Indonesia Susun Instrumen Biodiversity Credit Sesuai Karakteristik Keanekaragaman Hayati Nasional

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Pemerintah mulai menyusun instrumen biodiversity credit yang disesuaikan dengan karakteristik keanekaragaman hayati Indonesia sebagai negara megabiodiversitas, guna memperkuat perlindungan dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.

Instrumen tersebut disiapkan sebagai bagian dari pengembangan berbagai mekanisme pembiayaan dan perlindungan keanekaragaman hayati nasional, termasuk melalui pendekatan biodiversity asset dan skema kontribusi konservasi berbasis hasil.

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Rasio Ridho Sani, mengatakan Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan biodiversitas yang harus dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“Kekayaan keanekaragaman hayati kita adalah sumber daya yang harus kita kelola untuk pertumbuhan dan kesejahteraan kita,” ujar Rasio saat membuka diskusi “Pengembangan Biodiversity Credit” dalam ajang INVIROTECH 2026 di Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Read also:  Orangutan Mati Terpapar Asap Karhutla, Paru-paru Alami Kerusakan

Menurut Rasio, pengembangan biodiversity credit menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati Indonesia.

Pemerintah, kata dia, mendorong pengembangan berbagai instrumen pendukung biodiversitas melalui pendekatan multi-instrumen yang mencakup biodiversity credit, biodiversity asset, dan berbagai mekanisme konservasi lainnya.

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Rasio Ridho Sani.

Forum yang digelar KLH/BPLH tersebut mempertemukan pemangku kepentingan nasional dan internasional untuk membahas arah kebijakan, metodologi, serta tata kelola biodiversity credit yang kredibel dan berintegritas tinggi.

Diskusi itu juga menjadi bagian dari implementasi Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 yang diarahkan untuk memperkuat perlindungan spesies, pemulihan ekosistem, dan peningkatan kualitas habitat.

Read also:  Pantauan Karhutla Kemenhut: Hotspot Kalteng dan Kalbar Turun Tajam, Sumsel Malah Naik

Staf Ahli Bidang Kelestarian Sumber Daya Keanekaragaman Hayati dan Sosial Budaya KLH/BPLH, Noer Adi Wardojo, menegaskan kerangka kebijakan biodiversity credit Indonesia tidak akan sekadar meniru praktik negara lain.

“Indonesia merupakan negara megabiodiversitas yang memiliki karakteristik unik. Karena itu, pengembangan biodiversity credit tidak dapat hanya meniru praktik negara lain, tetapi harus dibangun berdasarkan kebutuhan, potensi, dan kondisi Indonesia sendiri,” ujar Noer Adi.

Menurut dia, Indonesia memiliki peluang mengembangkan berbagai pendekatan biodiversity credit, mulai dari skema kompensasi, offset, hingga kontribusi sukarela.

Namun, seluruh mekanisme tersebut harus berbasis hasil konservasi yang terukur, dapat diverifikasi, serta memberikan manfaat nyata bagi keanekaragaman hayati dan masyarakat.

Read also:  Prabowo Dorong 'Ubi Bombing' untuk Perkuat Pemadaman Karhutla

Anggota Taskforce Biodiversity Credit, Maria Ratnaningsih, mengatakan biodiversity credit merupakan instrumen yang memberikan nilai terhadap hasil konservasi nyata, seperti perlindungan spesies, pemulihan ekosistem, dan peningkatan kualitas habitat.

“Pengembangan biodiversity credit harus berbasis bukti, terukur, memberikan manfaat tambahan bagi konservasi, serta menjamin keberlanjutan manfaat dalam jangka panjang,” ujar Maria.

Sementara itu, Deputy Executive Director and Director of Government Relations International Advisory Panel on Biodiversity Credits (IAPB), Camile Maclet, menekankan pentingnya pelibatan masyarakat adat dan komunitas lokal dalam pengembangan proyek biodiversity credit.

“Kami meyakini bahwa persetujuan masyarakat merupakan prinsip yang tidak dapat ditawar. Masyarakat lokal dan masyarakat adat harus diposisikan sebagai mitra dalam pengembangan proyek konservasi,” kata Camile. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

WWF-Indonesia dan CPOPC Jalin Kerja Sama Penguatan Transparansi Rantai Pasok Sawit Berkelanjutan

Ecobiz.asia - WWF-Indonesia dan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) sepakat menjalin kemitraan strategis untuk memperkuat sistem komoditas berkelanjutan sekaligus meningkatkan pengakuannya di...

Prabowo Instruksikan Persiapan BBM E50, Susul Penerapan B50

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pemerintah segera menyiapkan langkah konkret untuk mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) campuran bioetanol 50% atau E50 di Indonesia. Menteri...

Pantauan Karhutla Kemenhut: Hotspot Kalteng dan Kalbar Turun Tajam, Sumsel Malah Naik

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional turun 400 titik menjadi 1.037 titik hingga Selasa (15/9/2026) malam....

B50 Sudah Mengalir di 94% SPBU, Pemerintah Kejar Deadline Transisi 1 Oktober

Ecobiz.asia — Implementasi biodiesel 50% atau B50 telah menjangkau 6.050 dari 6.412 SPBU di seluruh Indonesia atau sekitar 94%. Pemerintah kini mengejar penyelesaian transisi...

WWF Indonesia dan DIPI Dorong Transformasi Ritel untuk Perkuat Pangan Sehat dan Berkelanjutan

Ecobiz.asia — Transformasi sistem pangan di Indonesia perlu didorong dari hulu hingga hilir dengan melibatkan peritel sebagai penghubung utama antara produsen dan konsumen. Penguatan...

TOP STORIES

NCI, Infini Asia Launch FIST 1.0 to Strengthen Data Management for Nature-Based Solutions

Ecobiz.asia – Nusantara Climate Initiative (NCI), in collaboration with PT Inovasi Infini Asia (Infini Asia), has officially launched the Forest Integrated System for Transparency...

IDX Proposes Lower Non-Tax State Levy to Boost Carbon Trading on IDXCarbon

Ecobiz.asia – The Indonesia Stock Exchange (IDX) is preparing a proposal for an incentive and disincentive scheme to encourage companies to trade carbon units...

IIF Kantongi Akreditasi GCF, Buka Akses Pendanaan Iklim Global untuk Infrastruktur Berkelanjutan

Ecobiz.asia – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) resmi memperoleh status Accredited Entity (AE) dari Green Climate Fund (GCF) per 1 Juli 2026, membuka akses...

Petani Sawit Kecil Siap Hadapi EUDR Tapi Pertanyakan Insentif

Ecobiz.asia – Petani sawit kecil menyatakan siap memenuhi standar European Union Deforestation Regulation (EUDR), namun masih mempertanyakan dukungan dan insentif ekonomi untuk menanggung biaya...

NCI dan Infini Asia Luncurkan FIST 1.0 untuk Perkuat Pengelolaan Data Proyek Nature-based Solutions

Ecobiz.asia — Nusantara Climate Initiative (NCI) bersama PT Inovasi Infini Asia (Infini Asia) meluncurkan Forest Integrated System for Transparency (FIST) Version 1.0, platform digital...