Bayi Panda Pertama Lahir di Indonesia, Jadi Bukti Kolaborasi Konservasi Indonesia–Tiongkok

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kelahiran bayi panda raksasa pertama di Indonesia menjadi penanda keberhasilan kerja sama konservasi dan diplomasi lingkungan antara Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Peristiwa bersejarah ini diumumkan dalam Public Announcement The 1st Giant Panda Cub Born in Indonesia di Taman Safari Indonesia (TSI), di Bogor, Selasa (6/1/2025).

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan kelahiran bayi panda tersebut tidak sekadar kabar baik bagi dunia konservasi, tetapi juga bukti nyata kolaborasi ilmiah dan diplomasi lingkungan yang dibangun secara berkelanjutan oleh kedua negara.

Read also:  Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia 2026, Rehabilitasi Mangrove Jadi Investasi Jangka Panjang

“Kelahiran bayi panda ini menegaskan bahwa konservasi dapat berjalan seiring dengan persahabatan antarnegara dan kemajuan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Raja Juli Antoni bersama Duta Besar RRT untuk Indonesia Wang Lutong, didampingi Pendiri Taman Safari Indonesia Jansen Manansang, meninjau bayi panda di Istana Panda, TSI.

Menhut menyebut momen tersebut bertepatan dengan usia 40 hari kelahiran bayi panda di Indonesia. “Ini adalah hari yang berbahagia,” katanya.

Bayi panda hasil pasangan Cai Tao (jantan) dan Hu Chun (betina) itu diberi nama Satrio Wiratama, dengan penulisan Mandarin Li Ao (里奥) dan nama panggilan Rio. Penamaan dilakukan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

Read also:  Kemenhut Dorong Perhutanan Sosial Berbasis Agroforestri untuk Swasembada Pangan

Menurut Raja Juli Antoni, nama tersebut memiliki makna kesatria, keberanian, kemuliaan, dan budi luhur.

Menhut juga menegaskan kehadiran panda raksasa di Indonesia merupakan buah kerja panjang lintas pemerintahan.

Upaya kerja sama konservasi panda telah dirintis sejak masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dilanjutkan pada era Presiden Joko Widodo dengan kedatangan induk panda pada 2017, hingga akhirnya membuahkan kelahiran bayi panda pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Read also:  Pertemuan APEC-EGILAT, Indonesia Tegaskan Penguatan SVLK dan Penegakan Hukum untuk Berantas Pembalakan Liar

Duta Besar RRT Wang Lutong menyampaikan bahwa kelahiran Satrio Wiratama telah dilaporkan kepada Presiden Tiongkok dan disambut dengan kebanggaan. Ia berharap bayi panda tersebut membawa keberhasilan dan keberuntungan bagi Indonesia.

Sementara itu, Pendiri Taman Safari Indonesia Group Jansen Manansang menyebut kelahiran bayi panda sebagai simbol keberhasilan konservasi di Indonesia.

Ia menegaskan TSI memprioritaskan empat aspek dalam program panda, yakni penguatan kerja sama ekologi internasional, integrasi lintas budaya, pengembangan riset dan teknologi lintas negara, serta dukungan bagi pengembangan industri berbasis konservasi. *** (Putra Rama Febrian)

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia 2026, Rehabilitasi Mangrove Jadi Investasi Jangka Panjang

Ecobiz.asia — Rehabilitasi mangrove menjadi investasi jangka panjang untuk perlindungan wilayah pesisir sekaligus penguatan ekonomi masyarakat. Demikian ditegaskan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan pentingnya...

Pertemuan APEC-EGILAT, Indonesia Tegaskan Penguatan SVLK dan Penegakan Hukum untuk Berantas Pembalakan Liar

Ecobiz.asia — Indonesia menegaskan komitmen memperkuat tata kelola perdagangan produk kehutanan legal melalui optimalisasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dan penguatan penegakan hukum pada...

TFCCA Salurkan Hibah 35 Juta Dolar AS, Dorong Konservasi Terumbu Karang Berbasis Masyarakat

Ecobiz.asia — Program Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) Siklus Pertama resmi digulirkan secara nasional, menandai dimulainya pelaksanaan hibah konservasi terumbu karang...

Bappenas–CSES Perkuat Kerja Sama Industri Sawit Rendah Emisi dan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Kementerian PPN/Bappenas dan Chinese Society of Environmental Sciences (CSES) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama pengembangan industri kelapa sawit rendah emisi dan...

Kemenhut Dorong Perhutanan Sosial Berbasis Agroforestri untuk Swasembada Pangan

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan mendorong optimalisasi perhutanan sosial berbasis agroforestri sebagai salah satu instrumen utama mendukung swasembada pangan nasional, dengan tetap menjaga kelestarian hutan...

TOP STORIES

Indonesia Belajar dari India, Tekan Biaya Pembangkitan PLTS hingga 3 Sen Dolar per kWH

Ecobiz.asia — Pemerintah Indonesia mempelajari pengalaman India dalam menekan biaya pembangkitan listrik tenaga surya sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi dan meningkatkan pemanfaatan...

Dorong Hilirisasi, Menteri Bahlil Mau Setop Ekspor Timah

Ecobiz.asia — Pemerintah membuka peluang penghentian ekspor timah mentah sebagai bagian dari penguatan agenda hilirisasi nasional guna mendorong transformasi ekonomi dan memperkuat basis industri...

Bekasi Darurat Sampah, Menteri LH Minta Warga Kelola Sampah Mulai dari Rumah

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan Kota Bekasi berada dalam kondisi darurat sampah seiring timbulan limbah harian yang mencapai 1.801 ton. Perubahan perilaku masyarakat menjadi...

Internalisasi Dampak Iklim dan Nilai Ekonomi Karbon Jadi Kunci Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan

Ecobiz.asia — Internalisasi dampak perubahan iklim dan pemanfaatan nilai ekonomi karbon dinilai semakin mendesak bagi perusahaan, seiring perubahan struktural ekonomi dan meningkatnya tuntutan regulasi...

Dorong Pengembangan Ekonomi Karbon, Atkarbonist Gandeng Sucofindo dan DMB Global

Ecobiz.asia — Asosiasi Penggiat Karbon dan Bisnis Berkelanjutan atau Atkarbonist menjalin kerja sama dengan PT Sucofindo dan PT Daya Mitra Bersama (DMB) Global untuk...