jalur investasi yang diperlukan untuk mendukung pengembangan energi terbarukan,” ujar Grant dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).
Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Phillip Taula mengatakan fase kedua akan memperdalam kolaborasi dengan pemerintah daerah, masyarakat, dan lembaga akademik di Maluku.
“Kami sangat senang melihat secara langsung bagaimana dukungan teknis kami menghasilkan peningkatan akses energi dan kapasitas teknologi bersih di lapangan, sekaligus memberdayakan calon pemimpin masa depan di kawasan ini untuk mendorong pembangunan berkelanjutan,” kata Taula. ***




