Tak Hanya Proteksi dan Restorasi, BP-GMN Akan Sentuh Aspek Ekonomi Gambut dan Mangrove

MORE ARTICLES


Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mematangkan pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BP-GMN) dengan tiga mandat utama, yakni perlindungan ekosistem, pemulihan atau restorasi, serta pengembangan nilai ekonomi gambut dan mangrove secara berkelanjutan bagi masyarakat.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan mandat tersebut dirumuskan agar BP-GMN tidak hanya berfokus pada pemulihan ekosistem yang telah rusak, tetapi juga mengelola gambut dan mangrove secara lebih komprehensif.

“Jadi ada mandat menjaga atau proteksi, mandat pemulihan atau restorasi, kemudian mandat ekonomi, bagaimana masyarakat memaksimalkan fungsi gambut dan mangrove tapi tidak merusak. Makanya namanya badan pengelola, jadi lebih komprehensif, tidak hanya restorasi,” kata Raja Juli di sela-sela Workshop Pembentukan BP-GMN di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Workshop yang berlangsung pada 1–2 Oktober 2026 tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto setelah berdiskusi dengan sejumlah akademisi dan pakar mengenai pengelolaan gambut dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Read also:  Pemerintah Kebut PLTS 100 GW, Investasi Dibutuhkan Capai US$73 Miliar

Sebanyak 22 ahli yang sebelumnya mengikuti pertemuan dengan Presiden kembali dilibatkan bersama ahli gambut dan mangrove lainnya, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, akademisi, peneliti, organisasi masyarakat sipil, dan pemangku kepentingan terkait.

Raja Juli mengatakan workshop juga membahas desain organisasi dan kewenangan BP-GMN agar mampu mengoordinasikan pengelolaan gambut dan mangrove yang selama ini melibatkan berbagai kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

“Mandat workshop ini salah satunya adalah meluruskan orientasi dan mandat kerja BP-GMN agar lembaga ini lebih kuat dan efektif. Termasuk bagaimana struktur organisasinya, kewenangannya, dan bagaimana badan ini dapat bekerja secara efektif sampai ke tingkat tapak,” ujarnya.

Berbasis KHG dan KLM
Pada hari kedua, tim perumus menyerahkan Naskah Urgensi Pembentukan BP-GMN kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto. Dokumen tersebut menjadi salah satu pijakan untuk menyempurnakan rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang BP-GMN.

Read also:  Pantauan Kemenhut: Kalsel Nihil Hotspot, Pengendalian Karhutla di Kalbar-Kalteng Diperkuat

Raja Juli mengatakan Kementerian Kehutanan sebagai kementerian pemrakarsa selanjutnya akan mengajukan izin prakarsa penerbitan Perpres kepada Presiden. Rancangan tersebut kemudian akan dibahas dan diharmonisasi bersama kementerian/lembaga terkait.

Menteri Diktisaintek Brian Yuliarto mengatakan pembentukan BP-GMN diarahkan untuk memasukkan hasil penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi ke dalam kebijakan pengelolaan gambut dan mangrove.

“Intinya adalah hasil-hasil penelitian, hasil-hasil pengembangan pengetahuan yang terkait pengelolaan dan penanganan gambut dan mangrove bisa dimasukkan di dalam pembentukan badan yang baru ini,” kata Brian.

Pendekatan berbasis sains tersebut akan diterapkan melalui Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) untuk pengelolaan gambut dan Kesatuan Lanskap Mangrove (KLM) untuk pengelolaan mangrove. Pendekatan tersebut menempatkan ekosistem sebagai satu kesatuan bentang alam yang melampaui batas administratif dan sektoral.

Read also:  Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

Masyarakat juga ditempatkan sebagai subjek utama pengelolaan, termasuk dalam memperoleh manfaat ekonomi dari gambut dan mangrove tanpa mengurangi fungsi ekologisnya.

