Menjaga Mangrove, Mengangkat Ekonomi: Jejak Program Medco Energi Mendorong Kemandirian Masyarakat Pesisir

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Di tepian hutan mangrove Desa Langir, Kepulauan Anambas, aroma asin laut dan dengung lebah tanpa sengat berpadu menjadi simbol babak baru kehidupan masyarakat pesisir. Di antara akar-akar mangrove yang menjulang, berdirilah keramba ketam bakau dan stup-stup kecil madu kelulut hasil karya warga Langir yang kini belajar mengelola alam tanpa merusaknya.

Semua momentum itu lahir dari program SUAR (Scaling-Up Anambas Rural Smallholder), sebuah inisiatif Medco E&P Natuna Ltd. yang sejak 2024 menyatu dalam denyut nadi masyarakat pesisir. Program ini memperkenalkan model pemberdayaan berbasis konservasi, menjadikan mangrove bukan sekadar benteng alam, tetapi juga sumber ekonomi baru yang ramah lingkungan.

Dari seluruh peserta program, mungkin tidak ada yang perjalanannya lebih dramatis dan inspiratif daripada Syambudi (34 tahun), seorang honorer yang kehilangan pendapatan akibat efisiensi anggaran pemerintah.

Keputusasaannya berubah menjadi harapan saat ia memutuskan mengikuti pelatihan budidaya lebah kelulut atau lebah madu tanpa sengat yang dalam bahasa Langir dikenal sebagai Peket. Sebelumnya, Peket hanya dikenal sebagai obat sariawan tradisional. Tak satu pun warga yang menganggapnya sebagai komoditas ekonomi.

Read also:  Dairi Prima Mineral Targetkan Konstruksi Tambang Bawah Tanah Dimulai Kuartal I-2027
Madu lebah Peket produksi Syambudi.

Dari pelatihan itu, Syambudi mempelajari banyak hal tentang peket, mulai dari mengenali jenis dan perilaku lebah, struktur sarang, hingga cara mengelola hama, penyakit, madu, serta teknik induksi koloni.

Induksi lebah adalah proses memasukkan lebah, baik pekerja maupun ratu, ke dalam koloni baru untuk tujuan budi daya, pengembangbiakan, atau memperkuat koloni yang lemah. Tahapan ini sangat penting karena menentukan produktivitas dan keberlangsungan hidup koloni.

Wawasannya pun terbuka lebar. Dari lebah kecil itu, kini ia bisa memanen madu. Hasilnya tidak butuh waktu lama untuk terlihat. Antara April–Oktober 2025, ia berhasil menjual 71 botol madu senilai Rp3,5 juta dan berhasil melakukan induksi enam koloni baru dengan nilai ekonomi setara Rp4,8 juta.

Kini, halaman rumahnya menjadi tempat belajar bagi warga dan bahkan menarik kunjungan wisatawan. Usaha peket yang digelutinya dinilai sebagai “simbol kemandirian”.

Syambudi pun berharap ke depannya akan semakin banyak warga yang mau mengikut jejak dirinya membudidaya lebah sambil menjaga mangrove.

“Kalau untuk saat ini kan orang banyak belum sadar bahwa kalau peket ini bisa dibudidaya dan sekaligus bisa menjaga mangrove,” kata Budi kepada Ecobiz.asia, di sela-sela festival Pojok UMKM 2025 yang digagas Medco Energi di The Energy Building, Jakarta, Kamis (11/12/2025).

Read also:  PHM Ubah Limbah Makanan Menjadi Pendorong Ekonomi Sirkular di Pesisir Kalimantan Timur

Namun, dia pun cukup bangga karena beberapa masyarakat mulai sadar tarkait hal itu.”Sekarang banyak masyarakat menanam mangrove lagi di sekeliling rumahnya, kalau dulu mangrove malah biasa ditebang untuk dijadikan kayu bakar,” kata Syambudi. “Jadi setelah adanya program ini, semoga semakin banyak yang bisa ikut gabung dengan kami, ikut membudidaya Peket melalui sarana Mangrove,” harap Syambudi.

Program SUAR hanyalah satu bagian dari komitmen besar Medco Energi di ranah pemberdayaan masyarakat. Awal Desember 2025, upaya itu ditampilkan di Festival Pojok UMKM 2025 di Jakarta, ajang tahunan yang menghadirkan 22 UMKM binaan dari seluruh aset operasi Medco Energi.

