Rimba Collective Gandeng NCI, Luncurkan Proyek Perlindungan Hutan 160.000 Ha di Kalimantan Timur

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Rimba Collective, yang dikelola oleh Lestari Capital, memperluas portofolio konservasinya di Indonesia dengan menggandeng Nusantara Climate Initiative (NCI) melalui peluncuran Proyek Wahea-Tabang di Kalimantan Timur, sebuah inisiatif perlindungan dan restorasi hutan seluas lebih dari 160.000 hektare yang melibatkan masyarakat setempat.

Proyek ini menandai transisi skala besar dari pemanfaatan lahan ekstraktif menuju konservasi jangka panjang dan pengelolaan berbasis masyarakat.

Kawasan Wahea-Tabang dirancang sebagai satu bentang alam terpadu yang menggabungkan mitigasi perubahan iklim, perlindungan keanekaragaman hayati, dan pembangunan ekonomi inklusif.

Founder dan CEO Lestari Capital, Michal Zrust, mengatakan perluasan proyek ini menunjukkan bahwa model bisnis konservasi dapat menjadi alternatif yang layak dan berkelanjutan bagi konsesi kehutanan di Indonesia.

Read also:  PLTS Terapung Gajah Mungkur Ditarget Beroperasi 2027, Kapasitas 218 GWh

“Dengan mentransisikan lebih dari 160.000 hektare dari pembalakan konvensional ke konservasi dan pengelolaan berbasis masyarakat, kami menunjukkan bahwa model bisnis kehutanan alternatif tidak hanya layak, tetapi juga mampu memberikan dampak terukur bagi iklim, keanekaragaman hayati, dan mata pencaharian,” ujar Zrust dalam keterangan resminya, Kamis (18/12/2025).

Proyek Wahea-Tabang diproyeksikan mendukung sekitar 5.500 orang di sedikitnya 16 desa melalui pengembangan mata pencaharian berkelanjutan, pemberdayaan perempuan, serta peningkatan akses layanan kesehatan, air bersih, dan pendidikan.

Dari sisi ekologis, kawasan ini berperan penting dalam menjaga dan menghubungkan habitat bagi 40 spesies terancam dalam Daftar Merah IUCN, termasuk orangutan Kalimantan dan beruang madu.

Read also:  VCarboN Bidik Pasar Karbon Compliance, Dorong Akses Proyek Indonesia ke Korea Selatan

Direktur Eksekutif NCI Barakalla Robyn menyebut kolaborasi ini mencerminkan pergeseran pendekatan konservasi menuju model pemanfaatan lahan non-ekstraktif yang dapat diinvestasikan dan diperluas.

“Kemitraan ini memperkuat kawasan penyangga dan koridor ekologis sekaligus menciptakan peluang ekonomi yang inklusif bagi masyarakat lokal. Kami menunjukkan bahwa bisnis berbasis konservasi layak secara ekonomi dan siap dikembangkan dalam skala besar,” kata Barakalla.

Dalam jangka waktu 25 tahun, Proyek Wahea-Tabang diperkirakan mampu menghindari dan menyerap lebih dari 14,5 juta ton emisi karbon dioksida, menanam lebih dari 500.000 pohon, serta menjamin konservasi dan restorasi jangka panjang kawasan hutan yang luas.

Read also:  Pertamina Drilling dan Iceland Drilling Bidik Peluang Bisnis Geothermal dan Migas

Berbeda dari proyek konservasi berbasis pasar karbon, Wahea-Tabang dikembangkan dengan pendekatan pembayaran jasa ekosistem non-karbon, di mana dukungan pendanaan dikaitkan langsung dengan capaian kinerja konservasi, sosial, dan keanekaragaman hayati yang terukur, serta ditargetkan memperoleh sertifikasi Climate, Community & Biodiversity (CCB).

Rimba Collective menyatakan ekspansi di Kalimantan Timur ini menjadi bagian dari strategi peningkatan skala dampak konservasi di Asia Tenggara, setelah sejak 2022 mendukung lebih dari 300.000 hektare hutan tropis di Indonesia dan Filipina. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Elnusa Realisasikan 35% CAPEX Rp602 Miliar hingga Semester I 2026

Ecobiz.asia -- PT Elnusa Tbk (ELSA), perusahaan jasa energi dan migas yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, telah merealisasikan sekitar 35% dari anggaran belanja...

PLN Nusantara Power Perluas Bisnis di Luar Pembangkitan, Raih Dua Penghargaan Marketing 2026

Ecobiz.asia -- Transformasi bisnis PT PLN Nusantara Power (PLN NP) dalam mencari sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti pembangkitan mendapat pengakuan melalui dua...

Gelar City Gas Tour 2026, PGN Tunjukkan Efisiensi Gas Bumi dari Transportasi hingga Usaha

Ecobiz.asia — Pemanfaatan gas bumi sebagai bahan bakar kendaraan dan kegiatan usaha dinilai mampu menekan biaya energi. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Subholding...

WKS Jadi Contoh Penanganan Karhutla Gambut, Wamen LH Minta Perusahaan di Jambi Ikut Bangun Sekat Kanal

Ecobiz.asia — Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono menilai penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut...

PHE Raih Impact Masters Awards 2026, Perkuat Komitmen Pemberdayaan Masyarakat

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, meraih Impact Masters Awards 2026 dalam ajang Investortrust CSR Awards 2026 sebagai apresiasi atas...

TOP STORIES

Riau Moves to Register 2.6 Million-Hectare Forest Carbon Program Under ART-TREES

Ecobiz.asia — Indonesia’s Ministry of Forestry has backed Riau province’s plan to develop a jurisdictional forest carbon program under the ART-TREES standard, allowing the...

Singapore Opens Second-Stage Tender to Buy at Least 12 Million Article 6 Carbon Credits

Ecobiz.asia — Singapore has opened the second stage of a selective tender to procure at least 12 million internationally transferred mitigation outcomes (ITMOs) under...

Elnusa Realisasikan 35% CAPEX Rp602 Miliar hingga Semester I 2026

Ecobiz.asia -- PT Elnusa Tbk (ELSA), perusahaan jasa energi dan migas yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, telah merealisasikan sekitar 35% dari anggaran belanja...

Dapat Dukungan Kemenhut, Riau Mantap Masuk Pasar Karbon Yurisdiksi ART-TREES

Ecobiz.asia - Provinsi Riau mulai memasuki tahap baru pengembangan kredit karbon hutan berbasis yurisdiksi setelah menyelesaikan konsep Green for Riau dan memperoleh dukungan pemerintah...

Pasar Karbon Indonesia Mulai Cari Talenta Baru, IDCTA Youth Gelar Carbon Youth Week 2026

Ecobiz.asia — Perkembangan pasar karbon Indonesia mulai menciptakan kebutuhan baru terhadap sumber daya manusia yang memahami tidak hanya isu perubahan iklim, tetapi juga mekanisme...