Dari Energi hingga Limbah, Lebih dari 165 Proyek Siap Masuk Mekanisme Kredit Karbon Paris Agreement

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Lebih dari 165 proyek yang telah disetujui negara tuan rumah sedang dalam proses transisi dari mekanisme Clean Development Mechanism (CDM) menuju mekanisme kredit karbon di bawah Paris Agreement. Proyek-proyek tersebut mencakup sektor pengelolaan limbah, energi, industri, hingga pertanian.

Transisi ini menandai fase operasional awal pasar karbon global yang diatur melalui mekanisme kredit karbon Persetujuan Paris atau Pasal 6.4.

Sebagai langkah awal, badan pengawas pasar karbon UN Climate Change menyetujui penerbitan kredit karbon pertama untuk proyek kompor bersih (clean cooking) di Myanmar.

Proyek tersebut mendistribusikan kompor hemat energi yang dapat mengurangi polusi udara dalam rumah tangga serta menekan tekanan terhadap hutan akibat penggunaan kayu bakar.

Read also:  Indonesia Luncurkan RENAKSI Karbon Biru 2025–2030, Targetkan Perlindungan 17% Cadangan Global

Sekretaris Eksekutif UN Climate Change, Simon Stiell, mengatakan lebih dari dua miliar orang di dunia masih belum memiliki akses terhadap teknologi memasak bersih.

Menurut dia, penerbitan kredit karbon pertama di bawah mekanisme Persetujuan Paris menunjukkan bagaimana pasar karbon global dapat membantu mendanai solusi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Memasak bersih melindungi kesehatan, menjaga hutan, menurunkan emisi, serta memberdayakan perempuan dan anak perempuan yang paling terdampak polusi udara rumah tangga,” kata Stiell dalam pernyataannya dikutip Sabtu (7/3/2026).

Read also:  Internalisasi Dampak Iklim dan Nilai Ekonomi Karbon Jadi Kunci Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan

Proyek tersebut dijalankan dengan partisipasi yang telah mendapat otorisasi dari Republik Korea. Kredit karbon yang diotorisasi untuk Korea dapat dialihkan kepada entitas di negara tersebut untuk digunakan dalam sistem perdagangan emisi nasionalnya.

Sebagian kredit lainnya akan digunakan oleh Myanmar untuk mendukung target kontribusi iklim nasional atau Nationally Determined Contribution (NDC).

Ketua Badan Pengawas Pasal 6.4, Mkhuthazi Steleki, mengatakan penerbitan awal ini dilakukan dengan metodologi baru yang lebih konservatif dibandingkan sistem sebelumnya.

Dengan pendekatan tersebut, jumlah pengurangan emisi yang dikreditkan sekitar 40 persen lebih rendah dibandingkan perhitungan pada mekanisme CDM, guna memastikan integritas lingkungan dari setiap kredit karbon yang diterbitkan.

Read also:  Dapat Persetujuan KLH, Proyek Energi Terbarukan LX International Buka Peluang Monetisasi Kredit Karbon

Proyek kompor bersih tersebut sebelumnya telah menerima penerbitan sementara di bawah CDM. Dalam mekanisme baru Persetujuan Paris, perhitungan diperbarui menggunakan parameter dan pendekatan ilmiah terbaru.

Wakil Ketua Badan Pengawas Pasal 6.4, Jacqui Ruesga, mengatakan penerbitan kredit pertama ini menjadi sinyal bahwa pasar karbon global di bawah Persetujuan Paris mulai bergerak dari tahap desain menuju implementasi.

Persetujuan proyek masih akan melalui masa banding selama 14 hari sebelum kredit karbon tersebut secara resmi diterbitkan. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Terdaftar di IDX Carbon, NBE Tawarkan Kredit Karbon dari Proyek Biogas Limbah Sawit

Ecobiz.asia — PT Nagata Bio Energi (NBE), anak usaha PT ABM Investama Tbk, resmi bergabung dengan IDX Carbon, menawarkan kredit karbon yang dihasilkan dari...

KKP Jajaki Sinergi Industri untuk Pemetaan Ruang Karbon Biru

Ecobiz.asia — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuka peluang sinergi dengan pelaku industri untuk memetakan dan menetapkan ruang karbon biru di kawasan industri pesisir,...

Data Emisi Jadi Kunci Aksi Iklim, KLH Dorong Penguatan Inventarisasi GRK di Bali

Ecobiz.asia — Pemerintah menegaskan bahwa keberhasilan agenda pengendalian perubahan iklim nasional sangat bergantung pada kualitas data emisi gas rumah kaca (GRK) di tingkat daerah....

Perdana untuk Karbon Biru, Gold Standard Terbitkan Design Certification untuk Proyek Yagasu

Ecobiz.asia — Gold Standard untuk pertama kalinya menerbitkan Design Certification bagi proyek karbon biru (blue carbon), menyusul lolosnya Global Mangrove Trust Blue Carbon Restoration...

Green Carbon–BRIN Jalin Kerja Sama, Bidik Kredit Karbon Sawah Indonesia Senilai 42,8 Miliar Yen

Ecobiz.asia - Pengembang kredit karbon berbasis alam asal Jepang, Green Carbon Inc., menjalin kerja sama riset dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk...

TOP STORIES

Over 165 Projects Shift From CDM to Paris Agreement Carbon Market: UN Climate Change

Ecobiz.asia — More than 165 projects approved by host countries are currently transitioning from the Clean Development Mechanism (CDM) to the carbon credit mechanism...

Perluas Akses Masyarakat Kelola Hutan, Menhut Serahkan SK Perhutanan Sosial di NTB

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan menyerahkan enam Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial kepada kelompok masyarakat di Nusa Tenggara Barat, memberikan akses kelola kawasan hutan seluas...

Danantara Names Two Chinese Firms to Operate Waste-to-Energy Plants in Indonesia

Ecobiz.asia — Danantara Indonesia has appointed two international companies to operate waste-to-energy power plants in Bekasi and Denpasar as part of efforts to strengthen...

Danantara Resmi Tunjuk 2 Perusahaan China Jadi Operator Pembangkit Listrik Sampah, Wajib Lakukan Ini

Ecobiz.asia — Danantara Indonesia menunjuk dua perusahaan internasional sebagai operator proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste-to-energy di Bekasi dan Denpasar sebagai...

Indonesia Assures Japanese Buyers Wood Pellet Production Meets Sustainable Forestry Standards

Ecobiz.asia — Indonesia’s Ministry of Forestry has assured Japanese energy companies that wood pellet production in the country is carried out in line with...