Ecobiz.asia — Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki mendorong replikasi model konservasi berbasis masyarakat dalam peringatan Hari Hutan Internasional di Sukabumi, Jawa Barat.
Kegiatan yang digelar di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Selasa (7/4), ditandai dengan aksi penanaman pohon di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Rohmat menegaskan konservasi harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Model penanaman yang melibatkan masyarakat dinilai menjadi contoh konkret kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan kelompok tani.
“Penanaman ini bukan sekadar seremoni, tetapi langkah strategis memulihkan koridor hijau dan memastikan satwa seperti elang jawa, owa jawa, dan macan tutul jawa tetap memiliki habitat yang aman,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, komposisi tanaman didominasi jenis Multi Purpose Tree Species (MPTS) sebesar 70% yang memberikan manfaat ekonomi langsung, sementara 30% sisanya merupakan tanaman kehutanan endemik seperti puspa dan rasamala.
Menurut Rohmat, pendekatan ini penting untuk menjaga fungsi ekologis hutan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat melalui hasil tanaman produktif.
Ia juga menyoroti peran kawasan hulu Sukabumi sebagai “menara air” yang menopang kebutuhan air bagi sektor irigasi, industri, hingga masyarakat perkotaan.
“Petani di kawasan ini berperan besar menjaga ketersediaan air bagi masyarakat luas,” katanya.
Dalam kesempatan itu, pemerintah menyerahkan bibit secara simbolis kepada perwakilan petani dari empat desa penyangga TNGHS, yakni Cipeuteuy, Mekarjaya, Cihamerang, dan Kabandungan.
Wamenhut menekankan keberhasilan program tidak berhenti pada penanaman, tetapi pada keberlanjutan dan manfaat ekonomi yang dihasilkan. Ia meminta pendampingan berkelanjutan dari IPB University dan pengelola taman nasional agar model ini dapat direplikasi di wilayah lain. ***



