Agrinas Palma dan IPB Bidik 1 Juta Hektare untuk Bioetanol E20, Targetkan 5 Juta Kiloliter/Tahun

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) bersama IPB University menargetkan pengembangan 1 juta hektare lahan singkong, sorgum, dan jagung pada 2029 untuk mendukung produksi bioetanol multifeedstock dengan kapasitas sedikitnya 5 juta kiloliter per tahun.

Target tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) “Produksi, Pengolahan dan Kelayakan Ekonomi Industri Bioetanol Berbahan Jagung, Sorgum, dan Singkong” yang digelar Fakultas Pertanian IPB University bersama Agrinas Palma di Bogor, Sabtu (3/10/2026). Forum tersebut juga dihadiri Managing Director Teknologi Advancement Danantara Dwi Susanto.

Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani mengatakan pengembangan bioetanol harus dibangun sebagai ekosistem dari hulu hingga hilir, bukan sekadar pembangunan fasilitas produksi.

Read also:  PHE Dorong Asri Basin Jadi Hub Penyimpanan Karbon Regional

“Target tersebut harus dibangun dari kepastian bahan baku, kesesuaian lahan, produktivitas, teknologi, hingga keekonomian dan partisipasi masyarakat. Karena itu, pendekatan multifeedstock dan integrasi hulu-hilir menjadi penting,” ujar Abdul Ghani.

Menurut dia, Agrinas Palma telah memetakan lahan dan menyiapkan roadmap pengembangan bahan baku bioetanol. Pengembangan tersebut diarahkan untuk memastikan pasokan bahan baku sekaligus membangun rantai pasok yang terintegrasi.

Dekan Fakultas Pertanian IPB University Suryo Wiyono mengatakan pengembangan bioetanol membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, mulai dari budidaya dan produktivitas bahan baku hingga teknologi dan aspek ekonomi.

“Pengembangan bioetanol membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu. Keberhasilannya terletak pada detail. Karena itu, aspek on-farm maupun pengolahan perlu dipetakan, dikuasai, dan dikelola dengan baik,” kata Suryo.

Read also:  Magnifina Bawa PHR Berjaya di ENSIA 2026, Pemberdayaan Pembudidaya Ikan Hasilkan Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Wakil Rektor I IPB University Deni Noviana menambahkan pengembangan bioetanol perlu didasarkan pada kajian ilmiah dan kompetensi lintas bidang karena mencakup aspek pertanian, teknologi, ekonomi, lingkungan, dan sosial.

FGD tersebut menyepakati sejumlah agenda, antara lain memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku dari sisi kuantitas, kualitas, kontinuitas, varietas, dan waktu panen. Lokasi pengembangan bioetanol juga perlu dibedakan dari sentra pangan untuk menghindari persaingan harga bahan baku.

Selain itu, kesesuaian komoditas dan lokasi akan divalidasi melalui uji lapangan. Desain industri diarahkan mengintegrasikan proses on-farm dan off-farm sebagai satu rantai nilai.

Pengembangan kawasan industri juga diarahkan membangun kemandirian teknologi pendukung, termasuk penyediaan enzim, untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar kawasan.

Read also:  Potensi Bioenergi 80 Juta Ton, Baru 20 Juta Ton Dimanfaatkan

Dari sisi keekonomian, bioetanol ditargetkan dapat bersaing tanpa bergantung pada subsidi. IPB juga menyatakan kesiapan menindaklanjuti penyusunan feasibility study (FS) terintegrasi serta pendampingan aspek on-farm dan off-farm.

Forum tersebut turut membahas skema kemitraan masyarakat sekitar 10%–20% dari produksi, termasuk peluang integrasi dengan peternakan dan penyediaan hijauan pakan.

Pengembangan tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan bioetanol yang diproyeksikan mencapai sekitar 7 juta kiloliter dalam penerapan E20. Dengan demikian, tantangan berikutnya bukan hanya membangun kapasitas produksi, tetapi memastikan ketersediaan bahan baku dan keekonomian rantai pasok dari lahan hingga industri. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

APP Group Gabung Inisiatif RE100, Bidik 100% Listrik Terbarukan

Ecobiz.asia — APP Group menjadi perusahaan Indonesia pertama yang bergabung dengan RE100, inisiatif global yang mendorong perusahaan menggunakan 100% listrik terbarukan dalam kegiatan operasionalnya...

PHR Raih Upstream Energy Transformation Award, Perkuat Operasi Migas dengan Digital Twin dan AI

Ecobiz.asia – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) meraih Upstream Energy Transformation Award dalam Dataiku Summit 2026 atas penerapan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI)...

Salurkan Dana Bergulir Skala Mikro Berkelanjutan, BPDLH Gandeng JB Cocoa dan Rainforest Alliance

Ecobiz.asia — Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) memperluas pembiayaan skala mikro bagi usaha masyarakat sekitar hutan dengan menggandeng PT Jebe Trading Indonesia (JB...

Jadi Offtaker dan Transporter, PGN Siapkan Infrastruktur Gas Biomethane dari Limbah Sawit

Ecobiz.asia — PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menyiapkan infrastruktur gas untuk menyalurkan biomethane yang diproduksi dari limbah pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan...

Manfaatkan Energi Air Dunia, Low Carbon Aluminium INALUM Bidik Pasar Global

Ecobiz.asia — PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM memperkuat pemasaran aluminium rendah karbon dengan meluncurkan Sertifikasi Low Carbon Aluminium (Green Aluminium) kepada pelanggan...

TOP STORIES

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

Ecobiz.asia – Parlemen mulai menyiapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Iklim Berkeadilan untuk memberikan kepastian dan menjaga konsistensi regulasi bagi proyek-proyek karbon yang...

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Ecobiz.asia – Tiga perusahaan start up teknologi iklim mendapat suntikan dana Rp15 miliar untuk menguji solusi mereka di Indonesia, menandai meningkatnya aliran modal ke...