Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan Kota Bekasi berada dalam kondisi darurat sampah seiring timbulan limbah harian yang mencapai 1.801 ton.
Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama untuk menekan krisis tersebut.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah daerah dan infrastruktur, tetapi harus dimulai dari rumah tangga melalui pemilahan sejak sumbernya.
“Pengelolaan sampah yang efektif harus dimulai dari hulu. Kalau masyarakat tidak memilah sampah dari rumah, sebaik apa pun sistem di hilir tidak akan mampu mengatasi persoalan ini,” ujar Hanif saat memimpin Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Rapi, dan Indah (ASRI) di Bekasi, Jumat (14/2/2026).
Menurut Hanif, kebiasaan membuang sampah tanpa pemilahan telah membebani sistem pengangkutan dan tempat pemrosesan akhir (TPA), sekaligus meningkatkan risiko pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat. Karena itu, pemerintah mendorong keterlibatan aktif warga dalam pengurangan dan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga.
Gerakan Indonesia ASRI di Bekasi difokuskan pada pembersihan kawasan, penataan lingkungan, serta penguatan sistem pengelolaan sampah dari sumber, mulai dari pemilahan, pengangkutan yang lebih efisien, hingga pengolahan akhir yang ramah lingkungan.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono menyatakan pemerintah kota telah menginstruksikan jajaran hingga tingkat rukun warga untuk lebih konsisten mengelola sampah.
Ia menyebut krisis sampah tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan seremonial, melainkan membutuhkan disiplin kolektif yang berkelanjutan. ***