Workshop merumuskan tiga kelompok program utama BP-GMN, yakni penguatan kelembagaan, pengelolaan ekosistem gambut, dan pengelolaan ekosistem mangrove.

Program tersebut mencakup integrasi data dan kebijakan, perencanaan berbasis KHG dan KLM, pengelolaan hingga tingkat tapak, integrasi dengan pembangunan desa, pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, penguatan kepatuhan, mekanisme insentif dan disinsentif, pengembangan nilai ekonomi karbon yang memberikan manfaat kepada masyarakat, serta pembiayaan inovatif di luar APBN.

Kementerian Kehutanan juga akan menginventarisasi data, sumber daya, program, dan kegiatan terkait gambut dan mangrove yang saat ini tersebar di berbagai kementerian/lembaga sebagai bagian dari persiapan transisi menuju operasional BP-GMN.

Hasil workshop dan Naskah Urgensi selanjutnya menjadi bahan penyempurnaan rancangan Perpres sekaligus penyusunan program kerja awal BP-GMN. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kolaborasi Pemerintah dan Pelaku Usaha Diperlukan untuk Cegah Karhutla

Ecobiz.asia — Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membutuhkan kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha, mulai dari kesiapan sarana pemadaman, pemantauan hotspot, hingga pembenahan tata...

Indonesia Luncurkan SOIFO 2026 di Markas FAO Roma: 95,5 Juta Hektare Hutan Jadi Modal Ketahanan Pangan dan Iklim

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan meluncurkan The State of Indonesia’s Forests 2026 (SOIFO 2026) di Sheikh Zayed Centre, Markas Besar Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan...

Pemerintah Matangkan Pembentukan BP-GMN, Rancang Mandat hingga Perpres

Ecobiz.asia — Pemerintah mulai mematangkan pembentukan Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BP-GMN) melalui perumusan mandat, struktur organisasi, hingga rancangan Peraturan Presiden (Perpres). Pembahasan dilakukan...

Hilirisasi dan Transisi Energi Kini Dikoordinasikan Satu Pintu, Bahlil Jadi Menko

Ecobiz.asia -- Pemerintah menyatukan koordinasi program hilirisasi sumber daya alam dan transisi energi dalam satu kementerian koordinator. Presiden RI Prabowo Subianto melantik Menteri Energi...

RSPO Perketat Pantauan Karhutla di Perkebunan Bersertifikat, Telusuri Penyebab Kebakaran

Ecobiz.asia — Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) memperketat pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dalam dan sekitar perkebunan bersertifikat di Indonesia dengan...

TOP STORIES

Grup PHI Raih Tiga Penghargaan CSR & PDB 2026, BUMDes Bukit Raya Cetak Kontribusi PADes

Ecobiz.asia – Grup PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) meraih tiga penghargaan dalam ajang CSR & PDB (Pengembangan Desa Berkelanjutan) Award 2026, dengan salah satu...

Kolaborasi Pemerintah dan Pelaku Usaha Diperlukan untuk Cegah Karhutla

Ecobiz.asia — Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membutuhkan kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha, mulai dari kesiapan sarana pemadaman, pemantauan hotspot, hingga pembenahan tata...

Indonesia Assesses US, Canadian, Russian and South Korean Nuclear Technologies

Ecobiz.asia – Indonesia is assessing nuclear power technologies from the United States, Canada, Russia and South Korea as it prepares to develop nuclear power...

PLN Nusantara Power Dorong Ekonomi Warga melalui Pengelolaan Sungai Maron Berkelanjutan

Ecobiz.asia -- PT PLN Nusantara Power (PLN NP) mendorong pengembangan Sungai Maron, Pacitan, Jawa Timur, tidak hanya sebagai kawasan wisata berbasis alam, tetapi juga...

Pertamina to Start Producing 100 Kg/Day of Green Hydrogen at Ulubelu Pilot in November

Ecobiz.asia – Indonesia’s state-owned energy company PT Pertamina (Persero) is preparing to start production at its green hydrogen pilot project at the Ulubelu geothermal...