Pemerintah Dorong Penguatan Rantai Pasok EBT untuk Perkuat Kemandirian Energi

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Pemerintah mendorong penguatan rantai pasok energi baru dan terbarukan (EBT) dari hulu hingga hilir untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi impor sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengatakan pengembangan EBT tidak cukup hanya dengan menambah kapasitas pembangkit, tetapi juga membutuhkan ekosistem yang terintegrasi mulai dari bahan baku, manufaktur, teknologi hingga sumber daya manusia.

“Yang tidak kalah pentingnya, bagaimana kita membangun ekosistem energi baru terbarukan. Jadi, kita harus melihat rantai pasok yang harus terintegrasi. Kalau ini tidak terintegrasi dari sumber bahan baku, kemudian ada pabrik manufaktur, teknologi, dan sumber daya manusia yang kita integrasikan, tentu rantai pasok ini akan terputus,” ujar Yuliot saat membuka IndoEBTKE Convention and Exhibition (ConEx) 2026, Rabu (2/9/2026).

Read also:  Menteri Energi Bangladesh Apresiasi Inovasi PLN Nusantara Power

Menurut Yuliot, penguatan EBT merupakan bagian dari agenda pemerintah untuk meningkatkan kemandirian energi di tengah dinamika geopolitik yang dapat mengganggu rantai pasok energi global. Gangguan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi, inflasi, biaya produksi, serta meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi.

“Energi baru terbarukan merupakan bagian dari program prioritas pemerintah yang tertuang dalam Asta Cita, yaitu memantapkan sistem pertahanan dan keamanan negara, serta mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada energi,” katanya.

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 70 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, sekitar 42,6 GW atau 62 persen berasal dari energi baru dan terbarukan.

“Pada RUPTL ini sekitar 62 persen, sekitar 42,6 gigawatt, ini merupakan target kita untuk meningkatkan pasokan energi, khususnya energi baru dan terbarukan,” ujar Yuliot.

Read also:  Kemenhut Laporkan Penurunan Hotspot Nasional 56 Persen, Pastikan Pengendalian Karhutla Diperkuat

Selain pembangkit EBT, pemerintah juga mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati melalui implementasi B50 serta berbagai upaya konservasi energi. Langkah tersebut mencakup percepatan kendaraan listrik, pembangunan jaringan gas, pemanfaatan compressed natural gas (CNG) sebagai substitusi LPG, serta peningkatan penggunaan sumber energi bersih.

Pemerintah juga memasukkan pengolahan sampah sebagai bagian dari pengembangan energi bersih. Dari timbulan sampah nasional pada 2025 yang mencapai 52,6 juta ton atau sekitar 145 ribu ton per hari, baru sekitar 25 persen yang terkelola.

Melalui teknologi waste to energy, sampah dapat dimanfaatkan menjadi listrik, biomassa, maupun bahan bakar minyak terbarukan, sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.

Read also:  Kemenhut Perkuat Diplomasi Publik, Siapkan SDM Hadapi Negosiasi Kehutanan Global

Yuliot mengatakan Indonesia memiliki sejumlah sumber daya mineral yang dapat menjadi bahan baku pengembangan industri energi bersih, seperti bauksit, nikel, silika, dan tembaga. Potensi tersebut dapat mendukung pengembangan industri panel surya, baterai, dan teknologi energi bersih lainnya.

Karena itu, penguasaan teknologi, penguatan manufaktur dalam negeri, riset dan inovasi, serta pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem EBT nasional.

IndoEBTKE ConEx 2026 menjadi forum kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan energi baru dan terbarukan setelah tiga tahun tidak diselenggarakan. Forum tersebut turut membahas sejumlah tantangan pengembangan EBT, mulai dari regulasi, teknologi, infrastruktur, logistik, permodalan hingga riset dan inovasi. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kontroversi PLTP Panas Bumi Gunung Ungaran, ESDM: Pengembangan Bertahap Berbasis Kajian

Ecobiz.asia — Pemerintah menegaskan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran, Jawa Tengah, masih berada pada...

Kendalikan Karhutla, Kemenhut Dapat Tambahan Anggaran Rp471,239 Miliar

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp471,239 miliar untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2027. Alokasi tersebut menjadi bagian dari...

El Nino Memuncak September, Ini Lima Jurus Kemenhut Tekan Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memasuki September 2026 karena fenomena cuaca ekstrem El Nino diperkirakan mencapai puncak...

Tren Hotspot Menurun, Menhut Minta Tetap Waspada Karhutla

Ecobiz.asia — Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan tren titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia menunjukkan penurunan...

Data Karhutla Terbaru, Kemenhut Ungkap Hotspot High Confidence Turun

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama tim gabungan terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah prioritas, terutama Kalimantan dan Sumatera,...

TOP STORIES

Kemenhut Perkuat Pemahaman CCPs untuk Bangun Pasar Karbon Berintegritas

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan memperkuat kapasitas pemangku kepentingan dalam memahami Core Carbon Principles (CCPs) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon Indonesia yang kredibel,...

CTC, Naturalis Partner on Five-Year Marine Conservation Program in Indonesia

Ecobiz.asia — The Coral Triangle Center (CTC) has signed a five-year partnership with Naturalis Biodiversity Center, the Netherlands’ national research institute for biodiversity and...

Kontroversi PLTP Panas Bumi Gunung Ungaran, ESDM: Pengembangan Bertahap Berbasis Kajian

Ecobiz.asia — Pemerintah menegaskan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran, Jawa Tengah, masih berada pada...

Kendalikan Karhutla, Kemenhut Dapat Tambahan Anggaran Rp471,239 Miliar

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp471,239 miliar untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2027. Alokasi tersebut menjadi bagian dari...

El Nino Memuncak September, Ini Lima Jurus Kemenhut Tekan Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memasuki September 2026 karena fenomena cuaca ekstrem El Nino diperkirakan mencapai puncak...