Dibuka oleh Direktur Utama MedcoEnergi Hilmi Panigoro, festival ini menjadi bukti bahwa pendampingan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga mencakup akses permodalan, pemasaran, hingga jejaring bisnis modern. Produk-produk dari Natuna termasuk Madu Kelulut Desa Langir dan Ikan Bilis Hijau ikut dipamerkan bersama beragam produk unggulan dari Malaka, Sampang, Grissik, dan wilayah operasi lain. “UMKM yang kuat adalah fondasi ekonomi rakyat,” tegas Hilmi.

Read also:  Perta Daya Gas Perkuat Infrastruktur Gas untuk Dukung Ketahanan Energi Nasional

Selama tiga hari, pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan pelaku UMKM yang menampilkan berbagai produk unggulan seperti Gula Aren Siwalan, Telur Asin Booster Farm (Sampang), Ikan Bilis Hijau dan Madu Kelulut (Natuna), Minuman Serbuk Herbal dan Beras Organik (Malaka), Madu Hutan, Minuman Lemon Sereh, Keripik Singkong Anggun, hingga Sambal Salai Gabus (Grissik).

Sementara itu VP Relations & Security MedcoEnergi, Arif Rinaldi, menyampaikan bahwa kolaborasi menjadi kunci agar UMKM makin berkembang.

“UMKM memiliki peran penting dalam meningkatkan pendapatan masyarakat serta menggerakkan ekonomi daerah. Melalui festival ini, kami membangun ruang kolaborasi antara pelaku UMKM, pemerintah, dan pemangku kepentingan agar UMKM dapat naik kelas,” ujar Arif.

Melalui Festival Pojok UMKM, MedcoEnergi memperkuat komitmennya dalam menciptakan multiplier effect yang lebih luas melalui program pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi dengan prinsip keberlanjutan perusahaan. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Dua Bulan Beroperasi, DSI Petakan Ekspor Komoditas Strategis Senilai US$14 Miliar

Ecobiz.asia — PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI telah membangun visibilitas atas sekitar 6.500 deklarasi ekspor komoditas strategis dengan nilai lebih dari US$14...

PGN Gagas Perluas Akses Gas Bumi di Yogya Lewat Skema CNG

Ecobiz.asia -- Keterbatasan jaringan pipa gas bumi mendorong PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui anak usahanya PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) memperluas...

PGN Dorong Pemanfaatan Jargas sebagai Penggerak Ekonomi Masyarakat Sleman

Ecobiz.asia -- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) terus mengoptimalkan pemanfaatan jaringan gas bumi (jargas) di Sleman, Yogyakarta, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah...

PHE Dorong Percepatan Ekosistem Natural Hydrogen untuk Perkuat Ketahanan Energi Indonesia

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong percepatan pengembangan natural hydrogen di Indonesia sebagai salah satu sumber energi masa depan...

PGN Gagas Ajukan Tambahan Alokasi Gas CNG hingga 30 BBTUD untuk Periode 2026-2030

Ecobiz.asia -- PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), mengajukan tambahan alokasi gas bumi untuk kebutuhan compressed...

TOP STORIES

Gold Standard, Verra Launch Tool for Article 6.2 Reporting

Ecobiz.asia – Gold Standard and Verra have launched a new tool to help countries report corresponding adjustments (CAs) for carbon credits authorized under Article...

Prabowo Launches 100 GW Solar Program, Sets Three-Year Deadline

Ecobiz.asia — Indonesia has launched a national program to develop 100 gigawatts peak (GWp) of solar power capacity, with an estimated investment of about...

Prabowo Mulai Program PLTS 100 GWp, Sesumbar Rampung dalam Tiga Tahun

Ecobiz.asia — Pemerintah resmi memulai program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt peak (GWp) dengan nilai investasi sekitar US$73 miliar...

Revisi Aturan Pengelolaan Hutan, Organisasi Masyarakat Sipil Soroti Penguatan KPH hingga Evaluasi Perizinan

Ecobiz.asia – Sebanyak 14 organisasi masyarakat sipil menyoroti sejumlah aspek tata kelola dalam revisi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 8 Tahun 2021...

Indonesia Sanctions Six Companies Over Forest Fires, Freezes One Permit

Ecobiz.asia – Indonesia's Ministry of Forestry has imposed administrative sanctions on six forest concession holders after inspections found forest and land fires across a...