Hilirisasi Bikin Pelaku Tambang Bauksit Tertekan, ABI Desak Penegakan HPM Secara Konsisten

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI) menyuarakan keprihatinan atas kondisi pelaku usaha tambang bauksit di berbagai daerah yang terpaksa menghentikan operasional akibat tidak ditegakkannya Harga Patokan Mineral (HPM) oleh sejumlah smelter dalam negeri.

Ketua Umum ABI, Ronald Sulistyanto, mengungkapkan bahwa meskipun pemerintah telah menetapkan HPM sebagai acuan resmi untuk menciptakan transaksi yang adil antara penambang dan pengusaha smelter, implementasi di lapangan masih jauh dari harapan.

Banyak pengusaha tambang terpaksa menjual bauksit di bawah harga patokan, bahkan menghentikan produksi karena harga jual tidak menutup biaya operasional.

Read also:  Pertamina Hulu Indonesia Perkuat Konservasi Orang Utan untuk Dukung Keberlanjutan Operasi Migas

“Pengusaha tambang tidak punya pilihan selain menahan produksi atau berhenti beroperasi karena harga jual yang tidak realistis. Ini mengancam keberlanjutan sektor hulu tambang,” ujar Ronald dalam pernyataan tertulis, Jumat (2/5/2025).

Kondisi ini berdampak serius di daerah penghasil bauksit seperti Kalimantan Barat, Riau, dan Kalimantan Tengah. Aktivitas ekonomi setempat menurun tajam, ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian, sementara kewajiban pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) seperti iuran tetap, reklamasi, PBB, hingga program CSR tetap harus dipenuhi.

Read also:  KPH Diarahkan Jadi “Konduktor” Pengelolaan Hutan di Tingkat Tapak

Baca juga: LG Batal Investasi Baterai EV, Aspebindo Serukan Peningkatan Kemandirian Hilirisasi Nasional

Ronald menegaskan bahwa pengolahan dan pemurnian (smelter) tidak akan dapat berjalan tanpa pasokan bahan baku yang stabil dari sektor hulu. Jika kondisi ini terus berlanjut, Indonesia yang memiliki cadangan bauksit melimpah justru bisa menghadapi risiko kekurangan bahan baku dan membuka pintu impor.

“Menghidupkan kembali tambang tidak bisa instan. Butuh waktu, modal, dan kepastian harga. Karena itu HPM harus ditegakkan. Pemerintah harus hadir sebagai wasit yang tegas dan adil,” tegasnya.

Read also:  El Nino Memuncak September, Ini Lima Jurus Kemenhut Tekan Karhutla

Baca juga: Hilirisasi dan Industrialisasi Mineral Mampu Wujudkan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

ABI menolak wacana kelonggaran ekspor atau kebijakan baru yang berpotensi merusak roadmap hilirisasi. Sebaliknya, Ronald menyerukan agar kebijakan hilirisasi tetap dijalankan secara konsisten dan berkeadilan bagi seluruh pelaku usaha, termasuk usaha kecil dan menengah yang kini paling terdampak.

“Jika smelter ingin tumbuh dan berkembang, tambang harus diberi ruang bernafas melalui harga jual yang layak,” tutup Ronald.

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

Ecobiz.asia -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia menindaklanjuti hasil...

Karhutla, Kemenhut Kembali Sanksi Administratif Lima Perusahaan PBPH

Ecobiz.asia - – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) kembali menjatuhkan sanksi administratif kepada lima perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Kalimantan Barat setelah ditemukan...

KLH Bangun Ekosistem Pengelolaan Limbah Baterai Mobil Listrik, Timbulan Diproyeksi Memuncak 2040

Ecobiz.asia — Ledakan penggunaan kendaraan listrik berpotensi menghadirkan persoalan baru: gunungan baterai bekas. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memperkirakan timbulan limbah baterai kendaraan listrik akan...

Sungai Mengering, Ketergantungan Batu Bara Dinilai Perparah Krisis Iklim di Kalimantan

Ecobiz.asia -- Kekeringan dan pendangkalan sejumlah sungai besar di Kalimantan di tengah fenomena El Niño menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali ketergantungan Indonesia...

KLH/BPLH Perluas Jejaring Internasional Lawan Sindikat Kejahatan Lingkungan

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat penegakan hukum dan memperluas kerja sama internasional untuk membongkar jaringan kejahatan lingkungan yang semakin...

TOP STORIES

Singapura-Laos Sepakati Perdagangan Kredit Karbon, Atur Mekanisme Corresponding Adjustment

Ecobiz.asia — Singapura dan Laos menandatangani perjanjian implementasi untuk membangun kerangka kerja yang mengikat secara hukum bagi kerja sama kredit karbon berdasarkan Pasal 6...

Pemanasan Global Diprediksi Lampaui 1,5°C, UNEP Peringatkan Bahaya Perubahan Iklim

Ecobiz.asia – Dunia diperkirakan akan melampaui ambang pemanasan global 1,5°C dalam beberapa tahun ke depan. Namun, peluang untuk menekan kenaikan suhu dan mengembalikannya ke...

Singapore, Laos Sign Carbon Credit Deal, Set Corresponding Adjustment Mechanism

Ecobiz.asia — Singapore and Laos have signed an implementation agreement to establish a legally binding framework for carbon credit collaboration under Article 6 of...

UNEP: World Set to Cross 1.5°C Warming, Return Below Threshold Still Possible

Ecobiz.asia — Global temperatures are likely to exceed the 1.5°C warming threshold within the next few years, increasing climate risks and impacts, but the...

PLN Nusantara Power Perluas Bisnis di Luar Pembangkitan, Raih Dua Penghargaan Marketing 2026

Ecobiz.asia -- Transformasi bisnis PT PLN Nusantara Power (PLN NP) dalam mencari sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti pembangkitan mendapat pengakuan melalui dua...