Studi Sekretariat JETP Urai Dekarbonisasi Pembangkit Listrik Captive, Seperti Apa?

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Sekretariat Just Energy Transition Partnership (JETP) meluncurkan Laporan Tematik Studi Pembangkit Listrik Captive yang menguraikan strategi dan opsi transisi sektor pembangkit listrik captive dari energi fosil menuju sumber energi yang lebih bersih guna menekan emisi nasional.

Pembangkit listrik captive, yang merupakan listrik yang dihasilkan industri untuk kebutuhan sendiri, saat ini menyumbang hampir seperempat dari total kapasitas listrik terpasang Indonesia dan masih didominasi penggunaan batu bara.

Ketergantungan tersebut dipicu oleh keterbatasan jaringan listrik di kawasan industri serta kebutuhan pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan, khususnya bagi industri peleburan logam.

Hasil studi mengungkap, integrasi transisi pembangkit listrik captive ke dalam kebijakan energi bersih nasional menjadi langkah penting untuk mencapai penurunan emisi yang signifikan sekaligus mendukung target net-zero emission Indonesia pada 2060.

Read also:  Investasi Rp3 Triliun Masuk, PSEL Piyungan Ditargetkan Hasilkan Listrik 20 MW

Studi tersebut disusun di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan dukungan Uni Eropa melalui EU–Indonesia Cooperation Facility (EU-ICF), serta menjadi pelengkap Comprehensive Investment and Policy Plan (CIPP) 2023.

Laporan ini memetakan sejumlah jalur transisi pembangkit listrik captive dari bahan bakar fosil menuju energi bersih dalam kerangka JETP.

Wakil Ketua Satuan Tugas Transisi Energi dan Ekonomi Hijau (Satgas TEH), Rachmat Kaimuddin, menekankan pentingnya secara strategis menangani emisi dari pembangkit listrik captive untuk mencapai target net-zero emission Indonesia pada 2060.

Ia menekankan, solusi transisi energi di sektor industri harus tetap kompetitif dan andal agar Indonesia dapat melanjutkan transformasi dari ekonomi berbasis ekstraksi sumber daya menuju ekonomi industri yang berkelanjutan.

“Indonesia memiliki ambisi pertumbuhan sekaligus ambisi net zero. Ini berarti sektor industri yang menggunakan pembangkit listrik captive juga harus melakukan dekarbonisasi. Namun, kita perlu memastikan bahwa solusi yang diterapkan tetap kompetitif dan andal, sehingga Indonesia dapat terus bertransisi dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi industri, sembari tetap melindungi lingkungan,” ujar Rachmat di Jakarta, Rabu (17/12/2025).

Read also:  Pemerintah Kebut Operasional PLTA Batang Toru, Perkuat Sistem Kelistrikan Sumatera

Kepala Sekretariat JETP, Paul Butarbutar, menyatakan bahwa agenda transisi energi Indonesia tidak hanya mencakup penurunan emisi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan serta pengembangan sistem energi yang terjangkau, andal, dan mudah diakses.

“Melalui serangkaian studi analitis, termasuk Comprehensive Investment and Policy Plan (CIPP), Sekretariat JETP telah mengidentifikasi tantangan dan peluang utama terkait transisi pembangkit listrik captive. Laporan Tematik Studi Pembangkit Listrik Captive ini memberikan rekomendasi yang dapat menjadi masukan bagi perumusan kebijakan serta memperkuat kerangka transisi energi yang adil dan terkelola dengan baik,” kata Paul Butarbutar.

Read also:  Rancang Peta Arahan, Kemenhut Siapkan 5,67 Juta Hektare Kawasan Hutan untuk Perizinan Berusaha

Ia menambahkan, seiring meningkatnya kesadaran terhadap dampak perubahan iklim, konsumen semakin menuntut produk yang dihasilkan melalui proses rendah karbon, sehingga semakin menegaskan pentingnya dekarbonisasi pembangkit listrik captive.

Peluncuran laporan yang digelar di Jakarta dihadiri perwakilan pemerintah pusat dan daerah, negara-negara anggota International Partners Group (IPG), badan usaha milik negara, organisasi masyarakat sipil, serta mitra pembangunan.

Acara tersebut juga menandai penyerahan resmi laporan dari Sekretariat JETP kepada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Selain peluncuran laporan, kegiatan ini diisi diskusi panel yang membahas integrasi hasil studi ke dalam perencanaan nasional dan daerah, termasuk pentingnya penguatan koordinasi regulasi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan ketahanan rantai pasok lokal guna memastikan manfaat ekonomi jangka panjang dari transisi energi. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Investasi Rp3 Triliun Masuk, PSEL Piyungan Ditargetkan Hasilkan Listrik 20 MW

Ecobiz.asia – Investasi sekitar Rp3 triliun akan digelontorkan untuk membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Piyungan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)....

Rancang Peta Arahan, Kemenhut Siapkan 5,67 Juta Hektare Kawasan Hutan untuk Perizinan Berusaha

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyiapkan alokasi sekitar 5,67 juta hektare kawasan hutan dalam Peta Arahan Pemanfaatan Hutan (PAPH) Tahun 2026 sebagai acuan penerbitan...

ClientEarth-CPI Indonesia Teken MoU, Percepat Transisi Energi Berkeadilan

Ecobiz.asia – ClientEarth dan Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mempercepat implementasi energi terbarukan dan transisi energi berkeadilan di Indonesia. Kerja...

Menteri Jumhur Ajak Akademisi Wujudkan Kedaulatan Ekologis Jelang 81 Tahun Indonesia Merdeka

Ecobiz.asia – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat mengajak kalangan akademisi menjadikan kedaulatan ekologis sebagai fondasi baru pembangunan Indonesia...

Kemenhut Perkuat Diplomasi Publik, Siapkan SDM Hadapi Negosiasi Kehutanan Global

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang diplomasi publik dan negosiasi internasional guna mendukung kepemimpinan Indonesia dalam tata kelola...

TOP STORIES

Elnusa Perkuat Kapabilitas Geoscience untuk Dukung Eksplorasi Energi

Ecobiz.asia -- PT Elnusa Tbk (Elnusa), perusahaan jasa energi terintegrasi yang merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina, memperkuat kapabilitas Geoscience & Reservoir Services (GRS)...

ADUPI, IDCTA dan ESGIN Bangun Infrastruktur Digital untuk Perkuat Industri Daur Ulang

Ecobiz.asia -- Transformasi industri daur ulang Indonesia memasuki tahap baru dengan semakin pentingnya infrastruktur data, ketertelusuran material dan verifikasi dampak lingkungan. Untuk mendukung agenda...

Penyempurnaan PGN Mobile, Catat Meter Mandiri Kini Lebih Akurat

Ecobiz.asia — PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, terus memperkuat transformasi digital untuk meningkatkan kualitas layanan dan kenyamanan pelanggan GasKita melalui...

VCarboN Eyes Compliance Carbon Markets, Seeks to Expand Indonesian Projects into South Korea

Ecobiz.asia – Indonesian carbon project developer VCarboN is looking beyond the voluntary carbon market (VCM) to tap compliance carbon markets, seeking to expand international...

Indonesia Expands GCF Results-Based Carbon Finance to 34 Provinces

Ecobiz.asia - Indonesia has expanded its Results-Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund (GCF) program to 34 provinces after adding 10 new provincial governments,...