KLH Gelar Karpet Merah Investasi Hijau PSEL, Janjikan Sederet Insentif

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyiapkan karpet merah bagi investasi hijau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) dengan menjanjikan sejumlah insentif seperti perizinan terpadu lintas kementerian, insentif investasi, serta solusi impor perangkat teknologi guna mempercepat realisasi proyek di lapangan.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq mengatakan pemerintah telah mengintegrasikan sistem perizinan PSEL bersama Kementerian Investasi/BKPM, sekaligus menyiapkan mekanisme pengelolaan aset yang transparan untuk menjamin kepastian usaha.

“Kami menyiapkan perizinan terpadu dan ruang inovasi, termasuk solusi impor perangkat teknologi agar operasional PSEL tidak terhambat. Ini adalah investasi hijau yang kami kawal serius,” kata Hanif di Jakarta, Selasa (17/12/2025).

Read also:  Karhutla, Kemenhut Kembali Sanksi Administratif Lima Perusahaan PBPH

Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang menargetkan pengelolaan sampah nasional 100 persen pada 2029 melalui percepatan pembangunan PSEL berbasis aglomerasi wilayah. Pemerintah menilai pendekatan lintas daerah diperlukan agar proyek memiliki skala ekonomi yang memadai.

Percepatan PSEL diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas yang melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, KLH/BPLH, Kementerian Investasi/BKPM, serta Danantara.

Dalam rapat tersebut, pemerintah menyepakati pengembangan PSEL dalam dua tahap. Setelah tahap awal di Bogor Raya, Denpasar Raya, dan Tangerang Raya, tahap kedua mencakup Surabaya Raya, Lampung Raya, dan Serang Raya.

Read also:  Orangutan Mati Terpapar Asap Karhutla, Paru-paru Alami Kerusakan

Hanif menjelaskan skema aglomerasi mensyaratkan timbulan sampah minimal 1.000 ton per hari untuk menjamin keekonomian proyek. Salah satu contoh penerapan skema ini direncanakan di Lampung dengan kebutuhan lahan sekitar 20 hektare.

Minat investor terhadap program PSEL Indonesia juga datang dari berbagai negara. Chief Investment Officer Danantara Pandu Patria Sjahrir menyebut proyek PSEL Indonesia mendapat respons luas dari komunitas global, termasuk dari kawasan Timur Tengah, China, Jepang, dan puluhan negara lain yang telah lolos tahap kualifikasi awal.

Read also:  KPH Diarahkan Jadi “Konduktor” Pengelolaan Hutan di Tingkat Tapak

Pemerintah memproyeksikan fasilitas PSEL akan menjadi tulang punggung sistem pengelolaan sampah nasional yang terintegrasi dengan TPS 3R dan TPST RDF. Dengan kapasitas pengolahan sekitar 14.000 ton sampah per hari, PSEL ditargetkan menyerap hampir 10 persen timbulan sampah nasional pada 2029.

KLH/BPLH menyatakan percepatan PSEL tidak hanya ditujukan untuk menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga mendorong ekonomi sirkular, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan bauran energi terbarukan, dengan tempat pembuangan akhir hanya menerima residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan kembali. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Menhut Raja Juli Kembali Cabut Izin Lima PBPH Terkait Karhutla, Sebut Perintah Prabowo

Ecobiz.asia — Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni kembali mencabut izin usaha lima perusahaan yang berada di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah sebagai...

WWF-Indonesia dan CPOPC Jalin Kerja Sama Penguatan Transparansi Rantai Pasok Sawit Berkelanjutan

Ecobiz.asia - WWF-Indonesia dan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) sepakat menjalin kemitraan strategis untuk memperkuat sistem komoditas berkelanjutan sekaligus meningkatkan pengakuannya di...

Prabowo Instruksikan Persiapan BBM E50, Susul Penerapan B50

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pemerintah segera menyiapkan langkah konkret untuk mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) campuran bioetanol 50% atau E50 di Indonesia. Menteri...

Pantauan Karhutla Kemenhut: Hotspot Kalteng dan Kalbar Turun Tajam, Sumsel Malah Naik

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional turun 400 titik menjadi 1.037 titik hingga Selasa (15/9/2026) malam....

B50 Sudah Mengalir di 94% SPBU, Pemerintah Kejar Deadline Transisi 1 Oktober

Ecobiz.asia — Implementasi biodiesel 50% atau B50 telah menjangkau 6.050 dari 6.412 SPBU di seluruh Indonesia atau sekitar 94%. Pemerintah kini mengejar penyelesaian transisi...

TOP STORIES

AFD-Backed Roadmap Seeks to Unlock Investment in Indonesia’s Blue Carbon Ecosystems

Ecobiz.asia – Indonesia has launched a 2026–2045 roadmap for protecting and managing its blue carbon ecosystems, with French development agency Agence Française de Développement...

PHI Raih Tujuh Penghargaan IABC Indonesia Awards 2026

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) meraih tujuh penghargaan dalam ajang International Association of Business Communicators (IABC) Indonesia Awards 2026, sebagai bentuk apresiasi...

Pertamina Drilling Kelola 58 Rig, Bidik National Champion Well Construction

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) tak ingin hanya dikenal sebagai perusahaan yang mengelola armada pengeboran besar. Dengan 58 rig yang...

MedcoEnergi Catat Kinerja Solid pada Semester I 2026

Ecobiz.asia -- PT Medco Energi Internasional Tbk (”MedcoEnergi” atau ”Perseroan”) mengumumkan laporan keuangan untuk semester pertama tahun 2026 yang telah diaudit pada hari ini....

Bappenas Luncurkan Peta Jalan Karbon Biru 2026–2045, Dorong Investasi dan Perlindungan Ekosistem Pesisir

Ecobiz.asia – Kementerian PPN/Bappenas meluncurkan Peta Jalan Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karbon Biru Indonesia 2026–2045 sebagai panduan integrasi pengelolaan ekosistem pesisir dan laut ke...