Kepada Kepala Desa Penyangga, Menhut Jelaskan Proyek Karbon di Taman Nasional Way Kambas

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Pemerintah menyiapkan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) sebagai proyek percontohan pembiayaan konservasi berbasis skema campuran (blended finance) untuk memperkuat perlindungan keanekaragaman hayati sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan proyek ini akan menggabungkan berbagai sumber pendanaan, mulai dari obligasi keanekaragaman hayati, kredit karbon di pasar sukarela internasional, hingga pengembangan ekowisata berbasis konservasi.

“Dalam merancang proyek ini, kami menargetkan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat dan keanekaragaman hayati TNWK yang tak ternilai harganya,” ujar Raja Juli saat silaturahmi Idulfitri dengan kepala desa penyangga kawasan TNWK, Kamis (26/3/2026).

Ia menegaskan, langkah ini merupakan respons atas keterbatasan pembiayaan pengelolaan kawasan konservasi yang selama ini masih bergantung pada APBN, sementara tekanan terhadap hutan seperti perambahan, perburuan liar, kebakaran, dan konflik satwa-manusia masih terus terjadi.

Read also:  INPEX Dorong Optimalisasi TKDN Proyek LNG Abadi Lewat Workshop Industri Nasional

Menurut Raja Juli, Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap Way Kambas, terutama dalam menjaga habitat dan populasi gajah Sumatra serta mengatasi konflik manusia dan satwa.

“Komitmen Presiden Prabowo adalah menjaga populasi gajah dan mengakhiri secara permanen konflik manusia-gajah,” katanya.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta. Satgas ini diketuai oleh Mari Elka Pangestu dengan Raja Juli sebagai wakil ketua.

Way Kambas dipilih sebagai proyek awal karena memiliki nilai ekologis tinggi sebagai habitat satwa kunci seperti gajah Sumatra, badak Sumatra, dan harimau Sumatra yang berstatus kritis.

Read also:  PHE Perkuat Pengembangan Energi Rendah Karbon di Tengah Target Produksi Migas 2026

Melalui skema kredit karbon, perusahaan dapat mengimbangi emisi dengan membeli kredit dari kegiatan konservasi dan restorasi hutan. Dana tersebut kemudian digunakan kembali untuk mendukung operasional kawasan dan pemulihan ekosistem secara berkelanjutan.

Pemerintah juga membuka peluang penerapan kredit keanekaragaman hayati (biodiversity credit), yaitu instrumen pembiayaan berbasis pasar yang memberikan nilai ekonomi pada upaya perlindungan dan pemulihan keanekaragaman hayati. Skema ini memungkinkan investor atau perusahaan mendanai proyek konservasi dengan imbal balik berupa sertifikat berbasis capaian biodiversitas.

Di tingkat global, pendekatan ini mulai diterapkan, antara lain melalui proyek restorasi habitat di Australia dan skema biodiversity credit di Inggris yang mengaitkan pembangunan dengan kewajiban peningkatan nilai keanekaragaman hayati (biodiversity net gain).

Read also:  Pertamina Pastikan Stok BBM Aman Meski Dua Kapal Masih Tertahan di Selat Hormuz

Raja Juli menambahkan, implementasi proyek karbon di kawasan konservasi akan dilakukan secara terbatas pada zona pemanfaatan, sesuai regulasi yang berlaku. Penyesuaian zonasi bersifat sementara dan bertujuan memperkuat habitat satwa sebelum dikembalikan ke fungsi awalnya.

Selain itu, proyek ini juga mencakup pengembangan ekowisata berkelanjutan untuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar kawasan.

Ke depan, pemerintah berharap model pembiayaan ini dapat direplikasi di taman nasional lain di Indonesia sebagai upaya memperkuat konservasi sekaligus mendorong pembangunan ekonomi berbasis lingkungan.

“Harapan kami, masyarakat di sekitar Way Kambas menjadi yang pertama merasakan manfaat dari inovasi ini, bukan yang terakhir,” ujar Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Pangestu, salah satu Ketua Komite Pembiayaan Taman Nasional. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Hari Air Sedunia, Pertamina Bangun Sumur Bor di Papua hingga Salurkan Air Bersih ke Wilayah Bencana

Ecobiz.asia — Pertamina memperluas program penyediaan air bersih di wilayah terpencil Papua hingga daerah terdampak bencana di Sumatra. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan...

PLN Siagakan 439 SPKLU di Jalur Mudik Jatim–Bali, Antisipasi Lonjakan Pengguna EV

Ecobiz.asia — PLN menyiagakan 439 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di sepanjang jalur mudik Jawa Timur hingga Bali untuk mendukung kelancaran perjalanan...

Danantara Kembali Buka Pendaftaran Mitra Proyek PSEL, Begini Tahapannya

Ecobiz.asia — Danantara melalui PT Danantara Investment Management (DIM) membuka pendaftaran Daftar Penyedia Terverifikasi (DPT) bagi calon mitra proyek fasilitas pengolahan sampah menjadi energi...

GeoDipa Terima Hibah USTDA US$3,9 Juta untuk Studi Ekstraksi Lithium di Dieng

Ecobiz.asia — PT Geo Dipa Energi memperoleh hibah sebesar US$3,9 juta dari U.S. Trade and Development Agency untuk mendukung pilot plant dan studi kelayakan...

Aqua dan Veolia Resmikan Pabrik Daur Ulang Botol Plastik PET Berkapasitas 25.000 Ton per Tahun, Terbesar di Indonesia

Ecobiz.asia — Danone-Aqua bersama Veolia Services Indonesia meresmikan pabrik daur ulang botol plastik PET (polyethylene terephthalate) terbesar di Indonesia yang berlokasi di kawasan Pasuruan...

TOP STORIES

MMAF, Fairatmos Assess Central Java Blue Carbon Potential for Pilot Project

Ecobiz.asia – Indonesia’s Ministry of Marine Affairs and Fisheries (MMAF) is working with Fairatmos to assess the potential of a blue carbon pilot project...

DFCD Backs JALA with €340,000 Grant for Climate-Resilient Shrimp Farming in Indonesia

Ecobiz.asia — The Dutch Fund for Climate and Development (DFCD) plans to provide €340,000 in grant funding to Indonesian aquaculture firm PT Jala Akuakultur...

Way Kambas Carbon Project Limited to Utilization Zone, Minister Says

Ecobiz.asia - The Indonesian government will restrict the implementation of carbon projects at Way Kambas National Park (TNWK) to designated utilization zones, as part...

SRUK Development Hits 90%, Indonesia Prepares Interoperable Carbon Registry with Global Linkages

Ecobiz.asia – Indonesia’s national carbon registry system (Sistem Registri Unit Karbon/SRUK) has reached around 90% completion and is set to enter a trial phase,...

Pengembangan SRUK Capai 90%, Registri Karbon Bakal Terintegrasi dengan Pasar Global

Ecobiz.asia – Pengembangan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) telah mencapai sekitar 90% dan akan segera memasuki tahap uji coba. Pemerintah menekankan bahwa sistem ini...