Aren dan Penguatan KPH untuk Menggerakkan Bioekonomi Hutan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Penasihat Utama Menteri Kehutanan Dr. Willie Smits mengambil sejumput tanah dari bawah tegakan aren di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Gorontalo Utara, Desa Tombulilato, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara, Jumat (28/8/2026).

Tanah itu diletakkan di telapak tangannya. Willie memperhatikannya sejenak, meremasnya perlahan, lalu melakukan sesuatu yang mungkin membuat sebagian orang di sekitarnya mengernyit. Ia meludahkan sedikit air liur ke tanah tersebut. Ia menggosoknya dengan jari, mengamati teksturnya, kemudian sempat menjilat tanah yang menempel di telapak tangannya.

“Maaf ya, ini adalah laboratorium mini,” katanya kepada perwakilan KPH, penyuluh kehutanan, dan kelompok tani hutan yang menyaksikannya.

Tanah yang baru diperiksanya itu, menurut Willie, memiliki karakter cukup baik untuk pertumbuhan aren. Teksturnya sedikit berpasir dan tingkat keasamannya berada pada kondisi yang baik bagi tanaman dengan nama latin Arenga pinnata tersebut.

Usianya kini 70 tahun. Willie adalah ilmuwan dan ahli mikrobiologi yang selama bertahun-tahun menekuni hubungan antara hutan, satwa liar, tanah, mikroorganisme, dan kehidupan masyarakat. Pengalaman itu membuatnya terbiasa membaca alam dengan cara yang tidak selalu dilakukan orang kebanyakan.

Di Indonesia, Willie dikenal antara lain melalui kiprahnya mengembangkan sistem berbasis hutan dan masyarakat di Masarang, Sulawesi Utara.

Kali ini ia datang ke Gorontalo bersama Direktur Bina Rencana Pemanfaatan Hutan Kementerian Kehutanan C. Hendro Widjanarko sebagai bagian dari rangkaian kegiatan penguatan KPH melalui pengembangan aren untuk bioenergi. Selain Gorontalo Utara, kunjungan juga dilakukan ke Kabupaten Boalemo.

Pohon yang Menjaga Hutan

Di bawah tegakan aren, Willie kemudian menjelaskan mengapa ia melihat tanaman yang selama ini kerap dianggap sebagai penghasil gula tradisional itu dengan cara berbeda.

Baginya, aren bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari ekosistem. Pohon ini memiliki sistem perakaran yang kuat dan dalam. Akarnya membantu mencengkeram tanah, mengurangi erosi, meningkatkan infiltrasi air, dan menjaga kelembapan tanah. Dalam lanskap berbukit dan lereng, karakter tersebut membuat aren memiliki fungsi ekologis yang jauh melampaui nilai nira yang dihasilkan.

Daunnya pun memiliki fungsi penting. Tajuk aren menangkap cahaya matahari sekaligus mengumpulkan air hujan. Bahan organik yang terkumpul di antara pelepah menjadi sumber unsur hara dan membantu tanah mempertahankan air.

Karena itu, menurut Willie, aren seharusnya tidak dibangun dalam pola monokultur. Aren justru memiliki tempat yang kuat dalam hutan campuran atau sistem agroforestri, berdampingan dengan tanaman lain dan menjadi bagian dari ekosistem yang saling berhubungan.

Selain menjaga tanah dan air, aren memiliki kemampuan mengubah cahaya matahari menjadi energi.

Daunnya adalah “pabrik gula”. Melalui fotosintesis, air, karbon dioksida, dan cahaya matahari diubah menjadi gula. Gula tersebut kemudian disimpan dan dialirkan ke berbagai bagian tanaman, termasuk menjadi nira yang dapat dipanen.

Read also:  Berbagai Skema Pembiayaan Baru untuk 13 Taman Nasional Prioritas

“Kalau kamu memotong daun, kamu merusak pabrik produksi gula,” ujar Willie.

Karena itu, produktivitas aren tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pohon. Jarak tanam, kesehatan pohon, pengelolaan daun dan mayang, hingga keterampilan penyadap ikut menentukan hasil.

