Riset ITB Ungkap Potensi Mikroalga untuk Penangkapan Karbon di Indonesia

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Peneliti Kelompok Keahlian Biokimia dan Rekayasa Biomolekul FMIPA ITB, Alfredo Kono, menyampaikan bahwa mikroalga memiliki potensi menjadi solusi berbasis alam untuk mitigasi perubahan iklim melalui kemampuan alami menangkap karbon dioksida dan mengonversinya menjadi biomassa.

Ia menyebut mikroalga dapat menawarkan pendekatan cepat di tengah urgensi krisis iklim global.

Alfredo mengatakan Indonesia memiliki keunggulan geografis sebagai negara maritim dan kawasan cincin api, yang menyediakan habitat mikroalga dengan kemampuan adaptasi ekstrem.

Eksplorasi mikroalga dilakukan di sejumlah lokasi, termasuk laut tropis dan kawasan vulkanik di Jawa Barat, seperti Kawah Kamojang, Talaga Bodas di Garut, dan Kawah Domas Tangkuban Parahu.

Read also:  Elnusa Perkuat Kapabilitas Geoscience untuk Dukung Eksplorasi Energi

Dari kawasan tersebut, tim ITB berhasil mengisolasi mikroalga merah Galdieria sulphuraria yang mampu hidup pada kondisi sangat asam.

Ia menjelaskan kecepatan pertumbuhan menjadi salah satu keunggulan mikroalga. Fotosintesis optimal dapat dicapai dalam satu sampai dua hari, jauh lebih cepat dibandingkan tanaman darat yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh.

Mikroalga juga dapat dibudidayakan dalam sistem tertutup seperti tangki, sehingga dapat diterapkan di kawasan perkotaan maupun industri tanpa kebutuhan lahan luas.

“Salah satu yang membuat dia powerful adalah ukurannya yang kecil tapi kemampuan penangkapannya bisa jauh lebih tinggi dari tanaman yang ada di darat,” katanya dikutip Rabu (4/2/2026).

Read also:  Pilot Bus Hidrogen Diesel (H2 DDF) Mulai Mengaspal, Spek-nya Bertenaga

Selain penyerapan karbon, Alfredo menekankan pentingnya pengembangan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan biomassa mikroalga.

Produk turunan yang dapat dikembangkan meliputi lipid untuk biofuel, pigmen untuk industri kosmetik, serta karbohidrat unik untuk sektor farmasi dan kesehatan.

Sebagai bagian dari hilirisasi, tim ITB mengembangkan konsep phototank atau pohon cair sebagai sistem pembersih udara dalam ruangan.

Ia menambahkan bahwa data kuantitatif diperlukan untuk memastikan kapasitas penyerapan CO₂ mikroalga dapat dijadikan rujukan dalam penyusunan kebijakan iklim.

Read also:  Penyempurnaan PGN Mobile, Catat Meter Mandiri Kini Lebih Akurat

“Kami sedang menghitung seberapa banyak mikroalga ini menangkap CO₂ dengan peralatan yang sudah ada. Suatu saat kami berharap ini bisa menjadi standar,” ujarnya.

Pengumpulan data dilakukan bersama UGM untuk mendukung pemerintah merumuskan kebijakan, termasuk skema pajak karbon.

Alfredo menyatakan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia memberikan dasar kuat bagi pengembangan solusi iklim dalam negeri. Kolaborasi antara sains dasar, rekayasa, industri, dan pembuat kebijakan diperlukan agar riset mikroalga dapat berkembang menjadi inovasi yang aplikatif dan berdampak bagi masyarakat. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Schneider Electric Hadirkan Altivar HVAC ATH600 untuk Dorong Efisiensi Energi Bangunan

Ecobiz.asia -- Kebutuhan meningkatkan efisiensi energi sekaligus menjaga keandalan operasional bangunan mendorong Schneider Electric menghadirkan Altivar HVAC ATH600, variable speed drive (VSD) yang dirancang...

Elnusa Perkuat Kapabilitas Geoscience untuk Dukung Eksplorasi Energi

Ecobiz.asia -- PT Elnusa Tbk (Elnusa), perusahaan jasa energi terintegrasi yang merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina, memperkuat kapabilitas Geoscience & Reservoir Services (GRS)...

Penyempurnaan PGN Mobile, Catat Meter Mandiri Kini Lebih Akurat

Ecobiz.asia — PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, terus memperkuat transformasi digital untuk meningkatkan kualitas layanan dan kenyamanan pelanggan GasKita melalui...

PTBA Promosikan Kalium Humat Hasil Hilirisasi Batubara di Inagritech 2026

Ecobiz.asia – PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota Holding BUMN Industri Pertambangan MIND ID, memperkenalkan produk pembenah tanah berbasis kalium humat hasil hilirisasi batubara...

Pilot Bus Hidrogen Diesel (H2 DDF) Mulai Mengaspal, Spek-nya Bertenaga

Ecobiz.asia – Kementerian ESDM meluncurkan Pilot Bus Hydrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF) sebagai proyek percontohan pemanfaatan hidrogen di sektor transportasi. Bus tersebut menjadi...

TOP STORIES

Indonesia Urges EU to Strengthen Recognition of FLEGT Licences Under EUDR

Ecobiz.asia – Indonesia has urged the European Union to strengthen recognition of Forest Law Enforcement, Governance and Trade (FLEGT) licences under the implementation of...

Indonesia Dorong UE Perkuat Pengakuan Lisensi FLEGT dalam Penerapan EUDR

Ecobiz.asia – Indonesia mendorong Uni Eropa memperkuat pengakuan terhadap lisensi FLEGT dalam penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR) untuk menjaga akses pasar produk hasil...

Bioekonomi Bisa Menjadi Jalan Menjaga Hutan, KPH Tak Boleh Menunggu

Ecobiz.asia - Di hadapan para kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) se-Sulawesi Selatan, Idi Bantara tidak membawa presentasi panjang tentang teori pengelolaan hutan. Ia justru...

Jakarta Agenda Calls on Global South to Strengthen Critical Minerals Value Chains

Ecobiz.asia – Countries across the Global South have called for stronger cooperation to increase domestic value creation from critical minerals and develop more sustainable...

Gempa M7,7 di Timur Laut Nagekeo, Badan Geologi Ingatkan Warga Patuhi Jalur Evakuasi

Ecobiz.asia – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta masyarakat di Nusa Tenggara Timur dan wilayah terdampak gempa untuk tetap waspada...