Potensi Kredit Karbon Riau Capai 11,7 Juta Ton CO₂e per Tahun, Nilainya Bisa US$235 Juta

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Provinsi Riau memiliki potensi menghasilkan hingga 11,7 juta ton kredit karbon setara karbon dioksida (CO₂e) per tahun dari perlindungan hutan, pemulihan gambut, serta penanaman dan restorasi mangrove. Dengan asumsi harga kredit karbon US$20 per ton, potensi tersebut setara dengan nilai ekonomi sekitar US$235 juta per tahun.

Manager Nature-Based Solutions and Ecosystem Services The Landscape Group Risti Zahroh mengatakan potensi tersebut merupakan estimasi awal yang dihitung dari kondisi hutan dan gambut Riau serta target restorasi yang ada. Perhitungan mencakup pengurangan deforestasi, pembasahan kembali gambut, serta penanaman dan restorasi mangrove.

“Pasar karbon adalah salah satu instrumen ekonomi yang bisa dipakai untuk mengalirkan pembiayaan dari perusahaan,” kata Risti dalam Webinar GREEN Connect 3 bertema Ekonomi Hijau dan Investasi Berkelanjutan: Menghubungkan Kebijakan, Pembiayaan, dan Aksi Iklim, Rabu (30/9/2026).

Risti memaparkan, Riau memiliki sekitar 4,9 juta hektare lahan gambut dan 1,59 juta hektare hutan alam yang tersisa pada 2024. Pada tahun yang sama, deforestasi tercatat sekitar 29,7 ribu hektare, sementara target restorasi gambut mencapai 611 ribu hektare.

Read also:  Dapat Dukungan Kemenhut, Riau Mantap Masuk Pasar Karbon Yurisdiksi ART-TREES

Potensi kredit tersebut berasal dari empat sumber. Pengurangan deforestasi melalui perlindungan biomassa diperkirakan menghasilkan 5,9 juta ton CO₂e per tahun, pengurangan deforestasi pada lahan gambut 1,6 juta ton CO₂e, pembasahan kembali gambut 6,1 juta ton CO₂e, serta penanaman dan restorasi mangrove 1 juta ton CO₂e per tahun.

Setelah memperhitungkan buffer risiko dan ketidakpastian sebesar 20 persen, potensi kredit yang diperkirakan dapat dihasilkan mencapai 11,7 juta ton CO₂e per tahun. Dengan harga US$5 per ton, nilainya sekitar US$59 juta per tahun; pada US$10 mencapai US$117 juta dan pada US$20 mencapai US$235 juta.

Risti menekankan angka tersebut masih merupakan perkiraan kasar untuk menggambarkan skala peluang. Menurut dia, peluang pasar karbon di Riau cukup besar, tetapi pengembangannya membutuhkan mekanisme pembiayaan jangka panjang dan memastikan kredit yang dihasilkan memiliki integritas.

Risti menegaskan pasar karbon bukan pengganti upaya penurunan emisi. Pasar karbon berfungsi sebagai instrumen ekonomi untuk membuat upaya penurunan emisi lebih mudah dan murah dengan mengalirkan pembiayaan kepada kegiatan yang menghasilkan pengurangan emisi.

Untuk menjaga integritas kredit, dia menekankan soal sejumlah persyaratan, antara lain pengurangan emisi harus nyata dan adisional, menggunakan baseline konservatif, permanen dan terukur, tidak mengalami penghitungan ganda, memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat, serta melalui penilaian sebelum kredit diterbitkan.

Read also:  Menteri LH Tegaskan Indonesia Bangun Biodiversity Credit Berbasis Tiga Prinsip Utama, Apa Saja?

Sementara itu, Senior Program Manager United Nations Environment Programme (UNEP) Johan Kieft mengatakan potensi pembiayaan karbon perlu diterjemahkan menjadi proyek yang layak investasi. Investor, kata dia, tidak hanya melihat ambisi kebijakan pemerintah, tetapi juga kelayakan proyek, risiko, dan kapasitas pengelola.

“Kebijakan itu telah menentukan ambisi dari pemerintah, tapi investor ini membutuhkan proyek yang layak dan itu dengan risiko yang bisa dikelola,” kata Johan dalam forum yang sama.

Menurut Johan, pengembangan ekonomi berbasis lahan juga harus disesuaikan dengan karakteristik ekologis, termasuk kondisi hidrologi dan pengelolaan air. Komoditas yang tidak sesuai dengan karakteristik lahan dapat meningkatkan risiko lingkungan dan biaya pengelolaan.

Karena itu, pengembangan usaha berbasis lahan perlu menggabungkan produktivitas ekonomi dengan perlindungan dan pemulihan ekosistem. Johan melihat sagu, agroforestri, dan pemanfaatan hasil hutan sebagai sejumlah peluang yang dapat dikembangkan di Riau.

