Bayi Panda Pertama Lahir di Indonesia, Jadi Bukti Kolaborasi Konservasi Indonesia–Tiongkok

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kelahiran bayi panda raksasa pertama di Indonesia menjadi penanda keberhasilan kerja sama konservasi dan diplomasi lingkungan antara Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Peristiwa bersejarah ini diumumkan dalam Public Announcement The 1st Giant Panda Cub Born in Indonesia di Taman Safari Indonesia (TSI), di Bogor, Selasa (6/1/2025).

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan kelahiran bayi panda tersebut tidak sekadar kabar baik bagi dunia konservasi, tetapi juga bukti nyata kolaborasi ilmiah dan diplomasi lingkungan yang dibangun secara berkelanjutan oleh kedua negara.

Read also:  Panas Ekstrem Akibat Perubahan Iklim, Pangkas Produktivitas Pekerja Pertanian Indonesia

“Kelahiran bayi panda ini menegaskan bahwa konservasi dapat berjalan seiring dengan persahabatan antarnegara dan kemajuan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Raja Juli Antoni bersama Duta Besar RRT untuk Indonesia Wang Lutong, didampingi Pendiri Taman Safari Indonesia Jansen Manansang, meninjau bayi panda di Istana Panda, TSI.

Menhut menyebut momen tersebut bertepatan dengan usia 40 hari kelahiran bayi panda di Indonesia. “Ini adalah hari yang berbahagia,” katanya.

Bayi panda hasil pasangan Cai Tao (jantan) dan Hu Chun (betina) itu diberi nama Satrio Wiratama, dengan penulisan Mandarin Li Ao (里奥) dan nama panggilan Rio. Penamaan dilakukan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

Read also:  Panas Ekstrem Akibat Perubahan Iklim, Pangkas Produktivitas Pekerja Pertanian Indonesia

Menurut Raja Juli Antoni, nama tersebut memiliki makna kesatria, keberanian, kemuliaan, dan budi luhur.

Menhut juga menegaskan kehadiran panda raksasa di Indonesia merupakan buah kerja panjang lintas pemerintahan.

Upaya kerja sama konservasi panda telah dirintis sejak masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dilanjutkan pada era Presiden Joko Widodo dengan kedatangan induk panda pada 2017, hingga akhirnya membuahkan kelahiran bayi panda pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Read also:  Panas Ekstrem Akibat Perubahan Iklim, Pangkas Produktivitas Pekerja Pertanian Indonesia

Duta Besar RRT Wang Lutong menyampaikan bahwa kelahiran Satrio Wiratama telah dilaporkan kepada Presiden Tiongkok dan disambut dengan kebanggaan. Ia berharap bayi panda tersebut membawa keberhasilan dan keberuntungan bagi Indonesia.

Sementara itu, Pendiri Taman Safari Indonesia Group Jansen Manansang menyebut kelahiran bayi panda sebagai simbol keberhasilan konservasi di Indonesia.

Ia menegaskan TSI memprioritaskan empat aspek dalam program panda, yakni penguatan kerja sama ekologi internasional, integrasi lintas budaya, pengembangan riset dan teknologi lintas negara, serta dukungan bagi pengembangan industri berbasis konservasi. *** (Putra Rama Febrian)

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Panas Ekstrem Akibat Perubahan Iklim, Pangkas Produktivitas Pekerja Pertanian Indonesia

Ecobiz.asia – Tekanan panas ekstrem akibat perubahan iklim menyebabkan pekerja sektor pertanian di Indonesia kehilangan rata-rata 595,1 jam kerja sepanjang 2024. Kondisi tersebut dinilai...

Kemenko Pangan–WWF Dorong Reformasi Tata Kelola Sawit, Fokus pada Petani Swadaya

Ecobiz.asia – Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama WWF-Indonesia mendorong transformasi tata kelola kelapa sawit nasional dengan menitikberatkan pada peningkatan produktivitas dan penguatan peran petani...

Perluas Akses Masyarakat Kelola Hutan, Menhut Serahkan SK Perhutanan Sosial di NTB

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan menyerahkan enam Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial kepada kelompok masyarakat di Nusa Tenggara Barat, memberikan akses kelola kawasan hutan seluas...

Kemenhut–ICRAF Perbarui Kerja Sama, Dorong Implementasi Agroforestri

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan Republik Indonesia memperbarui kerja sama strategis dengan International Centre for Research in Agroforestry untuk mendorong implementasi agroforestri dalam pengelolaan hutan...

Gakkum Kehutanan Ungkap Perdagangan Sisik Trenggiling di Sintang, Barang Bukti 1,38 Kg Diamankan

Ecobiz.asia – Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Kalimantan berhasil mengungkap kasus perdagangan ilegal bagian satwa dilindungi berupa sisik Trenggiling di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Dalam operasi...

TOP STORIES

Kemenhut Tegaskan Hanya PBPH yang Berhak Ajukan Perdagangan Karbon di Konsesi Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan bahwa pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), bukan pengembang proyek (project developer), merupakan pihak yang berhak mengajukan permohonan...

Empat Tantangan Proyek Karbon Kehutanan, Fairatmos Siap Dampingi PBPH

Ecobiz.asia – Pengembangan proyek karbon di sektor kehutanan menghadapi sedikitnya empat tantangan utama, mulai dari persoalan status lahan, keterbatasan data karbon, tingginya biaya pengembangan...

PGN Garap Stranded Gas Lapangan Sengeti, Tambah Pasokan Gas Domestik

Ecobiz.asia – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) menyiapkan tambahan pasokan gas bumi dari Lapangan Sengeti sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi...

APHI Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Perusahaan Kehutanan Masuk ke Pasar Karbon

Ecobiz.asia – Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menjalankan program peningkatan kapasitas bagi perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) untuk mempercepat pengembangan proyek dan...

Agrotech Bioenergy dan Monsoon Carbon Jajaki Pengembangan Kredit Karbon Biogas di Malaysia dan Indonesia

Ecobiz.asia – Perusahaan energi terbarukan asal Malaysia, Agrotech Bioenergy Sdn Bhd, menggandeng pengembang proyek karbon Monsoon Carbon untuk menjajaki pengembangan proyek kredit karbon berbasis...