Gula yang dihasilkan aren pun bukanlah titik akhir. Menurut Willie, ada setidaknya 65 produk berkualitas tinggi yang dapat dihasilkan dari pohon aren. Dengan teknologi, nira aren bahkan dapat dikembangkan menjadi berbagai bahan baku energi dan industri, termasuk bioetanol. Potensi itu relevan dengan agenda ketahanan energi Indonesia yang secara bertahap mendorong peralihan dari bahan bakar fosil menuju sumber energi terbarukan. Saat ini Pemerintah sedang mengembangkan bahan bakar campuran etanol dengan bensin melalui program E10, yakni bensin dengan campuran etanol 10 persen.

Willie membayangkan Indonesia dapat menjadi “Timur Tengah baru” untuk energi masa depan. Bukan karena cadangan minyak, tetapi karena kekayaan sumber energi hayati yang terus diperbarui oleh matahari.

Pengolahan nira menjadi gula aren di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Gorontalo Utara, Desa Tombulilato, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara

Ketika Aren Menjadi Penghidupan

Bagi masyarakat yang hidup dari aren, nilai ekonomi itu tidak perlu menunggu datangnya industri bioenergi. Setiap hari, nira yang disadap dari pohon sudah menjadi sumber penghasilan.

Seperti yang dirasakan anggota Kelompok Perhutanan Sosial Hutan Kemasyarakatan (HKm) Damai di Dusun Mebongo, Desa Botumoito, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Ketua HKm Damai Zaenudin menjelaskan tiap kelompok penderes dan pengolah aren dapat menghasilkan sekitar 15-17 buah gula aren per hari. Dengan harga sekitar Rp17.000 per buah, penerimaan kelompok berkisar Rp255.000-Rp289.000 per hari. Hasil tersebut dibagi kepada dua hingga tiga anggota yang terlibat dalam penyadapan dan pengolahan.

Ketika permintaan meningkat, terutama pada Ramadan, Hari Raya, dan musim perayaan, harga dapat mencapai Rp20.000-Rp25.000 per buah. Dengan produksi yang sama, penerimaan kelompok meningkat menjadi sekitar Rp300.000-Rp425.000 per hari.

Bagi Zaenudin, pendapatan tersebut bukan sekadar tambahan. Aren menjadi salah satu andalan penghidupan masyarakat, bahkan memberikan manfaat ekonomi yang berarti jika dibandingkan dengan berkebun jagung.

Nilai manfaat aren dapat meningkat ketika pengetahuan, pendampingan, teknologi pengolahan, dan pasar hadir dalam satu mata rantai. Gambaran tersebut terlihat di lereng Gunung Masarang, Tomohon, Sulawesi Utara.

Di sana, Willie Smits mengembangkan model yang mempertemukan konservasi, masyarakat, dan kegiatan ekonomi melalui Yayasan Masarang dan PT Gunung Hijau Masarang. Aren dipertahankan sebagai bagian dari lanskap sekaligus dikembangkan sebagai bahan baku industri pengolahan gula.

Manajer Operasional PT Gunung Hijau Masarang Marthen Polii mengatakan perusahaan membeli nira aren berkualitas baik hasil sadapan petani dengan harga sekitar Rp3.000 per liter.

Read also:  Gorontalo Identifikasi Potensi Aren untuk Pengembangan Bioekonomi Hutan

“Ada petani yang dapat menjual sadapannya hingga 400 liter per hari. Berarti pendapatan petani bisa mencapai Rp1,2 juta per hari,” kata Marthen.

Produktivitas tersebut, menurut dia, tidak semata-mata berasal dari pohon. Petani mendapatkan pembinaan dan pendampingan dalam penyadapan, sementara industri menyediakan pasar dan pengolahan sehingga nira memiliki nilai tambah.

Di Gunung Masarang, nilai ekonomi tersebut berjalan bersama fungsi ekologis. Marthen mengatakan pohon aren memiliki kemampuan menyimpan air sehingga cocok dikembangkan sebagai sekat bakar. Kawasan Gunung Masarang yang sebelumnya mengalami degradasi kini kembali menghijau berkat pengembangan aren.

“Di sana juga muncul mata air baru,” katanya.

Pengalaman Masarang menunjukkan bahwa nilai aren dapat berkembang ketika mata rantainya diperkuat, dari pohon dan petani hingga industri dan pasar. Model tersebut kini mulai dilihat sebagai salah satu rujukan dalam pengembangan aren di Gorontalo.

