Ecobiz.asia – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengajak pabrik kelapa sawit (PKS) berkolaborasi mengembangkan Bio Compressed Natural Gas (BioCNG) berbasis limbah cair sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) untuk mendukung transisi energi dan pengurangan emisi karbon nasional.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan pengembangan BioCNG menjadi langkah strategis perusahaan dalam mengubah limbah industri sawit menjadi sumber energi rendah karbon yang memiliki nilai ekonomi.
“PLN EPI terus mendorong pemanfaatan limbah sawit menjadi sumber energi bernilai tambah. Melalui kerja sama dengan pemilik konsesi dan pabrik kelapa sawit, POME dapat diolah menjadi biometana yang kemudian dimurnikan menjadi BioCNG untuk mendukung kebutuhan energi pembangkit listrik,” ujar Hokkop, dikutip Senin (8/6/2026).
Menurut Hokkop, Sumatera Utara memiliki potensi besar untuk pengembangan BioCNG karena merupakan salah satu sentra industri sawit terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 327 perusahaan perkebunan sawit dan 237 pabrik kelapa sawit di wilayah tersebut yang berpotensi menjadi sumber bahan baku biometana.
PLN EPI saat ini telah menjalin kerja sama dengan PT KIS Biofuels Indonesia dalam pengembangan teknologi pengolahan limbah cair sawit menjadi BioCNG. Energi bersih tersebut nantinya direncanakan untuk mendukung kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Belawan di Sumatera Utara yang memiliki kapasitas 1.184 megawatt (MW).
“Kami melihat peluang yang sangat besar untuk memperluas pemanfaatan BioCNG. Karena itu, PLN EPI terus membuka peluang kolaborasi dengan pabrik kelapa sawit agar limbah yang selama ini belum dimanfaatkan optimal dapat diubah menjadi energi bersih yang bernilai ekonomi,” kata Hokkop.
Pernyataan tersebut disampaikan Hokkop dalam kegiatan Diseminasi Pengembangan Biometana di Indonesia yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM di Medan, Sumatera Utara.
Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, dan pemilik bahan baku guna memperkuat ekosistem biometana nasional.
Selain mendukung diversifikasi energi hijau, pengembangan BioCNG juga dinilai mampu memberikan manfaat lingkungan yang signifikan. Gas metana yang berasal dari limbah cair sawit memiliki potensi pemanasan global lebih tinggi dibanding karbon dioksida. Dengan menangkap dan memanfaatkannya sebagai energi, emisi gas rumah kaca dapat ditekan sekaligus menghasilkan sumber energi terbarukan yang andal.
Hokkop menambahkan pengembangan biometana juga membuka peluang ekonomi baru bagi industri sawit melalui pemanfaatan limbah yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi optimal.
“Melalui pengembangan BioCNG, PLN EPI tidak hanya mengubah limbah menjadi energi, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi hijau yang menghubungkan sektor perkebunan, industri, dan ketenagalistrikan,” ujarnya.
PLN EPI menilai pengembangan BioCNG menjadi bagian penting dalam mendukung target transisi energi nasional dan pencapaian Net Zero Emissions melalui optimalisasi sumber energi domestik berbasis biomassa. ***



