Ecobiz.asia — Pemerintah Indonesia resmi meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RENAKSI) Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karbon Biru 2025–2030 sebagai kerangka nasional untuk memperkuat kontribusi mangrove dan padang lamun terhadap pencapaian target iklim serta pembangunan pesisir berkelanjutan.
Dokumen RENAKSI menargetkan perlindungan dan pengelolaan sekitar 3,45 juta hektare mangrove dan 660 ribu hektare padang lamun, yang secara keseluruhan mewakili sekitar 17 persen cadangan karbon biru dunia.
Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Nani Hendiarti, menegaskan RENAKSI menjadi acuan nasional untuk memastikan pengelolaan karbon biru dijalankan secara terintegrasi dan berprinsip integritas tinggi.
“RENAKSI ini menyinergikan strategi implementasi dengan instrumen pendanaan yang inklusif, termasuk berbasis prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Dokumen ini akan ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas sektor untuk mempertajam 21 rencana aksi menjadi program prioritas yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Nani, dikutip Jumat (20/2/2026).
Peluncuran RENAKSI dilakukan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama Indonesia National Blue Carbon Action Partnership (NBCAP), sebuah wadah kolaborasi multipihak yang dikoordinasikan Kemenko Pangan untuk mempercepat penguatan tata kelola karbon biru nasional.
Dalam kemitraan tersebut, Konservasi Indonesia bertindak sebagai pengelola sekretariat NBCAP dan mendukung penguatan koordinasi, kemitraan, serta landasan teknis implementasi RENAKSI.
Peluncuran RENAKSI turut didukung oleh World Economic Forum dan British Embassy Jakarta, serta dihadiri lebih dari 150 pemangku kepentingan dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Kehadiran lintas sektor ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam menerjemahkan komitmen iklim ke dalam aksi nyata.
Pemerintah Inggris menyatakan dukungan terhadap implementasi RENAKSI 2025–2030 sebagai bagian dari penguatan kemitraan iklim Indonesia–Inggris, khususnya dalam melindungi cadangan karbon biru global untuk mendukung pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) dan FOLU Net Sink 2030.
Sementara itu, World Economic Forum menilai RENAKSI sebagai langkah strategis yang memperkuat posisi laut sebagai fondasi masa depan ekonomi Indonesia. WEF juga menempatkan Ocean Impact Summit 2026 di Bali sebagai momentum penting untuk mendorong investasi hijau dan memperluas kolaborasi ekonomi biru. ***