Memetakan Potensi Gorontalo

Pemerintah Provinsi Gorontalo akan mengidentifikasi sebaran tanaman aren di kawasan hutan untuk dikembangkan sebagai bagian dari bioekonomi, mulai dari gula aren dan gula semut hingga bioenergi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Gorontalo Bambang Trihandoko mengatakan langkah tersebut harus diawali dengan mengetahui lokasi dan potensi aren di setiap KPH. “Teman-teman Kepala KPH mulai sekarang mengidentifikasi di mana posisi-posisi aren yang ada di KPH masing-masing. Dari situ kita lihat niranya bisa menjadi apa, gula merah, gula semut, atau bioetanol,” kata Bambang.

Pemetaan diperlukan agar pengembangan tidak dilakukan sekadar dengan menanam, melainkan berdasarkan kesesuaian kawasan, potensi tanaman, dan kebutuhan pasar. Peta kesesuaian lahan untuk aren yang dipetakan Willie dapat dioverlay dengan data kawasan dan kemudian diverifikasi di lapangan.

“Nah kalau sudah cocok, dari situlah kita beranjak ke budidayanya,” katanya.

Gorontalo juga melihat aren sebagai bagian dari rehabilitasi kawasan hutan. Pemerintah provinsi tengah mempertimbangkan pembuatan demplot sekitar 5-10 hektare pada lokasi yang sesuai.

Setelah potensi dan lokasi teridentifikasi, pekerjaan berikutnya adalah membangun mata rantai usaha. KPH perlu mendampingi masyarakat dalam pengolahan, standardisasi, pengemasan, hingga pemasaran.

Pengalaman menunjukkan bahwa pasar sebenarnya tersedia. Sekitar tiga tahun lalu, calon pembeli dari Uni Emirat Arab bahkan berminat membeli gula semut dalam jumlah besar. Namun permintaan tersebut belum dapat dipenuhi secara berkelanjutan karena produksi dan pendampingan belum optimal.

Gorontalo memiliki modal kawasan yang besar untuk mengembangkan bioekonomi. Kawasan hutan di provinsi tersebut sekitar 758.093,92 hektare atau 63 persen dari luas daratan. Sekitar 555.683 hektare berupa hutan produksi dan hutan lindung berada dalam pengelolaan tujuh unit KPH.

Read also:  Bioekonomi Bisa Menjadi Jalan Menjaga Hutan, KPH Tak Boleh Menunggu
Penasehat Utama Menteri Kehutanan Dr. Willie Smits (kiri) bersama petani anggota Kelompok Perhutanan Sosial Hutan Kemasyarakatan (HKm) Damai di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH)Boalemo, Dusun Mebongo, Desa Botumoito, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

KPH sebagai Konduktor

Direktur Bina Rencana Pemanfaatan Hutan Kementerian Kehutanan C. Hendro Widjanarko mengatakan KPH merupakan ujung tombak pengelolaan hutan di tingkat tapak karena berhadapan langsung dengan kawasan dan masyarakat.

Karena itu, KPH tidak cukup hanya menjalankan fungsi administratif. KPH harus mampu menghubungkan dan mengoordinasikan berbagai unsur yang terlibat dalam pengelolaan hutan. “Kalau saya, KPH ini ingin menjadi konduktornya. Kalau dalam orkestra, menjadi konduktor yang mengorkestrasi kegiatan-kegiatan di lapangan,” kata Hendro.

Secara nasional, terdapat 527 unit KPH, terdiri atas 352 KPH Produksi dan 175 KPH Lindung, yang mengelola sekitar 95,6 juta hektare kawasan hutan. Luasan tersebut mencakup sekitar 27 juta hektare hutan lindung dan 68,6 juta hektare hutan produksi.

Dengan cakupan wilayah tersebut, KPH memiliki posisi strategis untuk menggerakkan pengelolaan hutan di tingkat tapak. KPH dapat menjadi penghubung antara pemerintah daerah, perhutanan sosial, pemegang Persetujuan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), masyarakat, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai pihak lainnya.

Hendro menjelaskan, pendekatan bioekonomi, mulai dari pangan, farmasi, hingga energi dapat sekaligus memperkuat perlindungan kawasan, termasuk terhadap kebakaran hutan dan lahan. Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari tanaman yang tumbuh di kawasan, kepentingan untuk menjaga tanaman dan lanskap di sekitarnya ikut menguat.

