Menjaga Mangrove, Mengangkat Ekonomi: Jejak Program Medco Energi Mendorong Kemandirian Masyarakat Pesisir

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Di tepian hutan mangrove Desa Langir, Kepulauan Anambas, aroma asin laut dan dengung lebah tanpa sengat berpadu menjadi simbol babak baru kehidupan masyarakat pesisir. Di antara akar-akar mangrove yang menjulang, berdirilah keramba ketam bakau dan stup-stup kecil madu kelulut hasil karya warga Langir yang kini belajar mengelola alam tanpa merusaknya.

Semua momentum itu lahir dari program SUAR (Scaling-Up Anambas Rural Smallholder), sebuah inisiatif Medco E&P Natuna Ltd. yang sejak 2024 menyatu dalam denyut nadi masyarakat pesisir. Program ini memperkenalkan model pemberdayaan berbasis konservasi, menjadikan mangrove bukan sekadar benteng alam, tetapi juga sumber ekonomi baru yang ramah lingkungan.

Dari seluruh peserta program, mungkin tidak ada yang perjalanannya lebih dramatis dan inspiratif daripada Syambudi (34 tahun), seorang honorer yang kehilangan pendapatan akibat efisiensi anggaran pemerintah.

Keputusasaannya berubah menjadi harapan saat ia memutuskan mengikuti pelatihan budidaya lebah kelulut atau lebah madu tanpa sengat yang dalam bahasa Langir dikenal sebagai Peket. Sebelumnya, Peket hanya dikenal sebagai obat sariawan tradisional. Tak satu pun warga yang menganggapnya sebagai komoditas ekonomi.

Read also:  Ceria Corp Alirkan Air ke Sawah Terdampak Kemarau di Kolaka, Perkuat Sarana Pengairan
Madu lebah Peket produksi Syambudi.

Dari pelatihan itu, Syambudi mempelajari banyak hal tentang peket, mulai dari mengenali jenis dan perilaku lebah, struktur sarang, hingga cara mengelola hama, penyakit, madu, serta teknik induksi koloni.

Induksi lebah adalah proses memasukkan lebah, baik pekerja maupun ratu, ke dalam koloni baru untuk tujuan budi daya, pengembangbiakan, atau memperkuat koloni yang lemah. Tahapan ini sangat penting karena menentukan produktivitas dan keberlangsungan hidup koloni.

Wawasannya pun terbuka lebar. Dari lebah kecil itu, kini ia bisa memanen madu. Hasilnya tidak butuh waktu lama untuk terlihat. Antara April–Oktober 2025, ia berhasil menjual 71 botol madu senilai Rp3,5 juta dan berhasil melakukan induksi enam koloni baru dengan nilai ekonomi setara Rp4,8 juta.

Kini, halaman rumahnya menjadi tempat belajar bagi warga dan bahkan menarik kunjungan wisatawan. Usaha peket yang digelutinya dinilai sebagai “simbol kemandirian”.

Syambudi pun berharap ke depannya akan semakin banyak warga yang mau mengikut jejak dirinya membudidaya lebah sambil menjaga mangrove.

“Kalau untuk saat ini kan orang banyak belum sadar bahwa kalau peket ini bisa dibudidaya dan sekaligus bisa menjaga mangrove,” kata Budi kepada Ecobiz.asia, di sela-sela festival Pojok UMKM 2025 yang digagas Medco Energi di The Energy Building, Jakarta, Kamis (11/12/2025).

Read also:  Pemerintah Targetkan 1 Juta Sambungan Jargas hingga 2028

Namun, dia pun cukup bangga karena beberapa masyarakat mulai sadar tarkait hal itu.”Sekarang banyak masyarakat menanam mangrove lagi di sekeliling rumahnya, kalau dulu mangrove malah biasa ditebang untuk dijadikan kayu bakar,” kata Syambudi. “Jadi setelah adanya program ini, semoga semakin banyak yang bisa ikut gabung dengan kami, ikut membudidaya Peket melalui sarana Mangrove,” harap Syambudi.

Program SUAR hanyalah satu bagian dari komitmen besar Medco Energi di ranah pemberdayaan masyarakat. Awal Desember 2025, upaya itu ditampilkan di Festival Pojok UMKM 2025 di Jakarta, ajang tahunan yang menghadirkan 22 UMKM binaan dari seluruh aset operasi Medco Energi.