Read also:  Verra Dapat Persetujuan ICVCM untuk Metodologi CCS, Empat Modul Dinyatakan Penuhi Standar CCP

Sagu, misalnya, dapat diolah menjadi tepung untuk kebutuhan pangan seperti mi dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan bioplastik. Pengembangan komoditas yang sesuai dengan karakteristik lahan basah juga memungkinkan aktivitas ekonomi berjalan tanpa bergantung pada pengeringan lahan.

Johan mengatakan pembiayaan karbon dapat membantu masyarakat menutup kesenjangan pendapatan selama masa transisi sebelum usaha berbasis lahan menghasilkan pendapatan.

“Dana karbon itu bisa menjadi salah satu kemungkinan untuk membantu masyarakat untuk menutupi kekurangan-kekurangan waktu itu,” ujarnya.

Menurut Johan, pembiayaan juga perlu disusun berdasarkan tahapan pengembangan proyek, mulai dari persiapan dan pengurangan risiko hingga pengembangan usaha dan investasi berdampak. Pendanaan awal, termasuk melalui BPDLH dan dana karbon, dapat membantu menyiapkan proyek sebelum dikembangkan bersama investor berdampak, lembaga keuangan, dan perbankan.

Ia juga mendorong pendekatan nesting untuk menghubungkan upaya masyarakat dalam pengurangan emisi, penanaman, dan revegetasi dengan skema pendanaan. Kepastian pasar atau off-taker juga diperlukan agar produk yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi dan usaha berbasis lahan dapat berkembang seiring dengan perlindungan lingkungan serta pengurangan risiko kebakaran. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Verra Dapat Persetujuan ICVCM untuk Metodologi CCS, Empat Modul Dinyatakan Penuhi Standar CCP

Ecobiz.asia – Metodologi carbon capture and storage (CCS) milik Verra mendapat persetujuan dari Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM) berdasarkan Core Carbon...

Pemetaan Digital Ungkap Potensi Karbon Lamun Indonesia, Nilainya Sangat Besar

Ecobiz.asia – Pemodelan berbasis remote sensing mulai memberikan gambaran baru mengenai cadangan karbon ekosistem lamun Indonesia. Peneliti University of Queensland Muhammad Hafizt memperkirakan above-ground...

Isometric Perluas Pasar ke Kredit Karbon Pencegahan Deforestasi, Siapkan Protokol Baru

Ecobiz.asia – Lembaga sertifikasi kredit karbon Isometric memperluas cakupan ke proyek pencegahan deforestasi dengan menyiapkan protokol baru yang ditujukan untuk memperkuat kredibilitas kredit karbon...

JDS dan ITB Bahas Tantangan dan Peluang CCS/CCUS di Indonesia

Ecobiz.asia — Pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) di Indonesia membutuhkan pemahaman lintas disiplin, mulai dari teknologi...

Pemkab Aceh Tamiang, Fairatmos, Manka Jajaki Potensi Blue Carbon di 24.000 Hektare Mangrove

Ecobiz.asia – Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Fairatmos, dan Mandala Katalika (Manka) menandatangani perjanjian kerja sama untuk menjajaki pengembangan proyek blue carbon berbasis ekosistem mangrove...

TOP STORIES

PLN EPI Uji Co-firing Amonia di PLTU Labuan Mulai 2027

Ecobiz.asia — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menargetkan uji coba co-firing amonia hingga 3% di PLTU Labuan pada 2027 sebagai tahap awal...

Kemenhut Ungkap Dua Badak Sumatera di SRS Way Kambas Bunting, Harapan Populasi Bertambah

Ecobiz.asia — Kabar baik datang dari Suaka Rhino Sumatera (SRS) Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Dua induk badak sumatera betina, Ratu dan Delilah, kini...

Agrinas Palma dan IPB Bidik 1 Juta Hektare untuk Bioetanol E20, Targetkan 5 Juta Kiloliter/Tahun

Ecobiz.asia — PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) bersama IPB University menargetkan pengembangan 1 juta hektare lahan singkong, sorgum, dan jagung pada 2029 untuk mendukung...

Grup PHI Raih Tiga Penghargaan CSR & PDB 2026, BUMDes Bukit Raya Cetak Kontribusi PADes

Ecobiz.asia – Grup PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) meraih tiga penghargaan dalam ajang CSR & PDB (Pengembangan Desa Berkelanjutan) Award 2026, dengan salah satu...

Tak Hanya Proteksi dan Restorasi, BP-GMN Akan Sentuh Aspek Ekonomi Gambut dan Mangrove

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mematangkan pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BP-GMN) dengan tiga mandat utama,...