“Kalau yang secara permanen bisa mencegah kebakaran itu kita kembangkan bioekonomi di situ. Salah satunya agroforestri, aren. Saya yakin tidak terbakar lagi karena dijaga masyarakat. Karena punya nilai ekonomi tinggi, jadi dijaga sama masyarakat,” ujar Hendro.

Karena itu, penguatan KPH tidak berhenti pada struktur kelembagaan. Hendro menilai keberadaan KPH di lapangan penting agar pengelolaan hutan lebih dekat dengan masyarakat dan persoalan kawasan.

Agenda tersebut tengah didorong Kementerian Kehutanan. Dalam jangka pendek, penguatan KPH akan ditempuh melalui revisi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 8 Tahun 2021. Dalam jangka panjang, penguatan tersebut diarahkan masuk dalam revisi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

“Jadi penguatan KPH ini kita tempuh dua jalur. Jangka pendek revisi Permen, jangka panjang nanti revisi Undang-Undang 41,” ujar Hendro.

Dari sejumput tanah di bawah tegakan aren yang diambil Willie Smits di Gorontalo, gagasan memperkuat KPH untuk menggerakkan bioekonomi hutan menemukan pijakannya. Aren menunjukkan bagaimana fungsi ekologis dan nilai ekonomi dapat berjalan dalam satu lanskap, sementara KPH didorong menjadi penggerak yang menghubungkan potensi hutan dengan masyarakat, teknologi, dunia usaha, dan pasar. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Gorontalo Identifikasi Potensi Aren untuk Pengembangan Bioekonomi Hutan

Ecobiz.asia — Pemerintah Provinsi Gorontalo mengidentifikasi sebaran tanaman aren di kawasan hutan untuk dikembangkan sebagai bagian dari bioekonomi hutan, mulai dari produksi gula aren...

Kemenhut Dorong Bioekonomi Hutan Jadi Strategi Permanen Cegah Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mendorong pengembangan bioekonomi sebagai salah satu strategi jangka panjang untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara permanen. Pendekatan tersebut...

Bioekonomi Bisa Menjadi Jalan Menjaga Hutan, KPH Tak Boleh Menunggu

Ecobiz.asia - Di hadapan para kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) se-Sulawesi Selatan, Idi Bantara tidak membawa presentasi panjang tentang teori pengelolaan hutan. Ia justru...

Berbagai Skema Pembiayaan Baru untuk 13 Taman Nasional Prioritas

Ecobiz.asia – Satuan Tugas (Satgas) Inovasi Pembiayaan Taman Nasional dan Konservasi Spesies Ikonik menyiapkan berbagai skema pembiayaan berkelanjutan untuk memperkuat pengelolaan 13 taman nasional...

Hutan Adat Leuweung Gede Kampung Kuta: Dari Pamali Menuju Masa Depan Kehutanan Indonesia

Ecobiz.asia – Langkah pertama menuju Leuweung Gede selalu diawali dengan keheningan. Dari permukiman Kampung Adat Kuta di Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, jalan setapak berbatu...

TOP STORIES

Data Karhutla Terbaru, Kemenhut Ungkap Hotspot High Confidence Turun

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama tim gabungan terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah prioritas, terutama Kalimantan dan Sumatera,...

IndoEBTKE ConEx 2026 Dorong Eksekusi Proyek EBT dan Percepatan Investasi Hijau

Ecobiz.asia -- Forum The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 akan menjadi ajang untuk mempercepat realisasi proyek energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE) di Indonesia,...

BEI: Karhutla Berpotensi Tekan Ketersediaan Unit Karbon

Ecobiz.asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi memengaruhi ketersediaan unit karbon yang dapat diperdagangkan di pasar karbon pada periode...

Terjebak Asap Karhutla, Orangutan Lemah Diselamatkan dari Kebun Sawit

Ecobiz.asia — Seekor orangutan jantan dewasa ditemukan dalam kondisi lemah di tengah kebun sawit masyarakat di Dusun 1 Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan...

Lewat MALIKA 2.0, PDC Ubah Limbah Jelantah Jadi Peluang Ekonomi Masyarakat

Ecobiz.asia – PT Patra Drilling Contractor (PDC) mengembangkan program MALIKA 2.0 (Mari Kelola Jelantah Kita) di Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, dengan...