Pasar Karbon dan Pelestarian Hutan Jadi Agenda Indonesia di COP31, Hashim: Dukungan Investor Luar Biasa

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Indonesia akan membawa penguatan pasar karbon yang transparan dan berintegritas serta operasionalisasi Pasal 6 Paris Agreement sebagai agenda dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-31 (COP31) di Antalya, Türkiye, pada 9–20 November 2026.

Pemerintah juga akan mempromosikan capaian ketahanan pangan dan menarik dukungan investasi internasional untuk memperluas implementasi solusi iklim.

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim S. Djojohadikusumo mengatakan, pembentukan Sistem Registrasi Unit Karbon (SRUK) menjadi salah satu capaian yang akan disampaikan Indonesia dalam forum tersebut. Sistem registrasi itu diharapkan memperkuat transparansi pasar karbon nasional.

Hashim menyebut minat investor internasional terhadap pasar karbon Indonesia meningkat. Dukungan investor, menurut dia, juga menguat setelah pemerintah menyatakan tidak perlu lagi memperluas lahan sawah dengan membuka hutan primer dan lahan lainnya.

Read also:  Verra Luncurkan Program Scope 3, Buka Jalur Sertifikasi Aksi Iklim Rantai Nilai

“Animo dari investor internasional akan pasar karbon begitu besar, meningkat. Dan terus terang saja, setelah pernyataan pemerintah minggu lalu, mengenai tidak perlu lagi memperluas lahan sawah dari hutan primer dan lahan lainnya, mengundang dukungan yang luar biasa dari calon investor,” kata Hashim dalam konferensi pers usai rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk menyelaraskan posisi Indonesia menjelang COP31 di Jakarta, Senin (12/10/2026).

Hashim mengatakan, perkembangan pasar karbon dan capaian swasembada beras akan menjadi bagian dari pesan Indonesia dalam diplomasi iklim. Pemerintah ingin menunjukkan bahwa upaya penanganan perubahan iklim dapat berjalan seiring dengan agenda pembangunan dan ketahanan pangan.

Read also:  Pemkab Aceh Tamiang, Fairatmos, Manka Jajaki Potensi Blue Carbon di 24.000 Hektare Mangrove

Agenda lainnya mencakup akses terhadap pendanaan iklim, adaptasi bagi wilayah kepulauan dan pesisir, transisi energi berkeadilan, transfer teknologi, serta solusi berbasis alam.

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki mengatakan, pengembangan perdagangan karbon dan rehabilitasi hutan menjadi bagian dari upaya Indonesia menghadapi perubahan iklim. Indonesia juga akan mendorong dukungan internasional untuk memperkuat pelaksanaan program-program tersebut.

“Jadi, perdagangan karbon yang dulunya mungkin wacana, tapi Alhamdulillah berkat dukungan dari berbagai pihak, ini bisa terwujud di Indonesia, dan ini yang akan terus kita galang dukungannya di dunia internasional,” ujar Rohmat.

Ia juga menyebut komitmen rehabilitasi hutan seluas 12,3 juta hektare, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan, sebagai salah satu upaya yang akan didorong dalam kerja sama internasional.

Read also:  Gold Standard Luncurkan Metodologi G-RESET, Perluas Akses Pembiayaan Karbon untuk Proyek Energi Terbarukan

Dari sisi pembiayaan, Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menekankan pentingnya kesiapan investasi proyek-proyek iklim yang ditawarkan Indonesia. Paviliun Indonesia di COP31 diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan mitra dan membuka peluang transaksi yang dapat membantu pembiayaan aksi iklim.

Indonesia mengusung tema Indonesia: Delivering Climate Solutions at Scale dalam COP31. Melalui agenda tersebut, pemerintah ingin memperkuat implementasi aksi iklim, memperluas kemitraan internasional, serta mendorong dukungan pendanaan dan teknologi bagi solusi yang dapat diperluas skalanya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Negara-Negara Asia-Pasifik Perkuat Kolaborasi untuk Tata Kelola Hutan dan Implementasi REDD+

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bekerja sama dengan Sekretariat Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) menggelar pertemuan regional untuk memperkuat implementasi pengurangan...

Karbon Biru Indonesia Berpeluang Masuk Pasar CORSIA, Integritas Kredit Jadi Kunci

Ecobiz.asia – Permintaan unit emisi untuk memenuhi kewajiban penerbangan internasional melalui skema CORSIA diperkirakan mencapai 200 juta–220 juta ton CO₂ secara global pada fase...

Gold Standard Luncurkan Metodologi G-RESET, Perluas Akses Pembiayaan Karbon untuk Proyek Energi Terbarukan

Ecobiz.asia – Lembaga standar karbon Gold Standard meluncurkan metodologi Grid-Connected Renewables, Storage and Energy Transition (G-RESET) untuk memperluas akses sertifikasi kredit karbon bagi proyek...

Soroti Perdagangan Karbon, Wamenhut Bicara Soal Transformasi Ekonomi Kehutanan Saat Dies Natalis Fahutan UGM

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan mendorong transformasi ekonomi kehutanan dengan mengoptimalkan potensi biodiversitas dan jasa ekosistem, termasuk perdagangan karbon, untuk meningkatkan nilai ekonomi hutan sekaligus...

KLH Sudah Siapkan Draft Permen LH Biodiversity Credit, Cegah Praktik Makelar

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) telah menyiapkan rancangan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup tentang biodiversity credit. Dalam draft yang disiapkan, peran dan...

TOP STORIES

Negara-Negara Asia-Pasifik Perkuat Kolaborasi untuk Tata Kelola Hutan dan Implementasi REDD+

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bekerja sama dengan Sekretariat Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) menggelar pertemuan regional untuk memperkuat implementasi pengurangan...

RUU Pengendalian Perubahan Iklim Berkeadilan Dibawa ke COP31

Ecobiz.asia — Indonesia menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengendalian Perubahan Iklim Berkeadilan sebagai salah satu inisiatif yang akan dibawa ke Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-31...

Tobat Ekologis, 2.649 Sekolah Jalankan Aksi Pengelolaan Sampah hingga Konservasi Energi

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggerakkan 2.649 sekolah di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota untuk menjalankan aksi lingkungan terukur selama...

PLN Develops Time-Based Renewable Energy Certificates to Track Hourly Green Power Use

Ecobiz.asia – Indonesia’s state-owned electricity company PT PLN (Persero) plans to launch Time-based Renewable Energy Certificates (T-REC) in 2028, allowing customers to track renewable...

Gold Standard Launches G-RESET Methodology to Expand Carbon Finance for Renewable Energy Projects

Ecobiz.asia – Carbon standard setter Gold Standard has launched a new methodology to expand carbon credit certification pathways for renewable energy, energy storage and...