PLN EPI Kembangkan Gasifikasi Biomassa, Karimun Jadi Proyek Percontohan Dedieselisasi

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengembangkan gasifikasi biomassa sebagai solusi percepatan program dedieselisasi, khususnya di wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik interkoneksi.

Langkah ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan PT Karimun Power Plant (KPP) untuk pengembangan bisnis syngas berbasis biomassa pada Senin (6/4/2026) di Jakarta.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan pemanfaatan biomassa menjadi bagian dari pembangunan ekosistem energi baru terbarukan (EBT) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Potensi biomassa nasional mencapai sekitar 80 juta ton, namun baru dimanfaatkan sekitar 20 juta ton, sehingga masih terdapat peluang besar untuk mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Read also:  GDE-Danareksa Kolaborasi Dorong Kawasan Industri Hijau Berbasis Energi Panas Bumi

Menurutnya, pengembangan biomassa tidak hanya difokuskan pada cofiring di PLTU, tetapi juga melalui gasifikasi yang menghasilkan syngas dan dapat dimanfaatkan pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) maupun sistem kelistrikan terisolasi.

“Gasifikasi biomassa menjadi solusi bagi daerah yang masih bergantung pada solar, karena dapat menekan biaya energi sekaligus mengurangi emisi,” kata Hokkop.

Ia menambahkan, keterbatasan desain PLTU dan kesiapan infrastruktur menjadi tantangan dalam penyerapan biomassa melalui cofiring, sehingga diversifikasi pemanfaatan melalui gasifikasi menjadi langkah strategis.

Read also:  Elnusa Raih Skor ACGS 96,66, Lampaui Rata-rata Emiten Big Cap Indonesia

Sebagai tahap awal, PLN EPI bersama KPP akan mengembangkan proyek percontohan di Karimun. Saat ini, fasilitas yang ada memiliki kapasitas biomassa sekitar 1 MW dan berpotensi ditingkatkan menjadi 2 hingga 5 MW.

Direktur PT Karimun Power Plant, Arthur Palupessy, mengatakan tantangan utama dalam pengembangan biomassa adalah kepastian harga dan pasokan bahan baku.

“Kebutuhan biomassa untuk pembangkit 1 MW dapat mencapai sekitar 35 ton per hari, sehingga diperlukan rantai pasok jangka panjang yang stabil,” ujarnya.

Read also:  PLN IP Services Gandeng TMAI Kembangkan PLTS untuk Percepat Transisi Energi

Sementara itu, Direktur Utama PT BEST YPK, Lutfi Nazi, menyebut terdapat sedikitnya delapan titik potensi biomassa di Indonesia, termasuk di Kepulauan Riau dan Sulawesi, yang dapat dikembangkan untuk mendukung elektrifikasi wilayah terpencil.

Melalui kerja sama ini, PLN EPI akan berperan sebagai agregator dan pengembang ekosistem biomassa, mencakup pemetaan sumber bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, penyediaan teknologi gasifikasi, hingga distribusi syngas.

Model pengembangan ini ditargetkan dapat direplikasi di sekitar 200 lokasi PLTD di Indonesia guna menekan konsumsi solar dan mempercepat transisi energi nasional. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Blackout Sumatra, PLN Sampaikan Progres Pemulihan Kelistrikan Pascagangguan Akibat Cuaca Buruk

Ecobiz.asia – PT PLN (Persero) menyampaikan progres pemulihan sistem kelistrikan di Sumatra pascagangguan pada jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kilovolt...

Blackout Sumatra, PLN: Pemulihan PLTU Butuh Waktu Lebih Lama Dibanding Hidro dan Gas

Ecobiz.asia – PT PLN (Persero) menyebut proses pemulihan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara membutuhkan waktu lebih lama dibanding pembangkit hidro...

PHE, ExxonMobil dan SK Group Kaji Proyek CCS Lintas Batas Indonesia-Korea Selatan

Ecobiz.asia – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bersama ExxonMobil Low Carbon Solutions Indonesia Limited, SK Innovation, dan SK Earthon menandatangani Joint Study Agreement (JSA)...

Dukung Pengembangan Amonia Rendah Karbon, PGN Garap Studi CCS dan Transportasi CO2

Ecobiz.asia - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) memperkuat langkah transisi energi melalui pengembangan ekosistem Carbon Capture and Storage (CCS) dan transportasi CO2 untuk...

KAI Group Luncurkan Pengelolaan Sampah Terintegrasi, Stasiun Gambir Jadi Percontohan

Ecobiz.asia – KAI Group meluncurkan program Waste Management Terintegrasi dengan Stasiun Gambir sebagai proyek percontohan pengelolaan sampah modern di kawasan transportasi publik. Kementerian Lingkungan...

TOP STORIES

Indonesia Prepares Energy Sector Carbon Trading Rules, Targets Up to US$7.7 Billion in Green Financing

Ecobiz.asia — Indonesia’s Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM) is preparing new regulations for carbon trading in the energy sector as part of...

TuK Indonesia Soroti Minimnya Partisipasi Publik dalam Revisi POJK Keuangan Berkelanjutan, Desak Pencegahan Greenwashing

Ecobiz.asia — Transformasi untuk Keadilan Indonesia (TuK Indonesia) mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat perlindungan hak asasi manusia (HAM) dan pengawasan praktik greenwashing dalam...

Penguasaan Kehutanan yang Kedodoran

Oleh: Pramono Dwi Susetyo (Pernah Bekerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Penulis Buku Seputar Hutan dan Kehutanan, dan Membangun Hutan Menjaga Lingkungan) Ecobiz.asia...

Siapkan Generasi Energi Bersih, Pertamina NRE Kenalkan Perdagangan Karbon di PGTC 2026

Ecobiz.asia – Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) memperkenalkan konsep perdagangan karbon kepada mahasiswa dalam ajang Pertamina Goes to Campus (PGTC) 2026 di...

Kementerian ESDM Siapkan Regulasi Perdagangan Karbon Sektor Energi, Incar Pendanaan Potensial US$7,7 Miliar

Ecobiz.asia – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan regulasi perdagangan karbon sektor energi melalui penyusunan Rancangan Peraturan Menteri (RPermen) ESDM tentang...