Dibuka oleh Direktur Utama MedcoEnergi Hilmi Panigoro, festival ini menjadi bukti bahwa pendampingan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga mencakup akses permodalan, pemasaran, hingga jejaring bisnis modern. Produk-produk dari Natuna termasuk Madu Kelulut Desa Langir dan Ikan Bilis Hijau ikut dipamerkan bersama beragam produk unggulan dari Malaka, Sampang, Grissik, dan wilayah operasi lain. “UMKM yang kuat adalah fondasi ekonomi rakyat,” tegas Hilmi.

Read also:  PDC Perkuat Usaha Tempe Santri di Indramayu, Produksi Tembus 3 Ton per Bulan dan Pasok MBG

Selama tiga hari, pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan pelaku UMKM yang menampilkan berbagai produk unggulan seperti Gula Aren Siwalan, Telur Asin Booster Farm (Sampang), Ikan Bilis Hijau dan Madu Kelulut (Natuna), Minuman Serbuk Herbal dan Beras Organik (Malaka), Madu Hutan, Minuman Lemon Sereh, Keripik Singkong Anggun, hingga Sambal Salai Gabus (Grissik).

Sementara itu VP Relations & Security MedcoEnergi, Arif Rinaldi, menyampaikan bahwa kolaborasi menjadi kunci agar UMKM makin berkembang.

“UMKM memiliki peran penting dalam meningkatkan pendapatan masyarakat serta menggerakkan ekonomi daerah. Melalui festival ini, kami membangun ruang kolaborasi antara pelaku UMKM, pemerintah, dan pemangku kepentingan agar UMKM dapat naik kelas,” ujar Arif.

Melalui Festival Pojok UMKM, MedcoEnergi memperkuat komitmennya dalam menciptakan multiplier effect yang lebih luas melalui program pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi dengan prinsip keberlanjutan perusahaan. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

NHM-Perhapi Maluku Utara Perkuat Link and Match Pendidikan dan Industri Tambang

Ecobiz.asia – PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) menggandeng Student Chapter Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Provinsi Maluku Utara untuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan tinggi...

PGN Pangkas Emisi 29.575 Ton CO₂eq, Andalkan Dekarbonisasi untuk Efisiensi Biaya

Ecobiz.asia -- PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, mencatat penurunan emisi sebesar 29.574,87 ton karbon dioksida ekuivalen (tCO₂eq) hingga Agustus...

Xurya Soroti Kesiapan Teknologi dan SDM untuk Kejar Target PLTS 100 GWp

Ecobiz.asia — Target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) dalam tiga tahun ke depan tidak hanya membutuhkan percepatan konstruksi,...

Agrinas Palma, Fauji Foundation Jajaki Investasi Sawit Terintegrasi 200.000 Hektare

Ecobiz.asia -- PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menjajaki kerja sama dengan Fauji Foundation dari Pakistan untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit terintegrasi seluas 200.000 hektare...

PDC Raih Dua Penghargaan Anugerah Humas Indonesia 2026 lewat Website Karir dan Buletin Binar

Ecobiz.asia – PT Patra Drilling Contractor (PDC) meraih dua penghargaan dalam Anugerah Humas Indonesia 2026 melalui Website Karir PDC dan buletin internal Binar, masing-masing...

TOP STORIES

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

NHM-Perhapi Maluku Utara Perkuat Link and Match Pendidikan dan Industri Tambang

Ecobiz.asia – PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) menggandeng Student Chapter Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Provinsi Maluku Utara untuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan tinggi...

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...

Pertamina Uji Teknologi PertaPURE, Bidik Pemanfaatan Kembali Air Terproduksi pada Operasi Migas

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menguji teknologi PertaPURE untuk mengolah air terproduksi (produced water) dari kegiatan produksi...

Menjelang Pemberlakuan EUDR: Seberapa Siap Indonesia?

Oleh: Diah Suradiredja (Pemerhati perdagangan komoditas berkelanjutan dan berkeadilan) Ecobiz.asia - European Union Deforestation Regulation atau EUDR segera memasuki tahap penerapan. Regulasi ini berlaku bagi operator...