Inisiatif BRI China Berpotensi Jadi Kunci Pembiayaan Iklim Indonesia, Ini Alasannya

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kolaborasi antara Indonesia dan China dinilai memiliki potensi besar untuk mempercepat aksi mitigasi perubahan iklim di Indonesia, terutama dalam sektor energi terbarukan dan tata kelola hutan yang berkelanjutan. 

Dalam diskusi daring bertajuk “Mendorong Kolaborasi Selatan-Selatan dalam Aksi Iklim: Menjajaki Kemitraan China dan Indonesia”, Kamis (8/5/2025), dibahas pentingnya memanfaatkan pembiayaan iklim dari China sebagai bagian dari program Belt and Road Initiative (BRI).

“Berefleksi pada keberhasilan China dalam melampaui target 1200 GW energi terbarukan, Indonesia perlu lebih ambisius dalam targetnya. NDC Kedua harus menargetkan 40 GW kapasitas energi terbarukan pada 2030,” ujar Saffanah R Azzahrah, peneliti dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL).

Read also:  B50 Sudah Mengalir di 94% SPBU, Pemerintah Kejar Deadline Transisi 1 Oktober

Baca juga: Data Potensi Transparan, Tingkatkan Daya Tarik Investasi Proyek Energi terbarukan

China saat ini menjadi negara donor terbesar di Asia Tenggara dalam inisiatif BRI, dengan proyeksi total pembiayaan untuk Indonesia antara USD 14,7 hingga 65,1 miliar selama periode 2024–2030. Sebagian besar dana tersebut dinilai bisa diarahkan untuk mendukung transisi energi bersih di Indonesia.

Read also:  Ekonomi Hijau Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Indonesia, Potensi Serap 5,3 Juta Lapangan Kerja

Tata Mustasya, Direktur Eksekutif Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN), menambahkan bahwa investasi China dapat menutupi porsi signifikan dari kebutuhan pendanaan energi terbarukan Indonesia. Pemerintah diperkirakan membutuhkan dana hingga USD 146 miliar per tahun hingga 2030, sementara investasi di sektor ini masih jauh dari mencukupi.

Baca juga: Tinjau PLTS Terapung Cirata Menko IPK Dorong Pembangunan Infrastruktur Energi Terbarukan

Selain sektor energi, potensi kerja sama juga mencakup sektor kehutanan dan lahan. Woro Supartinah dari LPESM Riau menyoroti pentingnya memastikan agar investasi China mematuhi regulasi tata kelola hutan nasional dan daerah.

Read also:  Indonesia Sukses Swasembada Beras, Hashim Sebut Perluasan Sawah di Kawasan Hutan tak Lagi Diperlukan

“Praktik kehutanan yang belum berkelanjutan perlu ditransformasi, termasuk melalui kebijakan investasi hijau dan reformasi sistem pendukung industri kehutanan,” ujarnya.

Para pembicara sepakat bahwa kerja sama Indonesia-China perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan investasi, tetapi juga pada transformasi struktural demi pencapaian target iklim nasional yang lebih ambisius dan berkeadilan. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Geger! Tengkorak Diduga Orangutan Ditemukan di Areal Bernilai Konservasi Tinggi Kebun Sawit PT KAL

Ecobiz.asia – Tim gabungan lintas instansi mengevakuasi tengkorak yang diduga milik orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari areal bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) perkebunan...

Biaya dan Perizinan Jadi Tantangan Pengadaan Listrik Hijau bagi Industri Indonesia

Ecobiz.asia — Biaya listrik hijau dan kemudahan perizinan menjadi dua faktor utama yang memengaruhi keputusan perusahaan dalam mengakses energi terbarukan di Indonesia. Survei terhadap...

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

TOP STORIES

Geger! Tengkorak Diduga Orangutan Ditemukan di Areal Bernilai Konservasi Tinggi Kebun Sawit PT KAL

Ecobiz.asia – Tim gabungan lintas instansi mengevakuasi tengkorak yang diduga milik orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari areal bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) perkebunan...

PLTA Batang Toru Mulai Penggenangan, Siapkan Tambahan Kapasitas 510 MW

Ecobiz.asia -- Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mulai memasuki tahap penggenangan waduk...

Pertamina Dorong B50 untuk Kurangi Impor Solar dan Perkuat Ketahanan Energi

Ecobiz.asia -- PT Pertamina (Persero) mendorong diversifikasi sumber energi melalui pemanfaatan bahan bakar nabati, termasuk biodiesel B50, untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan...

Gold Standard Luncurkan Metodologi G-RESET, Perluas Akses Pembiayaan Karbon untuk Proyek Energi Terbarukan

Ecobiz.asia – Lembaga standar karbon Gold Standard meluncurkan metodologi Grid-Connected Renewables, Storage and Energy Transition (G-RESET) untuk memperluas akses sertifikasi kredit karbon bagi proyek...

Soroti Perdagangan Karbon, Wamenhut Bicara Soal Transformasi Ekonomi Kehutanan Saat Dies Natalis Fahutan UGM

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan mendorong transformasi ekonomi kehutanan dengan mengoptimalkan potensi biodiversitas dan jasa ekosistem, termasuk perdagangan karbon, untuk meningkatkan nilai ekonomi hutan sekaligus...